Place/Date/Time: Pink
House/Jumat, 11 Januari 2008/5:45

Dirinya adalah
bunga puncak bukit yang disinari matahari. Tumbuh dari keagungan cinta sang
akar. Meski bukit yang ditempatinya tidak menarik, tapi ia mampu membuatnya
subur. Ia mampu tumbuh di saat awan melingkupi bebukitan dengan embunnya yang
dingin menyusupi kulit. Membekukan hati. Embun yang kadang menampakkan pelangi,
sebuah rangkaian warna semu yang kadang menyenangkan. Ini hanya soal
keselarasan antara cinta yang diberikan sang akar dengan tekadnya untuk tumbuh.
Sang akar telah memberi sebuah rangkaian kisah manis sebagai bekal untuknya
tumbuh. Sang akar mengajaknya untuk terus mendekap harapan di antara tanah
kering di sekitarnya. Tanah mungkin kering, tapi hatinya tetap hangat akan
penggalan-penggalan kisah di setiap wajah zaman yang telah dilalui dan diceritakan
sang akar. Kejayaan demi kejayaan itulah yang akan digulirkannya melalui puncak
bukit ini, untuk mereka di bawah sana.

Dia tegak menjejak
di ranah bukit yang merah karena senja. Matahari telah senja, tapi ia telah
mengajarkan bagaimana caranya untuk tetap teguh memegang prinsip. Tak lelah sang
surya bersinar dengan panas yang bersahaja. Hanya sesekali meredup untuk
memberi waktu dan ruang bagi sang bunga memaknai dalamnya hidup. Memaknai
agungnya arti kemandirian. Merasakan dan berpikir mengenai pentingnya berdiri
di atas kaki sendiri, dan menjadi contoh bagi yang lain. Matahari telah lama
memberikan sinarnya sebagai panduan untuk tumbuh, juntai-menjuntai membentuk permata
dalam garis langit menuju bumi. Mungkin matahari nun jauh di sana, tapi sang
bunga masih bisa merasakan kehangatannya, dan karenanya dia tumbuh. Sebagai
seorang yang mandiri dalam hidupnya sendiri. Hidup yang akan diwarnainya dengan
penuh cinta, sebagai bentuk karya tertinggi yang dia berikan bagi tanah di
sekitarnya.

Matahari mungkin
tidak pernah jenuh, tapi langit tak kunjung terang karena sinarnya. Karena ini
bukan musim semi. Ya, ini bukan musim semi. Bukan musim di mana setiap bunga
berkembang menatap luasnya langit. Bukan saat setiap makhluk hidup bercengkrama
menikmati anugrahNya yang tak terhingga. Ini adalah musim dingin dengan jeruji
esnya yang mengurung hati. Ini adalah musim panas dengan bara apinya yang
menyesakkan dada. Dan ini adalah musim gugur dengan nestapanya memenjarakan
nurani.

Ini adalah musim
saat aura perjuangan membahana di angkasa, membuat siapa saja yang menghidunya
menjadi seorang penempur sejati. Termasuk sang bunga. Dia akan terus
mempertahankan tegak tangkai-tangkainya. Mengembangkan satu demi satu helai
kelopaknya. Biarlah kuncupnya mekar menjadi bunga, dan berjuang demi anggunnya
dia dalam bingkai kedewasaan. Bila suatu saat musim semi tiba, dia telah berhak
untuk menjemput impiannya bersama seorang yang dikasihinya. Untuk merangkai
warna demi warna dalam hidup. Pada gilirannya, sang bunga akan menceritakan
wajah-wajah zaman yang telah dilewatinya kepada benih-benihnya. Dan demi Tuhan
yang menggenggam jiwanya, negriNya hijau yang akan dia tuju, selalu tertampak
dari mata hatinya.

Saya cukup
memandangnya dari kaki bukit di sini. Suatu saat, mungkin tangkainya akan lelah
mengangkat helai demi helai bunga dan daunnya, tapi tak akan mengeluh meski
zaman telah melewatinya. Saya yakin, dia adalah bunga yang tak lelah berkarya
dengan hatinya, tak akan layu dengan jiwanya untuk mencinta. Dialah bunga di
puncak bukit. Yang tumbuh dari keagungan cinta sang akar. Yang tegak menjejak indah
di bumi dengan panas matahari yang bersahaja.

:Ini tentang kamu, ibumu, dan ayahmu

Advertisements