Gila.

mungkin? tapi berdasar siapa?

anda mungkin berpikir saya gila?

atau tidak punya agama,

saya masih sadar

saya juga masih punya agama

mungkin setelah ini

kalau masih diberi kesempatan

saya akan memberikan Apa yang saya punya untuk temen2 di milis ini.

saya akan jadi lebih aktif…

karena saya sadar temen IPA1 adalah temen2 terbaik saya

semoga milis ini membuat perubahan untuk kita semua

Itu adalah cuplikan dari email yang teman saya kirim di milis esema. Saya tidak pernah mengira kalau Ian Agung Prakoso , orang yang dulu saya kenal sebagai siswa yang pendiam, murah senyum, kurang tegas, ramah kepada semua  orang, hampir tidak pernah punya kasus kriminal di sekolah baik kecil maupun besar, tidak pernah meninggalkan rasa menyesal mengenalnya di hati teman-teman, akan menjadi orang yang memiliki pemikiran yang mendalam tentang hidup.

Saya benar-benar tidak menyangka beberapa tulisannya di milis esema kami menjadi tulisan yang patut diperhitungkan, disejajarkan dengan tulisan teman-teman lain yang lebih digemari karena ringan dan terkesan nakal sebab tidak berbobot samasekali, selain karena kata per katanya yang dalam bermakna juga penuh kritik tentang hidup. Padahal seingat saya dulu tulisannya tidak pernah rapi, tidak pernah bisa dibaca maksudnya dalam sepuluh detik untuk satu kalimat. Bukan karena struktur kata demi kata yang amburadul, tapi karena tulisan tangannya benar-benar tidak bisa dibaca. Bukan tulisan ceker ayam seperti yang guru esde saya maksudkan, karena tentu saja Ian dan anak esema seusia kami memang telah cukup terlatih untuk menulis tegak bersambung maupun miring terpisah sesuai dengan gaya kami masing-masing. Tapi lebih karena kelihaian tangan Ian dalam menulis tak mampu mengimbangi pikirannya yang berputar dengan velositas yang sangat tinggi. Buah demi buah dari pohon kecerdikannya dalam memandang hidup jatuh dengan kecepatan yang tak terkira, seperti mengikuti tarikan gravitasi yang setara dengan gaya sentrifugal ke inti lingkaran dengan massa ide yang demikian besar dan percepatan yang luar biasa cepat. Mengalir bak sungai besar nan meluap-luap karena mata air bagian hulu sedang benar-benar penuh karena hujan ganas di puncak gunung. Sedangkan jari jemarinya yang memegang alat tulis semakin berkeringat, karena ide-ide itu semakin bertambah bobotnya, semakin dia tidak bisa memegang alat tulis lagi, sehingga memutuskan untuk menulis buah pikirannya di milis, selain supaya bisa dibaca oleh teman-teman dan secara melalui internet akan go internasional. Jari jemarinya tidak akan berkeringat seperti dulu dia menggenggam alat tulis, tapi jemarinya akan menari, terus dan terus menari di atas papan keyboard yang membuat ide-idenya semakin nyata dan bisa dibaca semua orang tanpa ada satu pun makna yang terlewatkan.

Saya masih ingat betul dengan senyumnya yang bernada riang-datar. Sekali dia tersenyum maka tampaklah semua giginya dari urutan seri, taring, dan geraham depan yang berderet-deret rapi seperti barisan tentara yang tidak saling mendahului satu sama lain. Senyumnya memiliki kontur perahu terbalik bukannya bulan sabit seperti orang biasanya, dan sudut bibirnya masih berada di tengah-tengah kedua bibir, tidak berada di atas garis bibir atasnya seperti pada umumnya. Yang tampak hanya gigi atasnya, dan entah kenapa senyum selebar itu hanya geligi deretan atas yang tampak. Jika dia tersenyum ujung alis bagian dalam bertemu di atas pangkal hidung seperti dua sejoli yang hanya bisa melihat dari jauh ketika kekasihnya datang. Lebih mirip ekspresi mata orang marah. Nah, semakin sempurnalah keanehan senyum Ian yang riang-datar itu.

