Si mbok uda berkorban ngeluarin duit banyak buat kamu sekolah. Bapakmu njual dua ekor sapinya buat tambahan kuliah. Dan sekarang kamu ikut demo?

Sekolah jauh-jauh, merantau ke kampung orang, mengadu nasib demi pendidikan yang ngga dimiliki anggota keluargamu. Kamu bakal jadi sarjana, dan kamu satu-satunya sarjana di silsilah keluargamu. Si mbok, bapak, gendhuk, paklik, pakdhe, dan seterusnya cuma tahu kalau kamu bakal sekolah di perguruan tinggi. Jadi insinyur. Dokter. Arsitek, atau apalah namanya yang dijelaskan sampai ujung manapun si mbok ngga akan ngerti. Si mbok cuma tau kamu merantau di kampung orang, dan si mbok berharap kamu pulang dengan selembar kertas yang orang sebut itu ijasah, dan namamu ditulis panjang-panjang, S.E, S.H, dr. Sp PD, S. Kom, padahal dulu si mbok ngga pernah kasih sebutan itu di belakang namamu.

Si mbok tau kalau kamu pasti membuat beliau bangga. Dielukan orang sekampung. Gampang cari jodoh karena orang bilang kamu pulang sebagai sarjana. Bukan sebagai tukang sayur, tukang buah, blanthik sapi, tapi sarjana.

Kamu bakal mengangkat martabat keluarga.

Dan kamu ikut demo?

Tapi mbok, katamu. Saya cuma berharap BBM ndak naik. Jadi si mbok bisa beli minyak tanah murah. Buat masak juga ndak susah. Duit yang ada di bawah amben bisa dibagi buat beli ayam sama nyicil kompor yang kata orang pake gas itu, mbok. Bapak kalo mau pergi ke sawah Pak Lurah juga ndak susah to? Soalnya bensinnya murah. Jadi bisa lebih sering ke sawah. Nanti bisa ikut kerja di kebun jeruknya Pak Carik. Ya kan, mbok? Oiya, lagipula, kata bapak kompor di rumah kan ndak bisa pake gas, jadi harus ngutang lagi buat beli kompor baru ke Pak Lurah. Gasnya juga dijatah dapat satu tengki, mbok. Sebulan juga habis. Mbok mau beli gas juga mahal. Coba bapak suruh tanya ke Pak Lurah, yang disubsidi kompor gas di kampung siapa saja? Jatahnya bagaimana, cukup buat berapa bulan? Saya bantu biar BBM ndak naik ya, mbok. Mumpung di kampung orang dan banyak juga yang bantu di sini.

Si mbok dan keluarga yang lain toh lebih merestui kamu belajar yang tekun supaya lulus kuliah tepat waktu. Supaya kamu bisa mengangkat derajat keluarga.

Bilang sama si mbok, saya sedang menjaga martabat bangsa. Jangan cuma mau menurut saja sama kapitalis internasional yang sok mematok harga BBM dunia disamakan dengan harga di New York. New York mbok, di Amerika sana. (Ah, si mbok taunya Amerika cuma dari Suleman anak sebelah yang rambutnya dibuat berdiri ke atas pake minyak itu.) Ngapain kita mesti ikutan? Asal pemerintah kita berani bersuara, mau melobi negara lain, dan mau tegas mengambil sikap, sepatutnya semua orang juga sadar bahwa kita tidak harus berkiblat ke Barat. Para ahli yang diajak diskusi pak presiden mungkin paham benar dengan kondisi dunia. Mereka mungkin punya akal, tapi tidak punya hati. Tidak bisa merasakan penderitaan si mbok di kampung. Wajar, rumah mereka besar-besar, punya AC, jadi mereka ndak tau susahnya si mbok memeras keringat buat sesuap nasi. (Eh, si mbok tau kulkasnya Pak RT? Nah, AC tuh bisa niup angin sedingin kulkas, mbok. Anggap aja AC tu kulkas yang nempel seperti jam dinding yang saya pasang kemarin, mbok. Bayangin rumah kita di kampung punya AC, mbok. Satu rumah jadi dingin kan, mbok? Jadi rumah kita ndak perlu apek gara-gara bau bapak yang lebus sepulang dari sawah Pak Lurah.) Menjaga martabat bangsa juga berarti menjaga martabat si mbok dan orang sekampung, kan. Si mbok pasti bangga kalau saya dan teman-teman memperjuangkan nasib si mbok ke hadapan pak presiden. Pak presiden langsung, mbok! Orang sekampung juga pasti bangga. Ya kan?

