Place/Date/Time: Green house/Kamis, 21022008/05:45am

Bunda begitu saja menenggelamkan beberapa potong chicken nugget beku dalam minyak yang mendidih. Suara mendesis begitu berisik, asap mengepul memenuhi ruang tempat bunda berkarya di rumah kami. Chicken nugget tadi saya ambil dari dari freezer dalam keadaan beku. Kata bunda, sebenarnya tidak bagus langsung menggoreng daging beku, karena bagian dalam daging itu akan lebih sulit ditembus panasnya minyak. Chicken nugget adalah daging olahan yang sudah matang dari pabriknya, jadi tidak masalah kalau digoreng dalam keadaan beku. Yah, matang tak matang, setengah matang juga matang. Tapi, tepung di bagian luar akan lebih sulit bertahan kerenyahannya karena kandungan airnya masih banyak tersisa. Lebih baik chicken nugget atau daging apa saja dibiarkan saja atau direndam sambil menunggu esnya mencair. Terutama direndam dalam perasan jeruk nipis, supaya lebih lunak dan lemaknya banyak meluruh. Ikatan antar protein otot itu akan lebih mudah dikacaukan oleh asam dari perasan jeruk nipis, sehingga daging menjadi lunak dan lebih mudah diolah. Tentu saja, bunda belum pernah merendam chicken nugget dalam air asam atau garam, karena rasanya akan menjadi semakin aneh.

Di Prancis sana, daging direndam dalam anggur untuk lebih memunculkan aroma manisnya. Daging yang direndam dalam anggur tidak boleh digoreng dalam minyak. Minyak akan larut oleh alkohol yang dikandung anggur dan meresap ke dalam daging, sehingga di mulut muncul rasa seperti lemak beku yang kata orang Jawa ngendhal. Daging ini harus dibakar atau dipanggang dengan api yang cukup. Karena adanya alkohol dari anggur itu, panas dari api akan lebih mudah menyebar ke setiap bagian daging. Daging lebih mudah matang, panasnya bertahan lama, proses pemasakan lebih cepat, sehingga tidak banyak protein yang hilang terpanggang. Rasa manisnya pun tetap melekat. Cara ini sesuai dengan pola hidup sehat mereka yang menjauhkan diri dari lemak. Tapi belum menjauhkan diri dari alkohol, ya.

Selain itu, proses pemasakan tanpa minyak memang telah cukup berkembang di negara maju. Bahkan entah sejak jaman kapan, masyarakat Jepang terbiasa mencelup daging ikan tawar dalam cuka. Tidak dimasak? Jangan salah sangka dulu. Kata dr. Nanik, dosen ilmu kesehatan masyarakat di kampus saya, ternyata pencelupan daging dalam cuka itu sudah bisa dikatakan sebagai proses pemasakan. Daging ikan yang tersusun dari serat otot white-matter ini, lebih mudah bereaksi dengan asam dalam cuka, karena susunan protein dalam serat-seratnya tidak begitu rumit. Serat otot white-matter tidak memiliki myoglobin. Di sinilah oksigen dan nutrisi dibakar untuk pergerakan sang ikan. Proses ini yang disebut pembakaran aerobik pada serat otot red-matter yang memiliki myoglobin. Tapi pada serat white-matter, yang terjadi adalah pembakaran anaerobik. Pembakaran ini tidak memerlukan proses yang bertingkat untuk mengelola oksigen. Energi yang dihasilkan memang tidak sebesar pembakaran aerobik, tapi prosesnya lebih cepat untuk menghasilkan energi. Sehingga, serat otot white-matter ini dimiliki ikan-ikan lincah yang suka bergerak gesit, dan mereka terdapat pada arus sungai deras yang tidak terlalu dalam.