Tapi mata itu pernah sekali tampak sangat tajam di hadapan saya. Yakni ketika kami menghadiri reuni kelas IPA-1 di rumah Alisia Yuana Putri (Lisa), yang belakangan saya ketahui itu adalah rumah kedua Lisa setelah yang di depan SD-SMP Muhammadiyah yang juga di Pucang. Entah reuni keberapa itu. Di akhir acara ketika sebagian besar dari kami memutuskan untuk berpisah dan pulang ke peraduan masing-masing, Ian mengajak beberapa orang berkumpul, lalu memulai pembicaraannya dengan menciptakan suasana dingin dan kaku di tengah hari yang terik, sehingga beberapa dari kami mulai menanggapinya dengan serius.

“Kita tidak bisa seperti ini terus. Kedewasaan seharusnya membuat kita sadar bahwa akan ada sesuatu yang kita hasilkan dari pertemuan kelas semacam ini. Kita sudah menginjak bangku kuliah, yang artinya pendidikan kita semakin tinggi, semakin tinggi pula konsekuensinya. Banyak orang yang akan menunggu kita berkontribusi, dan saya yakin teman-teman memiliki kelebihan di bidang kuliah masing-masing untuk berbuat sesuatu yang berarti. Saya yakin teman-teman paham apa yang saya maksudkan: yaitu kelebihan yang kita miliki atau kemampuan yang kita kuasai di bangku kuliah harus segera kita berikan untuk orang lain. Suatu saat, kita harus bisa memformulasikan setiap kelebihan kita itu dalam sesuatu yang padu dan berarti untuk orang lain.”

Ian tidak pernah berhenti bicara karena kehabisan napas, kata-katanya terus meluncur dengan lancar tanpa terbata-bata, tidak tergesa-gesa, dan tidak perlu berdehem untuk menyindir mereka yang tidak memperhatikan, karena kami semua menyimak dengan seksama. Bahkan anjing tetangga depan rumah pun yang sejak tadi menyalak karena banyak orang asing ribut dengan sepeda motor di depan rumahnya, ikut diam karena aura yang dimunculkan Ian begitu besar, dan hanya angin yang mengatakan kepada anjing itu bahwa ada pembicaraan serius tentang masa depan di seberang rumah majikannya, jadi diamlah.

“Saya katakan, pertemuan ini seharusnya menjadi lebih bermakna jika kita membicarakan rencana demi rencana untuk masa depan. Saya melihat ada potensi besar dalam diri masing-masing kita, dan potensi itu akan semakin redup apabila kita tidak mampu bekerja sama untuk memunculkannya. Saya tahu mungkin ada beberapa di antara kita yang skeptis akan hal ini, tapi tak mengapa. Saya pun memunculkan ide ini karena saya sangat skeptis terhadap hura-hura kekanak-kanakan dalam setiap reuni kelas yang kita adakan. Sehingga saya berpikir untuk mengkombinasikan apa yang kita punya, sehingga suatu saat kita berhasil membuat kegiatan atau apalah namanya untuk orang-orang di sekitar kita.”

Saya perlahan-lahan mengiyakan dalam hati apa yang Ian katakan, dan membenarkan apa yang dia gambarkan dalam ide-idenya tentang kombinasi potensi untuk kebaikan orang banyak. Hermawan Kertajaya pernah menulis tentang Aa Gym sebagai a spiritual marketer, dan salah satu credo yang disebutkan Aa Gym adalah pentingnya ukhuwah dalam bisnis. Ketika setiap orang memahami pentingnya memberikan kepedulian kepada orang lain untuk mencukupi hak mereka yang ada dalam sebagian harta kita, maka saat itulah perlunya kombinasi potensi supaya usaha yang dilakukan lebih komprehensif dan terarah. Dan kombinasi itu bukanlah sekedar kombinasi, tapi agama kami mengajarkan untuk tidak memedulikan latar belakang suku, agama, dan ras. Melainkan mendasarkan kombinasi tersebut sebagai ukhuwah, atau persaudaraan yang berdasar atas iman, atau seperti yang disebutkan dalam kitab suci dengan tag-line “Berpeganglah kamu sekalian dalam tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai… .” Maka persaudaraan itu tidak akan memiliki tujuan pragmatis dan individualistis untuk menumpuk kekayaan pribadi atau untuk mengambil keuntungan golongan, tetapi untuk sebesar-besar kemaslahatan umat. Ketika ukhuwah berhasil dibangun, saat itulah kita mampu mengkombinasikan apa yang kita punya, sehingga penanganan setiap masalah dalam tubuh bangsa ini akan menemui titik terang yang lebih baik.

