Place/Date/Time: Green house/beberapa hari sebelum clerkship/waktu tahajjud

Seketika seluruh lapangan itu tertutup awan hitam. Seluruhnya. Tidak bahagian per bahagian. Beberapa polisi berpakaian preman mulai menyisir satu demi satu sudut lapangan, kalau-kalau ada orang-orang kami yang belum mereka tangkap. Kami dikumpulkan dengan berdiri di salah satu bahagian lapangan yang tertutup awan hitam. Dan sesak sekali di sana.

Di antara rekan-rekan saya di sana, badan saya bukanlah yang paling kecil. Saya sempat terhenyak ketika Mas Dimas, yang saya kenal sebagai mantan wakil presiden BEM pusat, menabrak dan sempat membuat saya limbung. Badannya lebih tinggi dari saya, malah paling tinggi di antara kami. Untung saya masih sempat berbalik dan mendorong Mas Dian Heri ke tepi, sehingga saya yang terjembab ke tanah. Mas Dimas dan Mas Dian Heri membantu saya berdiri, lalu kami merapatkan diri ke tembok.

Mas Dian Heri sempat berteriak, tapi seseorang keburu menariknya ke belakang dan menghempasnya ke arah tembok. Kami sempat menahannya sehingga tidak jatuh. Beliau adalah presiden BEM pusat sekarang, menggantikan Mas Aas yang sedang jatuh tersungkur di depan kami. Seseorang entah memukulnya entah mendorongnya, yang jelas dia berusaha bangun sambil menahan sakit.

Mas Dimas segera meraih tangannya. Lalu mereka berdua lenyap dalam awan hitam ini. Mas Dian Heri segera menyusul, tapi sedetik kemudian kembali sambil terbatuk-batuk. Awan hitam ini terlalu tebal. Samar bayangan Mas Aas dan Mas Dimas tampak di mata kami, di tengah-tengah awan hitam.

Saya tahu mereka masih dalam jangkauan tangan saya, dan seharusnya saya bisa meraih mereka barang beberapa waktu. Seharusnya mereka bisa saya tarik ke arah tembok. Tapi tidak saya lakukan. Ada rasa yang menyelimuti saya, yang membuat saya berdiri saja di tempat. Tidak melakukan apa-apa selain menelan ludah dan melihat semuanya seperti tontonan. Jantung saya terbelit oleh sesuatu, sehingga cukup sakit untuk bergerak lebih banyak. Napas saya semakin memburu, dan akhirnya saya memilih duduk dan memegangi lutut saya yang bergetar. Saya takut terjebak dalam awan hitam ini terlalu dalam.

Saya tidak merasa aneh terjebak dalam keadaan ini. Saya yakin sudah saya perkirakan sebelumnya, hal ini bakal terjadi. Hanya, saya tidak menyangka akan terjadi secepat ini. Di tempat asing yang belum pernah saya datangi. Waktu di tempat ini seakan bertumpuk dengan waktu yang sedang berlangsung di hari yang nyata. Sehingga tidak nyata siang atau malam. Yang jelas, bukan siang karena kondisi di sini begitu gelap. Tidak ada cahaya. Bukan pula malam, karena memang saya tahu sekarang sedang tengah hari, mentari sedang tinggi-tingginya, meski saya tak mampu melihat matahari. Sekali lagi tak ada cahaya di sini.

Suasana menjadi senyap.Hanya suara desis awan hitam yang berputar. Saya masih memegangi kedua lutut yang dari tadi bergetar. Mas Dian Heri masih terdiam di tempatnya. Melihat ke tengah-tengah awan hitam dengan nanar. Pandangannya marah. Mungkin dia masih merencanakan kembali ke tengah awan hitam itu. Mas Aas dan Mas Dimas masih nyata dalam pandangan kami. Kami tahu mereka ada di tengah awan hitam itu, terjebak di sana, dan beberapa orang mengitarinya entah dengan maksud apa.

Saya masih merasakan nyeri di pipi oleh pukulan polisi itu. Awal mula saya—atau kami berada di sini, saya tidak ingat. Kami tidak pernah merencanakan berkumpul. Karena jelas-jelas tempat ini tidak kami kenal. Lagipula saya dan mereka, hanya sebatas tahu karena kami sedang menjalankan peran masing-masing di kampus. Saya dulu di BEM dan sekarang di BLM, sehingga bisa merasakan periode BEM pusat dari awal hingga yang sekarang. Dari jaman sebelum Mas Aas, hingga Mas Dian Heri. Itu pun karena saya perlu dekat dengan mereka untuk shortcut advokasi ke rektorat. Waktu itu, terutama soal pengaderan mahasiswa. Selebihnya saya tidak tahu menahu tentang mereka. Jadi apa, mengapa, dan bagaimana kami bisa di tempat ini, saya tidak tahu. Kecuali karena polisi-polisi itu yang menangkapi kami.