Si mbok ngga ngerti istilah kapitalis internasional… Tapi, bagaimana martabat bangsa bisa naik? Rupiah tiba-tiba melemah begitu berita tentang demo yang anarkis dan berakhir rusuh tersebar ke seluruh pelosok negeri. Bahkan pengunjung sektor pariwisata merosot karena stabilitas bangsa kita diragukan kembali. Ngga usah terlalu jauh sampai mikirin negara, lebih baik mikirin mbok yang sudah susah sekolahin kamu, supaya bisa menaikkan martabat keluarga. Belajar rajin dan lulus tepat waktu, supaya duit si mbok ngga sia-sia buat kamu.

Justru saya memikirkan nasib si mbok, kalau pemerintah tidak sepenuhnya memberi perhatian kepada wong cilik seperti si mbok. Masih banyak juga si mbok lain yang dimiliki bangsa ini. Mungkin pak presiden juga dilahirkan dari rahim si mbok yang mirip si mbok kita. Saya yakin pak presiden juga merasakan hal yang sama seperti yang saya dan teman-teman rasakan, betapa menderitanya si mbok di negeri ini jika kebijakan BBM ini diterapkan. Hanya saja pak presiden belum berani bermanuver yang nyata demi wong cilik.

Ah, lagipula martabat keluarga kita mau dinaikkan sampai ke mana, mbok? Belum tentu kalau derajat keluarga kita semakin naik, semakin naik pula kesejahteraan hati kita. Lha wong orang-orang kaya itu juga sudah nyaman sama kasurnya, mbok. Ndak ingat sama saudaranya yang bahkan mengais sampah buat cari makan. Negeri ini pincang, mbok. Orang kalau sudah berada di atas sudah gampang lupa, bahwa dirinya dulu bukan siapa-siapa. Kebanyakan orang yang pingin cari martabat itu, berusaha menjilat atasan, menginjak bawahan, sikut kanan sikut kiri. Harusnya kita lebih bangga jadi wong cilik tapi masih tahu diri, mbok. Masih ingat, eling sama siapa diri kita. Eling bahwa kita ini bukan siapa-siapa di dunia ini, karenanya kita tidak menjadi sombong.

Mengertilah perasaan si mbok. Si mbok berharap kamu pulang bawa ijasah yang bikin namamu tambah panjang, bukan bawa nama saja tanpa kertas. Atau malah namamu tertulis di koran dan disebar ke seluruh kampung lewat TV, kamu jadi pahlawan BBM. Si mbok lebih bangga kamu jadi sarjana, bukan terkenal sebagai pahlawan yang bahkan si mbok tidak bisa melihat kamu sesudahnya, karena kamu mendahului si mbok. Kamu kembali ke kampung halaman dengan tubuh yang terbujur kaku, bahkan mungkin sudah tidak lengkap lagi. Kamu tega sama si mbok? Sekali lagi mengertilah perasaan si mbok. Ringankanlah beban beliau.

Lalu, siapa yang meringankan beban saya di akhirat?

Maksudmu?