Bunda pernah mencoba mengganti anggur dengan cuka apel manis, karena alkohol memang sudah diharamkan di agama kami meski sedikit saja. Lagipula, cuka apel memang berkhasiat melunturkan kolesterol. Hasilnya, daging memang beraroma harum dan manis, tapi rasanya jadi campur aduk. Manis dan gurih, tapi terlalu kuat karena asinnya keluar dari cuka yang asam. Daging sapi itu seharusnya punya rasa manis yang bisa muncul dan lepas di sela-sela gigi, dan tetap berada di sana  oleh rasa asamnya. Tapi karena ada rasa asinnya, semua rasa jadi tertahan dan terkumpul di tepi dan pangkal lidah. Siapapun yang memakan akan menjadi cepat puas oleh rasa itu, dan tidak merasa misterius lagi. Akibatnya, waktu itu saya dan adik tidak ingin nambah satu porsi pun.

Spontan saya menarik tali yang menjadi tuas blower dapur. Asap-asap itu tersedot berarakan keluar ruangan setelah sebelumnya membubung tinggi di langit-langit dapur. Seluruh dapur jadi berasa gurih, menggambarkan rasa chicken nugget yang renyah dangan asin yang pas. Dagingnya empuk dan tidak meleleh, cukup praktis untuk sarapan pagi ini. Rasanya pun tidak terlalu rumit dan bisa diterjemahkan oleh lidah siapa saja. Bagi saya yang terbiasa kos dengan uang saku yang sering habis karena pos-pos telekomunikasi terlalu menggelembung, tidak pernah merasakan masakan yang meski praktis namun penuh gizi ini. Selama di kos, sarapan selalu jam 10-11 pagi. Lebih tepatnya disebut brunch, breakfast and lunch. Kalau malam, menunya tempe penyet. Selalu tempe penyet. Sehari cukup dua kali makan. Tapi makan malam saya selalu porsi satu setengah, belum lagi tengah malam kalau kami cangkruk di warung kopi. Kata Anas, saya punya pola makan ‘balas dendam’. Seperti orang buka puasa yang memasukkan apa aja di meja makan, yang kata orang Jawa nggragas alias rakus. Saya tidak berusaha rakus, hanya makan porsi sesuai ‘kebutuhan’ saja.

“Namanya juga perjuangan, Nak,” kata bunda kali waktu, “kamu harus terbiasa hidup susah supaya kamu tahu rasanya orang berjuang mempertahankan hidup. Orang-orang di sudut kota, di kolong jembatan, gelandangan di manapun, mereka tidak pernah berpikir untuk sekolah, beli pakaian yang layak, sepatu untuk anaknya… Bagi mereka sangat tabu memikirkan hal-hal semacam itu, karena untuk makan saja sangat susah. Daripada semakin lapar karena memikirkan hal-hal yang tak mampu mereka raih, lebih baik memikirkan cara bagaimana bisa makan hari ini, dan bertahan hingga besok pagi. Yang penting perut terisi dan semua anggota keluarga bisa tersenyum, meski berulang kali menelan pil pahit kehidupan. Yang penting semua anak-anaknya nyaman, meski satpol PP selalu ngejar-ngejar mereka. Bukankah berulang kali merasakan pahit akan membuat orang lebih terbiasa? Lagipula, kita baru bisa merasakan manis kalau tahu bagaimana rasa pahit, kan?”

“Masa separah itu, Bun?”

“Ya, kamu lihat sendiri kan, Nak? Baru kemarin di Jakarta dibuat rencana peraturan yang akan menertibkan mereka yang mengais nafkah di jalanan. Ya, ya. ‘Menertibkan’…” kata bunda sambil melotot ke arah chicken nugget yang mendesis ketika digoreng. Bunda segera menyipitkan matanya karena asap itu tiba-tiba membubung ke wajahnya.

“Semua ‘kan demi mereka sendiri. Kasian kan, kalau hidup di jalanan terus-menerus. Selain tidak terjamin, premanisme sekarang marak, Bun! Apalagi di kota besar seperti Jakarta. Di jalan berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Bahkan penghuni rimba pun tak segan memakan daging penghuni yang lain.”

