Place/Date/Time: Pink House/Selasa, 160108/6.10

hafid: Aku takut
kejadian seperti dulu terulang lagi. Ketika aku membelah cahaya bulan yang
terpantul di air… . Dan sekarang, bunga puncak bukit itu tampak indah. Tapi
tiba-tiba hatiku mengatakan ‘tidak’. Tidak, tidak perlu kau buatkan musim semi
untuknya. Biarkan kuncupnya mekar menjadi bunga, dan pada saatnya nanti akulah
yang menjemputnya. Jika dia menemukan yang lain, biarlah dia berlalu bersama
angin, dan aku akan bersama jiwaku sendiri… .

iin: Tentang
menjemputnya, apakah sudah mantap? Dan tak ada keraguan? Kalau begitu, kenapa
harus dibuat musim semi untuknya? Kung lupa? Dia bunga puncak bukit. Dia bunga
yang merdeka. Tak ada yang bisa mengatur bagaimana dia mekar. Lagipula dia
mekar sepanjang tahun. Kau bersabarlah… . Kelak dia akan benar-benar menjadi
bunga abadi, seperti kata orang-orang.

hafid: Ya, saya cukup
melihatnya dari kaki bukit di sini. Karena cinta itu memiliki atau
mengikhlaskan.

iin: Kung tidak jadi
mencoba menjemputnya di kemudian hari? Hhh, cinta itu memang seharusnya
ikhlas… . Kalau aku, akan duduk di tepi sabana, dan melihat singa mengejar
buruannya…

hafid: Menjemputnya di
kemudian hari? Kita lihat saja… . Apa benar dia belahan jiwa yang selama ini
kucari. Mungkin aku bukan petualang, dan matahari masih cukup terang untuk
jalan kita masing-masing. Singa itu tetap akan di sana, Nduk! Sepertinya dia
tidak akan lelah berputar-putar… .

Advertisements