Place/Date/Time: Green house/07062008/8:42pm

Apa yang kamu lakukan jika ketika kamu sudah pe-we (posisi wuenak) mau belajar buat ujian, tiba-tiba salah seorang anggota keluargamu meminta bantuanmu menyiapkan arisan?

I’ll go for it. Ya, meski membutuhkan sekitar tiga puluh menit to ignore and try to keep focus in what I am doing, tapi dalam hati lama-lama ga enak juga. Saya sengaja mengambil sikap diam-tanda-protes, tapi sepertinya babe mengacuhkan. Semenjak saya kos, sekitar kelas satu cawu-3 waktu itu, babe mulai memperlakukan saya seperti seorang anak muda yang sudah free-to-decide what am doing for my life. Beliau tidak banyak mengatur, tapi menyerahkan sepenuhnya mau jadi apa saya ini. Waktu itu, seringkali beliau bilang, “Terserah kamu, lho. Kamu yang ngatur hidupmu sendiri.” Kalimat ini baru saya sadari maknanya, ya, beberapa hari terakhir ini. Saya pikir waktu itu babe sudah desperate punya anak seperti saya, yang nggak ngerti seberapa besar orang tua menaruh harapan di pundak ini. Haha… Saya yakin, tiap orang tua pun—seburuk apapun mereka seperti di telenovela itu (telenovela=novel yang bertele-tele)—pasti membanggakan anak-anaknya jika mereka mampu mencetak prestasi. Hanya, standard orang tua tentang sesuatu yang disebut prestasi itulah yang berbeda-beda. Dan tentu saja, cara penyampaiannya pun berbeda.

Ruang keluarga tempat saya melumat handout fisiologi obstetri berbatasan langsung dengan teras dan taman depan. Babe terus saja menyapu dan menyingkirkan segala dedaunan yang ada disana. *Agak repot juga ya, lha arisannya di teras, koq bersih-bersihnya sampai taman depan.* Bunyi rambut sapu yang mengusir dedaunan coklat itu sangat mengganggu. Seperti terus-menerus menyindir saya. Whatever, saya harus ujian , dan tidak ada alasan yang lebih logis untuk membuat saya tetap berada di sini, kencan sama handout Prof Agus Abadi.

“Mas, tolong pindahin sepedamu ke garasi, ya?,” teriak babe dari taman depan.

Oke, there’s no big thing to deal with. Saya pindahin motor, selesai urusan.

Ah, ternyata tidak sesederhana itu. Begitu melihat saya, babe memasang tampang melas (melas, Jawa=kasihan sama dirinya sendiri), kuyu, belum mandi *emang, sih…*, campur sedikit marah dan sedih *entah kenapa saya mendramatisirnya begitu*, lalu serasa capeekk banget ngurusin anak seperti saya. Haha… Tapi di rumah ini, hanya saya yang minta toleransi. Adik saya yang sedang persiapan SNM-PTN pun tidak menolak mengantar bunda belanja ini-itu. *Secara, belanja memang faktor penting untuk mengembalikan mood fisiologis seorang wanita, haha…*

So, what am doing? Sitting down here and acting like a 3-years-old boy, hungry, angry, cry, and hoping elder people give some food to me. But my mind try to deal with my self that helping people arround is the best way to keep them silent. *Ah, nggak banget, sih.* Besides, helping people is not about they need you, but you need them to flow down your energy. Your energy need to be synchronized with everything surrounds you, so yours will be guided to maximum performance for your best life. Secara tak sadar, berpura-pura tidak tahu saat orang lain membutuhkan, ibarat membuang sampah dalam kolam cakra kita. Semakin lama, aliran dalam kolam itu akan terhambat, sehingga cakra kita tidak akan mengalir lebih baik lagi.

*Haha… paragraf tadi terinspirasi oleh Uncle Iro dan The Guru di Avatar The Last Airbender.*

Saya menghela napas panjang. Sesekali saya mencuri pandang ke arah babe menembus gorden tipis di ruang keluarga ini. Tidak lama, saya sudah berada di teras.

“Apa planningnya, Be?”

“Kosongin ruang tamu. Pindahin semua barang yang ada di sana ke tempat lain. Kita punya garasi sama ruang tengah.” Singkat, padat, dan tidak perlu bertele-tele. Prinsip efektivitas bekerja sama, adalah ketika kau mampu membuat rekan kerjamu paham tentang tujuan pokok dari kerja tim ini. Selebihnya, serahkan pada inisiatif, kreativitas, dan etos kerja masing-masing individu dalam tim.

Siang tadi bunda sudah bilang akan ada 32 orang selepas isya nanti. Tentu saja, ruang tamu dan teras depan harus disiapkan untuk ibu-ibu sebanyak itu.

Baguslah, waktu arisannya selepas isya. Sekarang sudah 17.20, sebentar lagi magrib, tapi tidak akan cukup waktu antara magrib dan isya untuk mempersiapkan semuanya. Tujuannya, ruang tamu kosong dan teras depan harus lebih longgar. Garasi dan ruang tengah bisa dipakai buat parkir sementara barang-barang itu. Sepertinya, mindah sofa ruang tamu tidak akan lama. Yap, kami masih bisa mengejar magrib. Yang jelas, semua sofa harus keluar dari ruang tamu dulu, ngaturnya belakangan.

