Place/Date/Time: Green House/Kamis, 07022008/05:15am

Angin tiba-tiba berhembus lembut, menyesaki barisan anthurium di kebun depan rumah kami yang berjajar rapat-rapat, sehingga menimbulkan suara ribut yang keras dan sangat mengkhawatirkan. Ayah buru-buru memalingkan muka ke tanaman yang disebutnya gelombang cinta itu, kalau-kalau angin mampu membuat lembaran daunnya patah atau lecet sedikit. Berbagai anthurium ini dirawatnya sejak setengah tahun lalu menjadi tumpukan dedaunan dalam pot besar-besar hingga harganya ditaksir mencapai tiga juta rupiah. Ayah tidak ingin satupun dari tumpukan daun itu rusak. Bukan karena harganya yang mencapai jutaan, tapi karena curahan kasih sayangnya teralih kepada mereka. Entah dimana letak keindahan sang gelombang cinta. Dia tidak berbunga, hanya berwarna hijau monoton tanpa variasi apapun. Menuntut pemiliknya untuk menempatkannya di pot-pot raksasa supaya akarnya yang besar menyebalkan dan menghujam ke bawah itu bisa rakus mereguk air dan nutrisi banyak-banyak dari mediumnya. Bagi saya tanaman itu tak lebih dari seonggok tumpukan daun. Para birokrat penguasa bisnis tanaman telah bersepakat untuk menggelontorkan berita bahwa gelombang cinta adalah tanaman hias terpopuler dekade ini. Semua tak lebih dari ide-ide pengusaha berperut tambun yang berkonspirasi untuk menciptakan tren gelombang cinta. Mereka menguasai pasar dengan menarik orang-orang mabuk yang tak berpikir panjang tentang estetika tanaman untuk menyerbu pasar-pasar gelombang cinta dengan harga tinggi, pada akhirnya semakin mengenyangkan perut mereka yang tambun itu. Mungkin ini representasi akumulasi kecemburuan saya sebagai seorang anak yang jarang pulang kampung, dan ketika sampai di rumah yang didapatinya adalah seorang ayah yang begitu terobsesi oleh tanaman monoton yang samasekali tidak memiliki bunga itu.

Saya beringsut melingkarkan diri ke atas kursi karena angin musim basah ini begitu dingin. Musim menjadi begitu tidak menentu di tahun ini, yang kata orang-orang disebabkan banyak terjadi perusakan alam, sehingga alam pun menghadirkan ketidakseimbangan cuaca yang benar-benar tidak bisa diprediksi. Semalam adalah salah satu ketidakmenentuan cuaca. Hujan deras intermitten mengiringi perjalanan pulang kampung saya. Bertolak dari kampus pukul delapan malam kemarin hari, dengan harapan jalanan lebih lengang sehingga saya bisa mengendarai motor dengan santai dan lebih hati-hati. Ternyata harapan itu sedikit pupus—kalau tidak disebut pesimis, karena hujan telah melunturkan semangat saya sejak sore harinya. Hujan yang seharusnya deras dan ganas di akhir tahun kemarin justru terasa lebih berat di sore itu. Beberapa peristiwa bencana alam berkaitan dengan hujan beringas yang diklaim force de majeur oleh pemerintah rata-rata terjadi pada akhir tahun. Di awali oleh tsunami Aceh tahun 2004, longsor masif di Jember tahun 2005, peristiwa hilangnya pesawat dan kapal laut karena badai lautan di medio 2006 akhir, lalu beberapa banjir hampir di seluruh area pulau Jawa penghujung tahun kemarin. Sangat mungkin hujan kemarin malam adalah sisa-sisa kepenatan alam di akhir tahun 2007 karena tidak ada perbaikan moral dari manusia-manusia penghuni bumi dari tahun ke tahunnya.

