Place/Date/Time: Rumah ortu di Gresik (Green House)/201007/3:23am

Hati saya menjadi berbinar ketika Anas sms malam tadi, dia akan mengunjungi saya di Gresik. Secara dia masih mudik ke kampung halamannya di Solo. Selama seminggu penuh saya tidak bertemu dia. Libur lebaran ini memberi ruang bagi siapa saja untuk merekatkan hati dengan sanak famili, yang jauh maupun dekat. Karena menyambung tali silaturrahim membuat yang jauh secara fisik tetap menjadi dekat di hati.

Anas mengatakan bahwa kami berdua akan keliling kota kecil ini, saya yang harus menjadi pemandunya. Kemudian esok harinya bersama menuju Surabaya. Tentu dengan sepeda motor masing-masing.

Binaran hati saya itu bersambut, saat Anas datang tiba-tiba. Pagi itu saya sedang bermain dengan laptop di ruang tengah. Biasa, menyelesaikan sebuah tulisan. Namun suara berisik sepeda motor Anas bisa saya kenali meski saya berada dalam rumah, sedang dia masih di jalan gang depan. Saya berhenti mengetik sejenak, dan melihatnya masuk ke dalam garasi mobil yang kebetulan pagarnya terbuka. Padahal Anas sudah memberitahukan kedatangannya semalam tadi, tapi tetap saja saya masih surprised.

Motor keluaran tahun 97, yang sudah dipreteli dan dinaikkan gasnya itu boleh jadi lebih gesit daripada jenis motor yang lain. Motor itu selalu menjadi trademarknya setiap kali Anas menuju ke suatu tempat. Untuk memastikan Anas ada di tempat itu, lihat saja, apa motornya ada di parkiran atau tidak. Ketika motornya sempat ‘ngamar’, semua orang di kampus jadi bingung, tidak bisa memastikan Anas sedang ada atau tidak. Akhirnya mereka selalu tanya sama saya, yang menurut orang sahabat karib Anas. Memang saya dan Anas laiknya pinang dibelah dua, tiga perempat buat saya dan seperempatnya Anas. Haha…

Ada yang beda dengannya pagi itu. Saat datang ke rumah, Anas mengenakan jaket warna hijau yang dibalik, sehingga bagian punggung jaket menjadi pelindung dadanya. Kalau dia memang berangkat dari kos, pasti mengenakan jaket yang saya gantungkan di tempat handuk. Tidak ada jaket lain yang bisa dia kenakan, katanya cuma jaket saya itu yang sesuai ukuran badannya.

Saya berlari ke depan, tapi tidak langsung menyambutnya. Saya mengintip gerak-gerik Anas dari balik kursi depan. Kursi ini cukup besar untuk menyembunyikan diri saya sepenuhnya. Anas tidak langsung turun, tapi menunggu nafasnya teratur. Dia tidak suka pakai helm teropong. Helmnya ya model itu, kata orang model federal, dengan warna merah-oranye-putih dan garis hitam sebagai pemisah. Anas tetap tidak mau pakai masker meski jalanan Surabaya-Gresik sangat berdebu.

Anas tidak memanggil saya atau siapapun. Dia hanya diam di atas sepeda motornya. Kedua tangannya disatukan di depan perut, kepalanya menunduk, dan punggungnya menjadi naik turun karena napas yang memburu. Dia tampak sangat lelah. Saya jadi ragu menyambutnya. Bukan apa-apa, takut mengganggu konsentrasinya untuk mengatur napas. Akhirnya saya pilih untuk berakting di depannya.

Saya beralih menjauhi Anas ke sisi sebaliknya, berdiri di atas pembatas kolam, dan melihat ke arah jalanan. Anas menjadi di belakang saya jauh di dalam garasi mobil. Saya kemudian memanggil sambil berteriak kepada anak kecil yang kebetulan sedang melintas. Saya sengaja mengeraskan suara, supaya Anas juga mendengar lalu memanggil saya. Akting saya berhasil. Anas memanggil saya. Lalu saya menoleh, dan meluapkan semua keterkejutan saya, sambil berlari ke arahnya.

Kemudian kami berpelukan. Padahal saya lebih tinggi daripada Anas, tapi saya tenggelam di tengah-tengah warna hijau jaketnya. Tawa kami sempat membuat beberapa tetangga melihat ke arah kami. Kemudian saya menjitak helm yang masih dipakainya itu. Kami masih tertawa. Larut dalam kerinduan setelah beberapa lama tidak bertemu. Kami masih tertawa dan saling memperolok satu sama lain, sebelum akhirnya jaket hijau milik Anas berubah warnanya menjadi merah.

Kami terdiam. Ekspresi wajah Anas berubah. Saya memandangi wajah Anas, mencari apa ada sesuatu. Saya periksa bagian dalam jaketnya, kalau-kalau warna merah itu berasal dari dalam. Anas memanggil-manggil nama saya beberapa kali. Suaranya bergetar. Saya semakin bingung. Sebelum saya sempat bertanya, nafas saya tercekat. Mata saya terbelalak. Saya menangkap warna merah itu berasal dari mulut saya.

