Place/Date/Time: Kamar di pink house/sekitar akhir semester empat/waktu tahajjud

Saya benar-benar heran ketika dunia ini menjadi satu warna saja. Apa yang terjadi jika dunia ini menjadi begitu monoton, benar-benar mono-tone, tidak ada variasi samasekali. Tapi kemudian warna yang muncul adalah sebuah warna yang bisa mengisyaratkan kedamaian hati, keharuan, bahkan sakit mendalam yang terpaksa diikhlaskan.

Saya tidak begitu paham dengan arti tiap-tiap warna. Bagaimana dia hijau, putih, ungu, merah… Karena setiap warna sekarang ini suka untuk berpadu. Kadang hijau bercampur hitam, kuning bercampur merah, dan sebagainya. Soal para ilmuwan warna yang mengatakan bahwa warna pokok adalah merah, biru, dan kuning, saya juga tidak begitu paham. Toh, warna yang mencerminkan begitu kontrasnya polaritas dunia adalah hitam dan putih. Meski demikian, setiap saya mendesain buletin selalu menggunakan setting paduan warna CMYK: cyan, magenta, yellow, dan k-nya ngga tau. (Ada yang tau?)

Tapi sekarang ini benar-benar satu warna: Biru.

Warna yang tadi saya katakan, yang bisa mengisyaratkan kedamaian hati, keharuan, bahkan sakit mendalam yang terpaksa diikhlaskan. Pada akhirnya berputar menuju kedamaian hati dan seterusnya.

Ya, adalah sebuah puri berwarna biru yang saya lihat dari sini. Sebuah puri yang terletak di ujung jalan ini, yang memang saya tuju untuk menemui seseorang yang saya rindukan di sana.

Maka saya tidak segan untuk berlari bertelanjang kaki. Tentu saja kaki saya berwarna biru. Kedua tangan saya berwarna biru. Baju dan celana saya berwarna biru. Saya juga yakin seluruh kepala saya berwarna biru, meski saya tidak bisa menemukan kaca untuk melihatnya. Karena sekeliling saya biru. Jalan-jalan, batu, pepohonan, bahkan gerakan angin juga seperti aliran warna biru.

Saya sempat terhenti di sebuah pasar, masih di jalur jalan menuju ke sana. Warna biru benar-benar ada di mana-mana. Pedagang jus buah, penjual nasi bungkus, dan tambal ban, semuanya biru! Ngga tanggung-tanggung: setiap detil buah juga berwarna biru, bahkan nasi di bungkusan itu juga berwarna biru!

Akhirnya saya mendapati puri itu di depan mata. Saya masih harus melewati gerbang yang tingginya hampir menyentuh kepala saya, pekarangan yang luas dengan rumput biru yang lembut, pepohonan dan daun yang melambai, semilir angin biru yang mungkin membuat kepala saya semakin berwarna biru.

Serta merta kepala saya terantuk batu. Batu darimana? Wong saya masih berdiri tegak, tidak jatuh. Kemudian satu batu lagi. Semakin banyak. Saya baru sadar ketika melihat seseorang melempari saya. Bukan seseorang, banyak orang! Begitu saya melihat mereka, tiba-tiba mereka berlari ke arah puri. Memanjat dindingnya dengan kuku-kuku mereka yang tajam. Mereka memanjat begitu cepat, dan semakin jauh ke atas. Kemudian saya melihat seseorang yang saya rindukan melambai ke arah saya.

Dia di sana! Tidak jauh dari tempat saya berdiri sekarang. Saya jadinya segera berlari ke arah puri. Dia melambai dari jendela kamar di puncak puri, yang hanya bisa saya tuju melalui dinding-dinding ini. Tidak mau kalah, saya langsung melompat. Dan saya menjadi lebih unggul daripada yang lain. Saya bertaruh pada tangan saya yang berdarah-darah. Nyeri merajai keseluruhan punggung tangan sampai siku. Tapi tak mengapa, karena ujung puri semakin dekat, sudah setengah jalan saya tempuh.

Saya semakin cepat, meninggalkan mereka yang memanjat dengan kuku-kuku tajam. Kurang seperempat dinding lagi saya sampai di ujung puri. Saya melihat dia masih melambai. Dengan wajah yang sumringah, seperti cahaya rembulan yang silau karena terpantul di air. Ya, bisa sedikit memberi variasi di dunia yang begitu biru ini.

