Place/Date/Time:
Green House/Jumat, 110108/19:33

Hari yang
melelahkan ketika saya baru pulang dari Surabaya. Jalanan bener-bener macet
tadi. Barisan truk dan trailer raksasa seakan ngga ada habisnya antri di
sepanjang jalan di Kalianak. Kacau abiss. Kalau soal perbaikan jalan yang belum
selesai, sih, semestinya tidak perlu semacet ini. Karena truk dan trailer itu seharusnya
punya jalur khusus untuk mengantar barang. Paling tidak, ada joki-joki khusus
yang dengan brutal menyetop kendaraan apa saja supaya jalan ini bisa mereka
lalui dengan leluasa. Tapi kali ini semua kendaraan berhenti. Tidak ada
tanda-tanda kemacetan akan berakhir segera. Setiap sopir pun hanya pasrah
bercengkrama di bahu jalan, sambil menghirup es legen yang cocok banget diminum
pas terik-teriknya matahari sore.

Saya yang
menggunakan sepeda motor saja harus menghabiskan satu setengah jam buat
menerobos barisan truk itu. Entah berapa jam buat truk dan trailer itu.
Pastinya dengan transportasi yang ngga lancar ini pengiriman barang bakal telat
banget. Kata orang-orang di tipi-tipi, perekonomian pun akan tersendat. Belum
lagi pendapatan pariwisata, seperti yang dikeluhkan orang-orang di momen idul
fitri dua tahun lalu. Saat itu lagi marak-maraknya pemberitaan jalan rusak. Dan
yang paling kacau lagi, yang berhenti bukan hanya truk dan trailer pengantar
barang, tapi kendaraan transportasi lain… bemo, bis… untung gada bajaj
kayak di ibukota. Asap mereka kan lebih kacau tuh. Ah, meski begitu
mereka-mereka lah orang-orang yang berjuang buat keluarganya, dan patut
dihargai. Seharusnya negara menetapkan Hari Sopir Nasional. Ya kan?

Bener-bener lusuh waktu
saya sampai di teras rumah. Saya buang sejauh-jauhnya ekspresi bete, secara
saya akan bertemu bunda. Ngga enak, dong, pulang kampung bawa-bawa muka bete. Segera
saya lepas helm dan slayer, saya banting tas yang isinya gerombolan pakaian
kotor…

“Eh, sudah datang,
ya?,” ternyata bunda sudah di depan pintu. Saya disambut dengan muka haru…
“Kok tasnya dibanting-banting?,” aah… capek, bun. Jangan tanya-tanya dulu,
dunk… Tapi saya paksakan senyum. Kembangkan dua senti kiri dan kanan… Bunda
juga membalas senyum. Dari sejuta senyum perempuan yang pernah kutemui, hanya
senyum bunda yang membuat hati saya luluh! Bete saya luntur! Capek saya lumer! Lutut
saya lunglai…pengen rasanya berada di pelukan bunda seperti bertahun-tahun
yang lalu. Tapi ngga lucu dong, emangnya bocah… Segedhe ini harus bisa
nunjukin tampang garang n mandiri. Hahaha… sok bet loe.

Tiba-tiba langit
terbuka lebar. Matahari bersinar terang. Tapi bunda punya trik khusus untuk
menyejukkan sinarnya. Tidak perlu mendung. Dan hari ini tiba-tiba teduh begitu
saja. Dingin, seperti mendengar gemericik air lamat-lamat. Laksana danau yang
tak habis direguk di mata airnya. Saya pandang lebih dalam lagi, ada sejuta
bintang di wajah bunda.

“Apa ini, Bun?”

“Lemon tea. Coba
deh,” ujar bunda singkat. Bunda berlalu ke dapur lagi.

Hm, gelasnya
hangat. Di dasar gelas ada endapan, seperti bekas perasan jeruk. Mungkin lemon
tea ini bunda bikin sendiri. Warna tehnya uda pudar. Ah, bisa jadi sisa celupan
teh terakhir. Aromanya memang wangi, seperti jeruk.

Mm…

Hangat. Manis.
Kecuttt… .

“Kok warnanya
pudar, Bun? Teh terakhir, ya?”

“Ngga tuh. Waktu
bunda kasi jeruk, warna tehnya pudar pelan-pelan.”

“Oo… .” Iya, ya. Jeruk. Sintetisnya, asam
askorbat. Seperti larutnya lemak oleh jeruk. Makanya orang jawa tu selalu
menyandingkan sate, gule, atau soto sama jeruk hangat. Tapi jaman sekarang
sudah terserah selera orang. Kalaupun ada yang pake minuman jeruk, biasanya
jeruk muuanis atau es jeruk. Saya jadi ingat acara Oprah. Gimana cara termudah
dan tercepat mengatasi sengatan ubur-ubur? Pakai cuka! Jawaban dokternya,
mungkin urin (air pipis) bisa dipakai, tapi tidak cukup asam untuk merusak protein
dari sengatan ubur-ubur. Lalu, apa warna teh disebabkan oleh susunan protein
tertentu? Saya jadi ingat Meitantei Conan. Salah satu serinya, luka bekas
gigitan ular laut dibasuh dengan air teh pekat. Dan penolong yang berusaha
menghisap racun dari luka itu disegerakan berkumur dengan air teh pekat juga.

Apapun itu, lemon
tea ini nikmat sekali. 

Saya terduduk di
teras sambil memandang ke langit-langit. Saya akan menggenggam hari ini. Dan
hari-hari esok akan lebih cerah lagi. Bunda tidak perlu merangkaikan kata untuk
anaknya. Meski kadang sebagai anak muda, ada seberangan tipe gaul antara saya
dan bunda. Kadang saya juga sok modern, sih. Kadang bunda juga keras kepala
sama nilai tradisi yang dipegangnya. Kadang kami keukeuh sama pendapat
masing-masing. Kadang uang saku saya terlambat, kadang bunda tanya kenapa saya
tak kunjung pulang. Mungkin bunda tidak pernah menyampaikan rasa cintanya.
Bunda tidak pernah menangis di depan saya. Tapi sampai kapanpun, hati kami
terpaut. Mungkin banyak hal yang luput dari pengamatan saya sebagai anak muda.
Tapi cinta bunda tidak akan pernah luput. Cinta bunda tidak akan luntur seperti
warna teh ini.

Bagi siapapun yang
hidup di rantauan, hal-hal semacam itu seperti minum lemon tea buatan bunda.

Advertisements