Ibarat tahanan yang pasrah pada nasib, sesekali kami berhitung dengan putaran waktu kalau-kalau para polisi itu menghantamkan pemukulnya lagi pada pipi kami. Seorang entah polisi entah preman berdiri persis di depan saya. Dia terkekeh, dan menyapa saya dengan matanya yang hangat. Tak ada yang mencurigakan dengan senyumnya.

Saya sempat membalas sambutannya itu, lalu melempar pandangan kepada Mas Dian Heri. Mencoba mengatakan semuanya bakal baik-baik saja. Polisi yang satu ini baik, tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada kita. Tapi Mas Dian Heri membalas dengan tatapan penuh dendam, seolah memperingatkan saya untuk hati-hati. Dunia tidak seperti yang kau kira, kawan. Mungkin itu yang coba dia sampaikan.

Di sinilah saya mulai keder, mulai berpikiran macam-macam. Saya tidak mau mati.

Sedetik senyum itu berubah jadi beringas. Polisi itu mengayunkan kepalannya! Saya tidak punya reflek apa-apa kecuali memejamkan mata, menahan sakit. Saat saya membuka mata, saya tidak berada di sana. Di tempat lain yang tidak jauh dari tempat itu.

Saya menjumpai Anas dan Tiwi di samping saya. Mendekap saya yang ketakutan erat-erat. Saya merasakan diri saya seperti paranoid waktu itu. Benar-benar paranoid. Seperti mengalami pengalaman traumatis yang mendalam. Terlalu dalam. Membuat hati saya tetap utuh, tapi melepuh karena air panas. Keseluruhan hati saya sakit, dan hanya sakit yang saya rasakan membakar habis hati saya.

Berulangkali Anas dan Tiwi bilang semuanya bakal baik-baik saja. Punggung saya masih digosok-gosok untuk sekedar meredakan ketegangan saya. Saat napas saya mulai tenang dan duduk saya menjadi tegak, mereka berdua memandang saya. Bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saya menggeleng. Tidak ada apa-apa. Di kejauhan saya masih melihat rekan-rekan saya tadi masih berada di tengah-tengah awan hitam. Jarak kami tidak terlalu jauh, apa Anas dan Tiwi tidak melihat apa yang baru saja terjadi? Atau mereka butuh penjelasan lebih lanjut tentang kejadian tadi?

Lebih baik saya tetap menggeleng dan tersenyum. Kali ini saya ragu dengan senyum saya. Karena senyum ini menyiratkan batas yang tipis antara lega dan terimakasih. Saya kuatir dengan perasaan lega itu, karena seperti membiarkan rekan-rekan saya tadi di tengah-tengah awan hitam itu. Saya merebahkan diri ke belakang, sambil menatap langit.

Lalu saya kembali ke kamar dengan perasaan ringan. Masih dengan badan saya yang merebah, sambil menatap langit-langit kamar. Mimpi ini serasa begitu nyata dibanding mimpi yang lain. Tapi kejadiannya lebih cepat dan singkat. Saat bermimpi saya tidak sempat menyadari setiap detail suasana di sana. Semuanya terekam begitu saja. Hanya saja, bisa saya putar kembali dengan leluasa, sehingga setiap detail itu perlahan bisa saya ceritakan kembali.

Saya lalu bangun. Bersandar pada tembok sambil bersila menghadap ke barat. Memejamkan mata, lalu memunculkan kembali kejadian demi kejadian dalam mimpi itu. Jantung saya berdebar hebat. Memori akan masa lalu telah hadir dan ikut berulang. Lalu mix and match dengan isyarat dalam mimpi itu.

Berbagai pertanyaan kemudian muncul, tapi yang paling jelas adalah: mengapa justru mereka yang muncul dalam mimpi ini? Seingat saya, jarang sekali mimpi saya “dihadiri” banyak orang. Tapi, mengapa justru mereka, yang pernah aktif di organisasi, yang kemudian muncul? Malah, berpadu dengan kehadiran Anas dan Tiwi yang memang dekat dengan saya.