Masih merasa lelah karena perjalanan menantang hujan semalam, saya pun hanya memandangi ayah yang sedari tadi melap lembar demi lembar daun tanaman tiga juta rupiah itu. Saya pun sempat berpikir tayamum saja untuk salat subuh tadi, karena tangan ibu sungguh terasa dingin di pergelangan kaki ketika menyuruh saya bangun untuk salat di masjid. Saya semakin beringsut di atas kursi kayu yang dipotong seadanya ini, sambil sesekali melempar pandangan ke langit yang berangsur terang karena matahari semakin meninggi. Justru sinar matahari yang hangat membuat perbedaan suhu ekstrim ketika angin musim basah itu berhembus. Badan saya menggigil dan bersin beberapa kali, tapi ayah masih tampak tekun dan tak terganggu sedikitpun. Seolah sedang memberi makan anak yang lahir dari isterinya, ayah masih tegar di tengah kebun malah mengajak bicara beberapa tanamannya. Memang menurut beberapa majalah tanaman hias yang saya baca, mengajak bicara tanaman yang sedang dirawat akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan tanamannya. Tanaman yang diperhatikan baik fisik maupun jiwanya, akan menunjukan pertumbuhan yang sehat dan kuat, seperti seorang remaja yang mengenal nilai-nilai etika dan siap menghadapi hidup dengan semangat yang membara.

“Sepertinya tanaman itu mengerti apa yang ayah ucapkan,” saya menyela untuk menggoda ayah sambil tertawa kecil, “dia mengangguk-angguk dari tadi, mengiyakan semua ucapan ayah.” Tentu saja lembaran daun anthurium itu bergoyang seiring hembusan angin, dan gesekan di antaranya menimbulkan suara berdesir seram seperti semak belukar yang dirambati ular.

“Hahaha… .” Ayah membalas dengan tertawa singkat, tapi tak menoleh samasekali. “Cuma mengikuti ritualnya saja, kok. Mengajak tanaman bicara bukan menuruti arti harfiahnya. Tapi tanaman-tanaman ini tahu bahwa mereka sedang diperhatikan, dirawat dan diberi kasih sayang. Seolah jiwa pemilik dan tanamannya bertransferensi dalam panjang gelombang yang sama, sehingga frekuensi lembut itu mengalun sesuai harmoninya. Amplitudo akan mengalir dalam urutan puncak dan lembah yang tidak terlalu naik dan tidak terlalu turun, dan urutan itu menjadi dinamis di lembaran daun gelombang cinta ini. Sangat sesuai dengan yang tersebut dalam kitab suci, ‘setiap makhluk hidup selalu bertasbih kepada TuhanNya tapi manusia sekalian tidak mengerti.’ Kalau kita mengeluarkan gelombang positif melalui ucapan yang baik, maka diapun akan beraksi positif. Seperti anak kecil yang baru mengenal orang lain, dia tidak akan takut untuk bergaul jika dia disambut dengan tangan terbuka oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, tanaman ini akan tumbuh dengan baik, selain memang kebutuhan nutrisi dalam medium dan obat anti jamurnya harus cukup.”

Hanya medium anthurium yang berwarna hitam. Medium aglonema, adenium, dan euphorbia di lantai dua kebanyakan berwarna coklat tua. Padahal campurannya hampir sama: cocofin, sekam, bubuk gergaji, arang, sedikit pasir, beberapa genggam pupuk kandang dan obat-obatan dicampur jadi satu. Harus dengan takaran yang seimbang, dan masing-masing dosis bahannya berbeda untuk masing-masing tanaman. Sejak tengah tahun kemarin ayah lebih sering merabuk medium anthurium, dan bisa dipastikan beberapa spesies anthurium mulai berjajar di muka kebun kami. Hanya beberapa caladium diletakkan berdampingan, dan mereka hanya menjadi pemanis saja. Berselang-selang antara jenis caladium pink cloud dan carolyn worthon dengan anthurim jenmanii dan black horse gadungan di barisan depan, lebih dekat ke pagar. Berurutan burgundy, garuda cobra, dan lidah naga menempati tiga pot raksasa di barisan belakang. Saya tidak pernah yakin kalau ayah mampu menumbuhkan sendiri garuda cobra-nya, karena daun garuda cobra lebih memuncak ke atas, tidak tidur seperti milik kami ini. Dalam hati saya menggerutu kepada apa yang ayah lakukan. Mungkin sebaiknya ayah melakukan hal lain yang lebih bermanfaat daripada merawat tumpukan daun ini dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kebun kami yang menjadi penuh sesak dan dingin oleh mereka.

“Memberi perhatian kepada sesuatu mungkin lebih baik daripada melamun. Berimajinasi dan bercita-cita memang diperbolehkan, tapi percuma saja kalau menjadi angan-angan yang tidak realistis, tidak pernah membangun usaha untuk meraihnya, sehingga terbang begitu saja seperti anai-anai ditiup angin,” agaknya ayah menangkap kesan saya yang skeptis daritadi, dan berhasil membaca apa yang saya pikirkan tentang beliau. Melap tumpukan daun ini masih lebih baik daripada menyerah pada udara dingin pagi ini, mungkin begitu yang ingin beliau katakan.