“Tahu darimana kalau mereka bakal dapat hidup lebih layak, Nak?”

“Ya, pastinya, lah,” sebenarnya saya juga tidak begitu tahu, “tapi saya yakin, Bun, seperti yang selalu diberitakan, mereka akan mendapat binaan dari dinas sosial supaya bisa menguasai keterampilan tertentu. Sehingga mereka bisa hidup lebih layak karena pekerjaan mandiri yang mereka lakukan.”

“Sekarang kita bicara soal pola pikir, Nak. Mengubah pola pikir mereka tak semudah membalik telapak tangan. Mengubah pola dasar kehidupan mereka tidak secepat mengedipkan mata. Usaha menertibkan mereka harus dibarengi usaha lain yang cukup efektif untuk mendidik mereka. Mungkin pemerintah kota Jakarta punya metode bagus untuk membekali mereka dengan keterampilan, tapi mana? Belum pernah dengar. Balum pernah ada berita tentang sekolah khusus anak jalanan, misalnya. Yang ada ya, kumpulan anak muda seusiamu yang bikin kelompok belajar, seperti Sanggar Alang-alang di Surabaya, ya kan? Bukankah demikian yang diajarkan Rasul kita, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Kita juga tidak pernah diajarkan untuk menyalahkan orang dan mencari kambing hitam, kan? Otakmu cukup kreatif untuk mencari kambing, tapi yang ditemukan hitam semua. Bahkan kambing putih dicat hitam.”

“Namanya juga media, Bun. Pers ‘kan bisa memilih mana berita yang diberitakan, mana yang disimpan. Sekarang hampir semua opini publik bisa dibentuk dari media, Bun. Seperti kata Alvin Toffler, dunia sekarang dikuasai tiga kekuatan, pemerintah, pihak oposisi, dan pers. Yang tidak bisa menguasai pers, siap-siap saja kalah.”

“Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda,” ujar bunda ringan sambil mengangkat chicken nugget dari penggorengan, meniriskannya sebentar, lalu menatanya di atas piring. Beberapa daun mint dan potongan tomat diletakkan di salah satu sudut, sehingga tatanan chicken nugget itu lebih sedap dipandang. Meski mengundang selera, saya jadi tidak tega memakannya. Saya panggil adik supaya dia sarapan dulu. Jadi tidak ada perasaan bersalah buat saya sebagai pengacak-acak pertama chicken nugget bunda.

Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda. Kata-kata itu meluncur saja dari mulut bunda. Mungkin bunda melihat bahwa percuma saja mendebat seorang anak muda di depannya. Daripada energi kami habis membahas sesuatu dari sudut pandang masing-masing, lebih baik memikirkan konsep permasalahannya sebentar, lalu merencanakan aksinya lebih matang. Seperti kata seorang mantan presiden Amerika, kalau saya punya tujuh jam untuk menebang pohon, maka saya habiskan enam jam untuk mengasah gergajinya.

Entah mengapa hampir setiap orang tua suka menilai berlebihan kepada anaknya yang dibilang baru menginjak usia remaja, yang sedikit saja punya pikiran menerobos. Menerobos? Itu istilah yang dipakai Andrea Hirata. Sepertinya sangat wajar kalau siapa saja yang disebut anak muda punya pikiran yang kadang berseberangan dengan pengalaman yang dimiliki orang tua. Sehingga sangat wajar pula seorang anak muda harus mendengar dan menuruti nasehat orang tua. Supaya roda kehidupan ini menggelinding ke arah yang lebih baik, dan generasi penerus tidak perlu mengulangi kesalahan yang pernah dibuat generasi sebelumnya. Kata Billy Lim, mereka bisa saja mendapat setiap pengalaman itu dengan darah, tapi kau cukup mendengarkannya dengan gratis. Itulah pentingnya komunikasi antara yang tua dengan yang muda. Soal ini, Kahlil Gibran pernah berpendapat demikian, “jika kau tidak menerima pendapat mereka, maka dengarkanlah mereka dengan tersenyum, karena telinga mereka telah mendengar suara-suara zaman dan mata mereka telah melihat wajah-wajah tahun.”