“Saya mengusulkan, mungkin suatu saat kita bisa membangun rumah sakit. Kelas kita punya lulusan arsitek, teknik industri, teknik elektro, teknik mesin, teknik komputer, dokter, perawat, bahkan perkapalan dan teknik kelautan bisa kita ajak untuk membuat rumah sakit terapung. Rumah sakit adalah usaha yang lebih dekat dan cukup realistis untuk membantu banyak orang, dan setiap orang di negara ini pasti membutuhkan pelayanan kesehatan memadai untuk menyambung hidup. Kita bisa membuat rumah sakit ini lebih populer dengan pelayanannya yang ekstra-ramah, tentunya dibantu oleh teman-teman yang belajar di studi psikologi, mengatur kerumahtanggaannya oleh mereka yang kuliah di manajemen, ekonomi, perpajakan, atau administrasi dan keuangan. Dan semua tenaga dan potensi itu ternyata dimiliki oleh kelas kita. Akan sangat berdosa sekali kalau kita tidak segera memikirkannya, malah menunda pembahasannya dengan alasan lama tidak bertemu satu sama lain kemudian memilih untuk berhura-hura. Saya tidak ingin mengatakan kalau saya tidak setuju dengan acara bersenang-senang di reuni kelas kita, tapi secukupnya saja, tidak perlu berlebihan. Selebihnya adalah pembahasan konkrit tentang ide kita untuk masa depan kita sendiri dan orang lain. Maka hidup kita akan lebih bermakna, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.”

Mata itu berangsur-angsur tenang, setenang permukaan air danau yang ada di tengah hutan. Yang sendiri karena kesendiriaannya, yang jernih terjaga dari polusi kampret apapun di jaman modern ini. Yang selalu berdiri sendiri, hanya berkawan angin yang menceritakan kepada danau itu hiruk pikuk sisi hutan lain karena sang raja hutan tidak bisa membendung serbuan gajah ke ladang bikinan manusia yang membakar habis seperempat hutan. Mata itu setenang danau yang tidak pernah meluap airnya di kala hujan zenital yang seringkali deras, karena ia mampu mengalirkan sungainya beranak-pinak hingga ke bagian hutan terdalam, sehingga membuatnya bangga karena memberi kehidupan bagi makhluk hidup yang membutuhkan. Airnya tidak mengandung racun, hanya kesegaran surgawi yang ditawarkannya. Dahan tertinggi dari pohon raksasa di tengah hutan pun hidup karena mereguk airnya yang ramah, sehingga kawanan burung pipit tak pernah kehilangan tempat kesenangannya itu untuk bertengger dan bercengkrama sesamanya.

Sayangnya, beberapa dari kami menganggap apa yang diucapkannya itu sebagai euforia anak kuliahan, tak lebih dari celoteh anak kemarin sore yang baru saja keluar dari hutan rimba ke daerah perkotaan yang penuh dengan kepentingan sepihak. Bukan cibiran yang didapat Ian, bukan cemooh yang keluar dari mulut sebagian kami, tapi kami memberikan sikap yang sangat tidak peduli. Sebagian yang lain diam seribu bahasa, dan memilih untuk segera pamit dan memacu sepeda motornya jauh-jauh dari tempat kami berkumpul itu, mirip seorang dengan keputusasaannya melarikan diri dari hidup yang menempanya dengan bara api. Tapi, seperti pemburu liar atau pembalak hutan brengsek yang tidak peduli dengan tawaran program perbaikan hidup generasi mendatang melalui hutan lindung, mereka kemudian mengencingi anak-anak sungai sejadi-jadinya. Maka air sungai itu sampai kapanpun tak akan berubah warnanya, tak akan berkurang kestabilan pH-nya, dan tetap akan mampu memberikan sumbangsih terbaiknya demi hutan tercinta di permadani khatulistiwa yang hijau.

Dan itulah Ian Agung Prakoso, yang agung dengan idenya dan perkasa dengan kontribusinya.

Advertisements