Beban seseorang yang tahu itu sangat besar. Saat ini mungkin diam bukan lagi emas. Saya bukan seorang ahli, tapi sedikit banyak tahu tentang kondisi bangsa ini, dan bagaimana seharusnya kita bersikap. Saya tidak bisa acuh begitu saja melihat suatu kebijakan yang tidak berpihak pada wong cilik, penghuni sebenarnya negeri ini. Ada amanah penderitaan rakyat yang kami emban. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, kan? Dan sudah diajarkan pada kita semua, setiap manusia mungkin merugi, kecuali salah satunya mereka yang saling menasihati dalam menetapi kebenaran. Dan kebenaran sejati adalah apa yang saya lihat pada si mbok-si mbok yang ada di negeri ini. Ini adalah bagian dari proses mengingatkan saudara kita yang lain. Sehingga saya bisa menjawab pertanyaan malaikat saat di liang lahat nanti. Kalaupun saya kembali ke kampung sebelum bisa memanjangkan nama saya, bahkan dengan tubuh terbujur kaku yang tidak lengkap sekalipun, saya masih bisa bertemu si mbok di akhirat. Melihat senyum beliau dengan wajah berseri, dengan tubuh yang lengkap dan sewangi kesturi.

Jadi, kau tetap berangkat demo meski anarkis dan berujung tragis? Bukankah kebanyakan demo itu proyek mercusuar mahasiswa dan belum tentu didengar oleh pemerintah?

Bukan mercusuar, bukan samasekali. (Ah, lebih pas kalau menyebutnya ‘aksi’.) Saya tidak tahu aksi-aksi yang lain, tapi sangat sayang sekali jika aksi itu hanya sebuah acara show of force dari suatu organisasi. Sungguh sebuah kehinaan yang sangat besar bagi mereka yang aksi hanya untuk unjuk gigi. Perbuatan mereka tidak akan bisa dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Organisasi hanya penaung, wadah supaya aksi kita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bukan aksi yang anonim. Isu yang kita bawa jelas, dan cara kita harus seelegan mungkin, tanpa perlu melakukan tindakan anarkis. Itu hal yang sangat zalim. Tapi, sebuah kezaliman yang sangat besar jika pemerintah sebagai pengemban amanah rakyat malah membuat kebijakan BBM ini tidak mensejahterakan rakyatnya. Apalagi dengan kompensasi BLT yang mengesankan memberi permen kepada anak yang sedang menangis. Rakyat tidak bisa dianggap seperti anak kecil lagi. Di kampung kita, orang-orang bahkan menyuruh Pak RT mengembalikan dana BLT, kan? Itu salah satu bukti bahwa rakyat kita sudah cukup cerdas. Pemerintah sudah sepantasnya paham betul akan hal ini. Beliau dipilih bukan untuk mencekik rakyatnya, dan sebagian besar rakyat siap jika diminta berdiri di belakang presiden untuk mempertahankan bangsa ini. Ya, karena banyak si mbok yang harus kita lindungi dalam teritori negara ini.

Kalau demonya anarkis?

Kalau demonya anarkis, mungkin saya harus segera lari. Lari sekencang-kencangnya.

Lari? Kok lari?

Ya, lari. Lari untuk menyelamatkan wajah bangsa ini. Memang tidak seharusnya berujung anarkis. Kalau pun demikian, sudah semestinya para intelektual idealis yang turun ke jalan itu segera menarik diri dari lapangan. Kami, turun ke jalan adalah untuk menyuarakan dan mengingatkan pemerintah tantang apa yang dihadapi rakyat negeri ini. Bukan untuk melawan aparat, tapi untuk menyelamatkan kawan-kawan yang akan diciduk. Harus defensif-aktif, bukan progresif-aktif.

Tapi bagaimanapun logika idealismemu, si mbok tentu tetap berharap kamu kembali. Masih ada waktu untuk memutuskan tidak perlu menggunakan logika idealismemu itu, dan tetap di sini untuk menunjukkan baktimu kepada si mbok.

Kalau begitu sampaikan salam hormat saya kepada si mbok, katakan kalau saya betul-betul mencintainya. Juga kepada semua si mbok yang ada di negeri ini. Katakan, tidak sedetik pun saya melupakan beliau.

***

Ditulis untuk memperbaharui kembali sebuah logika yang sudah seharusnya tidak berhenti hanya di ukuran dunia, tapi harus berkesudahan di akhirat.

Advertisements