Seluruh tubuh saya tiba-tiba lemas. Anas semakin mempererat pegangan terhadap punggung saya, sebelum akhirnya saya jatuh ke lantai. Jaket hijau milik Anas berubah warna menjadi merah yang semakin terang, dalam pandangan mata saya yang semakin pudar. Semakin pudar, dan semakin pudar…

Akhirnya saya sadar kembali. Tidak dengan warna merah yang muncul dari mulut saya. Tidak juga dengan jaket hijau milik Anas. Adanya ya kasur gulung warna hijau tempat saya tertidur semalam. Saya mendengar suara bunda dari dalam kamar sedang mengaji. Merdu dan hangat. Sambil terhuyung, saya lalu ke kamar mandi. Nafas saya masih memburu, dan seketika mereda setelah terkena air wudhu. Tapi pertanyaan demi pertanyaan masih berputar di kepala.

Saya menghela nafas panjang. Saya coba hitung kembali kebersamaan saya dengan Anas. Haha… begitu banyak momen yang kami buat bersama. Kami satu geng di SC Mania dengan dua orang lainnya, Indra dan Trisno. Cuma saya dan Anas yang satu kos di pink house. Sehingga saya dan Anas lebih bisa menghabiskan waktu bersama. Memang kejadian dalam mimpi ini belum terjadi. Namun, nyatanya banyak hal yang ternyata bersahut dengan isyarat yang dibawanya.

Setelah lama menghitung, memang saya menjadi pendengar yang baik untuknya. Sekalipun, Anas sendiri sedang menemukan pemecahan masalahnya, dan saya pun menyibukkan diri dengan setiap detil hari-hari saya. Tapi kemudian, di tengah kesibukan kami, persahabatan ini menjadi sebuah formalitas, karena kami berdua hanya menjadi pendengar satu sama lain. Seperti diceritakan dalam mimpi, saat saya sebenarnya mengetahui apa yang sedang dilakukan Anas, tapi saya cuma bersembunyi di balik kursi. Tidak melakukan apa-apa.

Saya kurang begitu memahami arti kata ‘persahabatan’. Bersama mereka lah kita bisa menjadi diri kita sendiri. Itu yang saya rasakan. Justru karena itu, persahabatan kami menjadi tak lebih dari sebuah formalitas saja. Formalitas, ketika siapa yang disebut sahabat hanya mendengarkan dan mengetahui apa yang dilakukan yang lain. Saya berpikir, sahabat sepatutnya bisa berbuat lebih dari itu. Mencegah ketika saya akan melakukan kesalahan, dan mengevaluasi ketika saya terlanjur jatuh. Bukan sekedar mendengar atau melihat. Dan bukan sekedar ‘menjadi diri sendiri’.

Bagaimana pun, nilai diri kita yang dinilai dari luar secara detil mudah diketahui oleh seorang kawan baik. Seperti saya melihat Anas, atau Anas melihat saya. Sehingga mereka lah yang kadang kita anggap ‘lebih berhak’ untuk menasihati, meski sebenarnya setiap orang juga berhak. Sekali lagi, karena mereka yang lebih sering mengetahui siapa dan bagaimana kita. Itu lah yang sering membuat kata-kata Anas dan SC Mania yang lain mudah saya terima.

Ketika berada di luar mereka, saya lalu memakai topeng? Tidak. Menjalankan peran bukan sedang memasang topeng. Tapi mengeksplorasi siapa dirimu yang sebenarnya. Anas yang mengajarkan kepada saya bagaimana menempatkan diri sesuai situasi. Tidak lalu memakai topeng. Jadi diri sendiri yang sebenarnya, dan berlaku sesuai porsinya, sesuai kebutuhan. Bukan berakting seperti disebutkan dalam mimpi, ketika saya sengaja memanggil anak kecil yang kebetulan sedang melintas di jalan. Seperti, diam adalah emas jika berada pada situasi dan kondisi yang tepat.

Momen sebelum puasa kemarin benar-benar luar biasa untuk kami berempat, SC Mania. Di saat akan menjalani ‘pembakaran diri’, kami melepas semua uneg-uneg tentang kawan kami yang lain. Apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang tidak perlu dilakukan. Bagaimana membuat lebih baik dari hari ke hari, dan tidak membuat sesuatu yang parah semakin parah. Saat itulah persahabatan kami tidak menjadi sebuah formalitas. Tidak saling bersembunyi di balik kursi. Tapi segera menyambut untuk mengantisipasi setiap hal sejak awal. Untuk menasihati sesegera mungkin.

Agaknya saya harus menepis apa yang dikatakan Kahlil Gibran, “Kawanku, engkau bukanlah kawanku, tetapi bagaimana cara membuatmu paham? Jalanku bukanlah jalanmu, tapi kita jalan bersama, bergandeng tangan.” Bohong dengan semua itu. Pandai memainkan kata, tapi tak pandai membuat makna. ‘Kawan’ dan ‘persahabatan’ bukanlah formalitas, sedang saling bertaut hati untuk memberi nasihat adalah intinya.

Semoga, hal yang diceritakan di mimpi tidak akan terjadi. Yakni, saat saya sudah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik kepada sahabat saya, atau orang-orang di sekitar saya. Saat jaket hijau milik Anas berubah warna menjadi merah, oleh mulut saya sendiri. Astagfirullah…

Advertisements