Semua sofa sudah keluar. Secara simultan saya dan babe membuat ruang tamu baru di garasi. Ternyata tidak bagus juga memaksakan beberapa sofa lagi di garasi ini. Apalagi nanti motor adik harus parkir di sini. Jadi kami harus pakai ruang tengah. TV dan dua radio yang sudah beberapa minggu mangkrak di sana, kami masukkan mobil. Mau tidak mau, babe harus segera mengantar mereka ke tempat service. Lalu beberapa sofa dan satu meja kaca kami pindah ke ruang tengah. Terakhir, keyboard Yamaha milik adik kami pindah ke ruang makan.

Persis dua puluh menit. Adzan magrib sudah lewat sepuluh menit. Tapi agak bersalah juga meninggalkan ruang tamu dalam keadaan kotor begini. Lihat, debu yang sudah mendekam lama menjadi garis-garis coklat membentuk jejak kaki sofa yang kami pindah tadi. Bagian dinding tempat punggung sofa bersandar pun banyak sarang laba-laba. Padahal, dinding itu akan menjadi tempat bersandar punggung ibu-ibu yang pernah kelelahan menahan beban perut mereka, yang dulu berisi bayi-bayi kampung ini.

Babe segera mengambil sapu teras, dan membabat dengan hati-hati semua debu di ruang tamu ini. Saya meninggalkan babe ke teras depan, lalu menyingkirkan semua kursi kayu di sana dan membariskan mereka di gang kecil menuju garasi. Tidak ada tempat lagi. Prinsipnya, ruang tamu harus kosong dan teras depan harus lebih longgar. Dan dalam tiga puluh menit, semuanya beres.

Tiga puluh menit seusai salat magrib dan bersih diri, kami semua berkumpul di ruang makan. Adik dan bunda sudah ada di sana, menempatkan satu jeruk dan dua salak dalam satu plastik kecil. Mereka sedang tidak salat, jadi sepulang belanja tadi mereka bisa langsung memulai pekerjaannya.

Saya tanya lagi sama babe, “Apa lagi planningnya, Be?”

“Ngepel ruang tamu sama teras depan. Kamu di sini aja, bantuin adik sama bunda, ya.”

We just spent 20 minutes. Setelah itu, semuanya bisa bersantai. Salat isya juga tidak perlu tergesa-gesa. Sambil menata snack di beberapa piring sebagai suguhan, saya dan adik ‘terpaksa’ harus uji-kendali-mutu snack-snack ini beberapa kali supaya benar-benar yakin mereka layak disuguhkan.*bilang aja nyemil, mas, nggragas alias rakus tuh…* Otomatis bunda komen, “Jangan diambilin aja, itu buat tamu. Kalau sudah selesai semua, kalian boleh ambil.” Haha…

Bunda menunjuk dua karpet yang masih tergulung, dan meminta saya membantu menggelarnya di ruang tamu. Yap. It’s easy to me for you, Mom.

Kami berdua mengukur-ukur luas ruang tamu ini dengan dua-tiga karpet sebagai alasnya. Sambil sok filosofis, saya tanya sama bunda, “Bun, emang gimana sejarah arisan itu?”

Saya berharap ulasan yang naratif, seperti cerita bunda tentang awal pertemuannya dengan babe di tempat kerja mereka. Misalnya, ya, dahulu kala pernah dikisahkan: isteri Tumenggung Anu ingin mengetahui seberapa besar kesetiaan para adipati di desa mereka. Maka isteri Tumenggung Anu punya ide untuk mengumpulkan isteri-isteri mereka di rumahnya, dengan harapan bisa mengetahui seberapa besar pengabdian suami mereka kepada desa. Mencari info penting di antara mereka yang tidak diketahui kadar kesetiannya itu pada akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi isteri Tumenggung Anu. Isteri Tumenggung Anu harus berani menurunkan egonya dan meruntuhkan semua dinding prestise di hadapan mereka. Berbicara dalam bahasa mereka, mengubah total gaya berpakaiannya, dan satu hal yang penting, harus berani bergosip. Sambil menghembuskan gosip, isteri Tumenggung Anu harus menjadi bagian dari mereka. Mungkin hasil yang dia dapat tak sesuai harapan, artinya, kesetiaan para adipati memang pantas diragukan. Sangat, sangat pantas diragukan. Dan banyak diantara mereka yang harus segera dipecat untuk mengamankan desa. Akan tetapi, satu hal yang sangat penting, ternyata isteri Tumenggung Anu menemukan alasan logis mengapa hampir semua adipati bersikap demikian. Adalah karena sikap suaminya sendiri yang tidak memperhatikan kesejahteraan keluarga para adipati. Singkat cerita, arisan semakin membudaya sejak zaman itu.