Lagipula debat sebelum sarapan ini tidak baik untuk kesehatan. Diskusi boleh, tapi tidak untuk debat. Kasihan otaknya sudah teracuni adrenalin yang berlebihan. Siapa bilang adrenalin baik karena sanggup memacu tubuh untuk bekerja lebih cepat dan giat? Adrenalin itu sendiri yang menjadi superoksid, dan menyebabkan stres oksidatif pada endotel pembuluh darah. Permukaan bagian dalam pembuluh darah menjadi tidak rata, dan keping-keping trombosit dengan mudah nyangkut di sana. Kemudian ada reaksi inflamasi terpacu yang menarik semua sel-sel inflamasi seperti makrofag dan kawan-kawan, masuk ke bagian tengah dari lapisan dinding pembuluh darah melalui sela-sela endotel yang rusak tadi. Akibatnya, bantalan lemak di sana dilahap oleh makrofag, jadilah makrofag sebagai sel busa. Ya, sel busa. Pernah lihat busa, kan? Karena disesaki sel busa itu, dinding pembuluh darah menggelembung lalu membuat sempit diameter pipa pembuluh darah. Peredaran darah tidak lancar, dan jaringan atau organ yang dituju tidak mendapat suplai nutrisi dan oksigen yang cukup. Kalau hal ini terjadi di otak, siap-siap saja kena stroke.

Yah, anak-anak jalanan itu, orang-orang yang di sudut-sudut kota, para gelandangan yang hidup di kolong jembatan, tidak akan pernah berpikir tentang stroke, stres oksidatif, sel busa… . Pikirannya nggak nutut, bahkan sangat tabu memasukkan hal-hal semacam itu di pikiran mereka. Mungkin mendengar saja tidak boleh. Mendengarnya akan membuat mereka bermimpi. Mimpi hanya akan membuat mereka terbang sementara tubuhnya masih bergelimang di tanah bumi yang paling bawah. Bagi mereka, mimpi adalah haram hukumnya. Karena mimpi membuat mereka berangan-angan, sedang angan-angan tak lebih seperti bioskop murah di tengah Pasar Kembang Surabaya yang dindingnya bisa dipanjat supaya tidak perlu beli tiket untuk nonton filmnya. Bioskop yang selalu memutar film-film yang sangat dekat dengan syahwat. Film yang memabukkan, yang menerbangkan mereka ke negeri khayalan, tinggi dan jauh tinggi, lalu menghempas mereka sangat keras ke tanah batu karang kehidupan ketika kembali ke dunia nyata. Jadi, meski gratis dan menyenangkan, bermimpi bagi mereka adalah haram hukumnya.

Memikirkan mereka membuat saya merasa sangat tidak berhak menggigit chicken nugget ini. Makanan ini memang praktis, tapi cukup mewah dibanding apa yang bisa mereka makan. Makanya saya keburu menyuruh adik saya diam ketika dia menggerutu, “Chicken nugget, lagi?” Saya melotot ke arahnya, dan dia cukup cerdas untuk berhenti bicara lalu melanjutkan melahap sarapannya. Orang-orang itu, bisa jadi tak kan bisa berkumpul seperti ini dengan sanak familinya. Sebenarnya siapa yang membuat mereka seperti itu?

Saya jadi ingat istilah isolasi di pelajaran ilmu kesehatan jiwa semester kemarin. Mereka tetap bertahan dengan pola kehidupan yang sangat melarat, tidak pernah berpikir untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mereka berhenti menyalahkan pemerintah, karena pikiran semacam itu termasuk pikiran tabu yang bisa menyeret mereka ke jurang kelaparan lagi. Mereka dengan pasif menjalani kehidupan sambil tetap mempertahankan status kemelaratannya. Sehingga mereka lebih bisa bahagia dengan sedikit saja rejeki yang mereka terima, tanpa perlu memikirkan konsekuensi apabila menerima rejeki yang lebih dari biasanya . Tapi, mereka tidak bisa disebut bahagia, juga tidak bisa disebut sengsara. Yah, mereka yang memilih kondisi seperti itu, sebut saja bahagia karena menerima kesengsaraan. Be Happy!, bahkan buku itu mengatakan, “Silakan bersedih sesering yang kamu inginkan, jika kesedihan bisa membuat hidupmu lebih bahagia!”