Tapi, saya berhenti. Tiba-tiba saja saya berhenti. Seluruh tubuh saya berhenti bergerak. Saya menjadi enggan melanjutkan perjalanan. Hanya nafas yang memburu yang bisa saya rasakan. Dada saya naik turun seperti kantong udara yang hampir meletus sebelum akhirnya mengempis kembali. Saya terbatuk, oleh karena debu demi debu dari dinding di depan saya yang dilempar oleh nafas saya sendiri. Saya melepas satu pegangan tangan saya untuk melindungi hidung dari debu yang beterbangan itu. Saya melihat ke atas, dia berhenti melambai. Saya terbatuk lagi, sebelum akhirnya jatuh.

Tubuh saya terasa begitu ringan. Saya melayang-layang di tengah angin biru, sambil tetap melihat ke atas. Dia tetap berhenti melambai. Wajahnya tampak semakin kecil, seiring badan saya yang semakin dekat ke arah bumi.

Bum! Badan saya terhempas keras di atas rumput biru yang lembut. Seketika nyeri menjalar di seluruh tubuh. Rusuk saya seakan remuk semua. Saya tak mampu berdiri. Nafas saya seakan berhenti, tercekat di antara hidung dan tenggorokan. Mata saya berkunang-kunang, mencari-cari apakah saya jatuh dengan telentang atau tidak. Saya benar-benar kesakitan. 

Tapi saya bangun dengan segar bugar. Tanpa kekurangan satu apapun, tidak dengan rusuk yang serasa remuk, tidak dengan tangan yang berdarah-darah, ataupun mata yang berkunang-kunang. Dunia di sekitar saya juga kembali ke warnanya semula. Saya terbangun di atas tempat tidur saya di kosan dengan leluasa. Mengucap syukur alhamdulillah, dan segera mengambil wudhu.

Beberapa waktu kemudian, saya mengalami hal yang diisyaratkan dalam mimpi itu. Yap, pada akhirnya saya menjadi jauh dengan orang yang pernah saya rindukan keberadaannya. Tidak hanya jauh secara fisik, kalau boleh dibilang juga jauh secara hati dan pikiran. Lhoo… kok kompleks ya? Ah, tidak. Karena ternyata memang saya yang memilih untuk tidak berada lebih dekat kepadanya. Alasannya kenapa, karena kadang saya berpikir, sekarang ini lebih baik tidak terlalu fokus dengan satu orang saja. Ya, karena warna-warna di dunia tidak hanya satu, tapi banyak dan berpadu-padu. It just… saya lebih merasa nyaman ketika hidup saya untuk banyak orang. Hanya, merasa belum saatnya membangun satu komitmen saja.

Setelah ingat mimpi itu kembali, saya menjadi ingin memutar kembali waktu-waktu yang lalu. Percaya atau tidak, ternyata saya mengakhirinya dengan tidak sempurna. Saya tidak ingin mengatakannya sebagai proses  pembelajaran—meski setelahnya kita menjadi belajar terhadap sesuatu. Karena seakan, belajar adalah proses ketika sebuah kesalahan dianggap maklum dan dilupakan. Padahal, di dunia ini ada perbedaan yang mendasar antara dilupakan dan dimaafkan. Maka saya ingin memutar waktu di saat saya—atau kami—lebih bisa mengakhirinya dengan sempurna. Biarlah berakhir, kemudian saya dan dia menulis cerita di halaman kehidupan masing-masing.

Selama saya berjalan hingga sekarang ini, saya merasa bahwa kejadian itu dipaksa untuk dilupakan, meski belum tentu dimaafkan. Setelah lewat setengah tahun, saya harus meminta maaf kepadanya, walau kemudian dia tidak merasa ada sesuatu yang perlu dimaafkan. Hanya saja saya merasa, lebih baik membuatnya menjadi sesuatu yang dimaafkan meski akhirnya tidak dilupakan. Dan saya pikir, dia telah menyadarinya sejak awal, memaafkan semuanya sejak awal, lalu merasa tidak perlu ada yang dimaafkan.

Akhirnya pun, saya bisa mengenang remuk redam rusuk saya waktu itu, dengan senyum-senyum sendiri.

Advertisements