“Kenapa memilih suka anthurium padahal tanaman itu tidak memiliki bunga?”

“Yah, cuma berpikir bagaimana caranya mengisi waktu luang dengan menyenangkan, Nak,” ayah menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mengambil semprotan air yang sudah dicampurinya dengan obat anti jamur.

“Lalu, kenapa anthurium? Bukankah ada tanaman lain yang lebih berwarna karena bunganya?”

“Hahaha… . Sebenarnya ada cerita tersendiri. Kami, ayah dan ibumu, akan bekerja sebagai satu tim dalam aktivitas yang sama di kebun ini. Setiap pagi dan sore, bahkan tengah malam ketika hujan dan angin sempat menimbulkan suara berisik yang merisaukan di kebun ini. Karena kami satu tim, harus bekerja sama merawat tanaman ini. Sama halnya ayah yang setiap pagi sebelum sarapan dan menjelang makan malam harus mengunjungi dapur untuk mengecek kegaduhan apa yang bisa ayah bantu selesaikan, maka ibumu selalu bisa mengajari ayah untuk telaten merawat kebun ini. Tapi ternyata semua itu tidak cukup. Ada yang ingin ayah persembahkan kepada ibumu, kalau-kalau sindroma masa tua mulai menyergap kami. Sesuatu yang cukup sederhana, yang kadang setiap orang tidak mengetahuinya dan membutuhkan penjelasan ekstra panjang untuk orang lain, tapi cukup singkat untuk dimengerti kekasih sendiri.

“Sesuatu yang melambangkan cinta kami bertahun-tahun lamanya diikat dalam sebuah ikatan suci. Sebuah ikatan yang takkan lekang oleh zaman, dan takkan pudar oleh waktu. Ikatan yang mampu melahirkan orang-orang semacam kamu dan adikmu, yang akan mengubah wajah dunia di kemudian hari. Ikatan yang mampu mengajarkan kalian bagaimana menggugah cinta dalam hati setiap orang, pada akhirnya mampu menyadarkan mereka akan kekuatan cinta yang halal, bukan cinta sesaat yang muncul di pagi hari lalu tenggelam di sore hari. Bukan yang ditunjukkan oleh edelweiss, bunga puncak bukit yang terlalu jauh untuk dijangkau, bukan pula oleh euphorbia yang tampak indah tapi sebenarnya menyimpan duri. Dan itulah anthurium, sang gelombang cinta, sebuah perlambang sederhana yang mampu menciptakan gelombang untuk menggetarkan hati sang kekasih.”

Ah, kiranya ayahku sedang dimabuk cinta. Saya mulai memahami mengapa ayah mau bersusah payah merawat tumpukan daun di kebun kami ini. Bukan mereka yang memposisikan diri sebagai tanaman angkuh yang sok kuasa di pot-pot raksasanya, tapi kedalaman makna yang mereka berikan kepada pemiliknya. Mungkin tidak semua penggemar anthurium memahami makna seperti yang dipahami ayahku, karena makna itu sifatnya sangat personal sekali. Tidak heran setiap pecinta selalu egois seperti yang dikatakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi-nya, tapi itu adalah egoisme yang khas. Egoisme yang patut, karena tumbuh dari cinta yang suci dalam ikatan yang halal.

Saya beranikan melawan hawa dingin angin musim basah ini, karena baru saja mendapat teladan dari kehangatan seorang kepala keluarga. Saya kemudian bergerak meninggalkan kursi kayu, menuju ayah di tengah-tengah kebun. Perlahan saya sentuh satu demi satu lembaran anthurium ini, dan melapnya dengan kapas yang ayah saya berikan. Ayah kemudian tersenyum, dan itu adalah senyuman terindah seolah ayah dan ibu baru saja menikah kemarin sore. Pantas saja mereka bersemangat bekerja sebagai satu tim di kebun kami ini, bahkan sampai tengah malam buta. Karena esok harinya sewaktu berangkat salat subuh, ayah dan ibu akan melihat barisan anthurium sang gelombang cinta di kebun kami, dan dengan demikian cinta mereka akan tumbuh semakin kuat tiap hari dengan akar-akarnya yang menghujam di hati masing-masing.

Dan suatu saat saya akan menanam beberapa tangkai gelombang cinta di kebun saya sendiri.

Advertisements