Sejenak saya tersentak dengan satu ingatan. Beberapa minggu lalu, saya “dilamar” oleh teman-teman BEM pusat untuk menjadi presiden BEM periode selanjutnya, menggantikan Mas Dian Heri. Tentu saja saya menolak. Siapa pula yang suka diberi amanah. Menjadi presiden BEM pusat bukan jabatan biasa, tapi ada beban begitu besar untuk transformasi kampus ini. Apalagi kampus sedang memantapkan diri pada status BHMN, yang banyak orang masih meragukan keberhasilannya. Apapun peluang yang diceritakan, tetap saja saya menolak. Tidak etis kalau harus meninggalkan BLM di tengah tahun kepengurusan.

Apa saya kemudian mengkhianati mereka? Mereka yang muncul dalam mimpi itu, adalah para pejuang yang tak kenal lelah. Benar-benar tak kenal lelah. Tak peduli seberapa sibuk mereka, dan seberapa susah mereka mengangkat nilai akademik. Mereka tetap maju. Bahkan Mas Dian Heri memutuskan untuk menunda satu tahun masa studinya. Hampir semua seperti itu. Tapi sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntaskan amanah.

Yang kemudian saya lihat adalah dedikasi mereka untuk kampus ini. Jujur saja, kadang saya tidak mengerti apa yang mereka kejar dengan melibatkan diri di urusan organisasi semacam itu. Tahunya saya ya, mereka berorientasi akhirat. Tidak ada yang mereka kejar selain hal itu. Tapi mereka harus membanting tulang untuk pekerjaan yang tidak dibayar. Sepeser pun tidak. Kalau soal pengalaman, saya yakin siapapun punya beragam pengalaman yang tidak harus didapat dari BEM. Malahan lebih unik dan menarik. Maka, pengharapan akan akhirat itulah yang mengikat mereka.

Saya masih jauh dibanding mereka. Jauh tertinggal. Kemantapan hati saya untuk berjuang masih setengah-setangah. Apalagi moral saya masih di ujung tenggorokan. Terlalu banyak pengkhianatan yang saya lakukan. Yang mereka tidak tahu. Saya pun sadar sesadar-sadarnya, ada Yang Lebih Tahu daripada mereka. Tapi, seolah saya antara berjihad dan menelan kata-kata sendiri. Saya bukan apa-apa dibanding mereka. Saya ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Wajar saja, meski dalam awan hitam setebal itu, mereka masih saja terlihat. Gerak-gerik mereka sangat mudah diamati—atau lebih tepatnya dicontoh. Tapi kemudian komitmen untuk mengikuti yang lebih baik itulah yang belum sepenuhnya terbangun. Padahal manusia-manusia terbaikNya sudah diterjunkan di dunia ini, sebagai model untuk manusia lain yang mencari petunjuk.

Merekalah yang berhasil mencari tujuan hidup di tengah pekaknya hingar bingar dunia. Merekalah yang berhasil meletakkan cahayaNya sebagai pelita dalam jalanan yang sepi, gelap, dan berbatu. Mereka tetap merasa ramai, karena senantiasa ada yang menemani dan menerangi.

Mereka telah diletakkan olehNya cahaya dalam dinding hati, sebagaimana cahaya dalam lubang tak tembus. Cahaya itu berada dalam kaca. Yang dinyalakan oleh minyak dari pohon zaitun yang diberkahi. Pohon yang tidak tumbuh di barat atau di timur sesuatu, sehingga cahaya mentari senantiasa menerangi dan menumbuhkannya. Yang minyaknya saja hampir-hampir menyala tanpa api. Itulah cahaya yang tak mungkin terhalang.

Kalau seseorang yang memahami urgensi pengorbanan untuk agama ini ditanya tentang tawaran itu, pasti mengiyakan dan menyuruh saya maju. Tapi orang yang begitu memahami saya dan seluruh kehidupan saya, pasti meminta saya menolak tawaran itu. Lain dengan mereka yang memahami saya dan kehidupan saya, teman-teman di sekitar saya, tentang cita-cita kami bersama, dan latar belakang moral serta seluruh perencanaan hidup saya dan kami, maka mereka memilih diam. Tidak berkata apa-apa kecuali pada akhirnya sama-sama bimbang, sambil meyakinkan bahwa ada cara lain untuk berjuang.

Karena saya atau siapapun mungkin, belum melihat saya mampu menghidupkan cahaya yang tak mungkin terhalang itu.

Advertisements