Maka tiap santunan kita kepada mereka adalah usaha untuk mengajak mereka bercita-cita. Cita-cita bukanlah mimpi, dan tidak akan menjadi haram hukumnya karena dirangkai dengan usaha nyata. Setiap uang receh yang disisihkan buat mereka, sebenarnya untuk lebih menginspirasi bahwa mereka juga bisa melakukan hal yang sama kepada saudaranya yang lain. Tidak perlu menyalahkan pemerintah, nasib, takdir, atau siapapun. Apa yang bisa dilakukan, kita lakukan. Mungkin ini yang bunda maksudkan tentang mengubah pola pikir, yakni mengajak mereka bercita-cita. Kalau mereka telah berani dan mampu bercita-cita, maka tinggal selangkah lagi bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda. Kata itu terus berdengung di telinga saya. Dan sekaranglah saatnya bagi kami, anak-anak muda, untuk memberi perhatian bagi sekeliling kami. Inilah era kami, ikan-ikan gesit yang bergerak lincah menentang arus kosmopolitan yang abu-abu. Kami lah ikan-ikan muda yang membawa arus perubahan untuk masyarakat yang mau berbenah. Kami akan memberi cetak biru untuk setiap perubahan. Kami harus konsisten berenang memecah arus pola pikir bizarre yang telah membesar menjadi anak-anak sungai. Pola pikir yang terlalu muluk untuk membuat keindahan semu akan masa depan di kota metropolitan. Kami harus berani karena tubuh kami mengandung white-matter sebagai modal bergerak cepat. Kami tak akan tergiur dengan daging sapi yang telah dilumuri anggur. Karena keindahan itu semu.

Keindahan yang sebenarnya adalah ketika semua orang berani bercita-cita. Ketika semua orang berani untuk berbenah. Untuk mereka. Untuk kami. Untuk siapa saja. Untuk bangsa? Ah, sepertinya terlalu jauh kalau untuk bangsa ini. Nanti saja ketika usia saya sudah kepala limaan. Kalau sekarang, lebih baik berpikir apa yang bisa dilakukan bersama orang-orang di kanan-kiri kami. Karena masyarakat di tingkatan akar rumput masih perlu untuk diberdayakan, diajak berusaha, dan yang lebih penting, dipandu untuk berani bercita-cita. Suatu saat, jika kami harus pergi dari dunia ini, biarlah kami mati berlumur cuka, bukan anggur.

Saya menghela napas panjang. Bunda di seberang meja masih memperhatikan adik yang sedang makan. Saya tersenyum kepada adik, kemudian membelai rambutnya yang telah dipotong dengan model layer. Iya, ya. Sangat sering bunda membuatkan chicken nugget buat sarapannya. “Bunda, sering masak chicken nugget, yah? Kalau memang repot, kenapa nggak ngajak pembantu saja?”

“Pembantu? Nggak usah, deh. Biar bunda saja yang masak. Kalau pagi yang sarapan cuma adikmu. Makanya bunda praktis saja buat sarapan. Kalau makan malam memang harus istmewa, karena waktunya makan bersama-sama. Lagipula babemu masih suka memuji masakan bunda.” Bunda tersenyum bijak. Dasar, ternyata karena sindroma masa tua.

Memang menyenangkan rasanya memasak untuk orang yang dicintai. Kalau ada seseorang yang memasak untuk saya, pasti saya puji. Kalau dia isteri saya, seketika saya kecup keningnya.

Advertisements