Tapi jawaban bunda sangat singkat, bahkan cukup kuat untuk jadi alasan mempertahankan budaya arisan. Yaitu, “Ah, cuman untuk silaturrahim aja, Mas.” Dan tidak ada gosip di sana. Sangat tidak etis jika ibu-ibu bergosip dalam forum yang luar biasa itu. Heran juga, kenapa wanita diidentikan dengan tukang gosip? Padahal mereka punya arisan sebagai forum klarifikasi, jadi tidak perlu terlalu lama berkubang dalam gosip, mungkin? Manfaat yang lain, ibu-ibu bisa mencari utangan kepada mereka yang lebih beruntung mendapat kopyokan arisan. Dan ibu itu pula yang mendapat giliran untuk menjamu semua ibu-ibu di arisan berikutnya. Dari sini, arisan bisa dioptimalkan untuk saling bertamu dan menyambung silaturahim sekalius membantu perekonomian keluarga.

Sampai semua karpet digelar, bermacam suguhan ditempatkan di tempatnya, air kemasan sudah disiapkan, jajanan dalam kotak siap dibagikan, hidangan andalan bunda belum datang. Tek-wan! Mana tek-wannya?? Saya sama adik harus segera uji-kendali-mutu lagi untuk memverifikasi bahwa hidangan andalan bunda siap disuguhkan. *Haha…* Tapi, sepuluh menit menjelang jadwal arisan, tek-wannya kok belum datang?

Bunda dengan gugup campur marah campur kecewa segera menelepon penjual tek-wan yang katanya sudah langganan itu. Ah, kesimpulannya, kami tidak bisa mengandalkan ibu penjual itu. Meski demikian, bunda masih berusaha menata kata-katanya dengan lembut sehingga tidak tampak emosional, sebagaimana yang ditampakkannya beberapa menit lalu.

Babe segera mengambil kunci mobil, dan adik pun bersiap. Saya memberi usulan hidangan apa saja yang kira-kira berkuah tapi tetap sesuai dengan mangkuk semini itu. Akhirnya keluar opsi: bakso, per porsi cukup dua ribuan.

Ibu-ibu kampung ini mulai berdatangan, dan saya bisa melihat raut bunda semakin gelisah. Adik belum memberi kabar apakah usaha mereka berhasil. Bunda mondar-mandir entah sedang apa. Kalau bunda itu setrikaan, bisa-bisa rumah kami sudah hangus dari tadi. Sedapat mungkin bunda harus menahan ibu-ibu itu lebih lama berada di sini. Padahal, tidak ada dalam sejarah kampung kami, arisan dilaksanakan lebih dari empat puluh lima menit. Dan sekarang sudah berjalan hampir tiga puluh menit.

Adik dan babe datang, bunda meloncat kegirangan sambil menarik kaki saya yang sedang tiduran di ruang keluarga. Sontak saya ngglundung-ngglundhung kaya onde-onde yang muter-muter di baskom wijen. *Aih, hiperbolis!* Tanpa banyak bicara kami segera menghidangkan bakso itu di ruang tamu dan teras. Tidak lama bunyi mangkuk plastik yang beradu dengan sendok semakin meriah dengan pembicaraan ibu-ibu. Mereka semakin ramai, dan tidak sedikit tawa ibu-ibu itu berderai-derai. Entah karena bahagia atas topik pembicaraan yang menyenangkan, atau karena baksonya memang enak, atau sebagai kamuflase ruptus atau flatus *ups! Nggak bole suudzon, kalee…*, atau memang, yaa… pengen ketawa aja.

Apapun itu, bunda cukup puas atas arisan kali ini. Menarik juga, karena ada beberapa poin penting yang harus disampaikan kepada Ketua RT *dalam hal ini bapak saya sendiri* tentang rumah warga yang kebanjiran kala hujan. Kebanjiran? Baru kali ini terdengar lagi setelah delapan atau sepuluh tahun yang lalu saat kami harus mengungsi ke rumah kosong di ujung jalan kampung, karena rumah kami sedang direnovasi. Saat itu, memang rumah yang lebih dekat ke jalan raya mudah tergenang air. Lanskap kampung kami yang berada di kaki bukit ini, cenderung menurun ke arah jalan raya. Tapi, setelah jalan raya mengalami peninggian demi peninggian, terbentuk kontur seperti tampon air untuk deretan rumah di tepi jalan raya. Di tahun itu pula sudah dibuat sebuah gorong-gorong selebar kurang lebih setengah meter mengarah ke selokan utama untuk mencegah genangan air lebih tinggi lagi. Tapi, seiring zaman *dan egoisme manusia, mungkin* gorong-gorong itu tertutup oleh pelebaran halaman samping beberapa rumah. Inilah yang susah diatasi. Hampir mustahil meminta para kepala rumah tangga di sana untuk membongkarnya kembali. Apakah perlu kompensasi seperti halnya berita tentang pelebaran jalan di negara kita? Who knows. Orang satu RT harus bijak dalam bertindak, dan di sinilah peran Pak RT untuk melakukan pendekatan masalah yang paling mungkin. Over all, peran kontrol ibu-ibu sangat optimal dalam arisan ini.

Salut deh, sama kaum perempuan. Allah be always blessing you. All of you. Amiin.

***

Advertisements