Place/Date/Time: Green House/040708/06:14pm

Dapur.

Panas, ya? Kata bunda, soalnya ada kompor.

Saya memang sengaja ngikut bunda kerja di dapur. Yah, meski sekedar masak mie goreng buat saya sendiri. Karena ruang makan bersebelahan dengan dapur, saya dengan mudah makan sambil mengamati bunda beraktivitas di sana.

Hiruk pikuk wajan yang beradu dengan suthil*, belum lagi suara minyak goreng yang mendesis… berisik, ya? Saya sampai berteriak-teriak saat menjawab pertanyaan bunda.

“Kamu…ssshhh…su…ssshhh… pa…ssshhh…?”

“Apa, Bun?”

“Sudah…ssshhh…pu…ssshhh…car?”

“Sudah, apa?”

“Ssshhh…punya…ssshhh…car?”

“Ha?”

Ah, saya beranjak saja ke tempat bunda. “Apa, Bun?”

“Aduh, masih muda kok budheg. Kamu lho, apa sudah punya pacar? Kok jarang pulang?”

Waduh. “Lha, ini kan lagi di rumah, Bun? Jarang pulang gimana?”

“Nanti sore kamu sudah balik lagi ke Surabaya. Pulang satu malam bukan dihitung pulang. Itu namanya cuma ngisi absensi. Kenapa, mau malam mingguan di rumah pacarmu?”

“Hayyah, Bunda… kan tadi sudah dibilangin, mau ada pelatihan di Trustco. Waktunya Sabtu pagi dan Minggu pagi.”

“Lha iya, Sabtu sore kan bisa pulang?”

“Capek di jalan, Bun. Toh ini juga lagi liburan, minggu depan sudah yudisium. Jadi lebih punya banyak waktu di rumah. Ya, kan?”

“Halah, kayak nggak tau kamu aja. Kamu yang namanya liburan sama aja nggak libur. Ada kegiatan ini lah, itu lah.”

“Bunda pengen anaknya tambah pinter?”

Bunda diam. Di antara kami hanya ada suara wajan dan suthil itu. Lalu suara mendesis lagi. Kali ini, suara blower lebih terasa nge-bass dan menggema. Tak lama, teko dari stainless steel itu bersiul. Lengkap sudah. Jadilah orkestra dapur.

Bunda beralih menuangkan air panas untuk menyeduh teh. Saya bisa melihat senyum dari punggung bunda. Mungkin dalam hatinya sedang bertarung antara mengikhlaskan anaknya meniti karir, di sisi lain beliau sangat rindu akan buah hatinya. Orang tua mana yang mau jauh dari anaknya? Mungkin ada, tapi pertanyaan ini adalah tag question yang semua orang tau jawaban semestinya. Saya jadi membayangkan kalau sudah jadi orang tua nanti.

Dapur. Sudah panas, berisik, belum tentu sirkulasi udaranya bagus, mau-maunya bunda kerja di tempat seperti ini. Belum lagi orang-orang kampung yang dapurnya dibuat sekedarnya saja. Berlantai tanah, di sana-sini tersebar cipratan minyak goreng yang sudah jadi jelantah. Apalagi mereka yang pakai kayu bakar. Sudah dapur sempit, apek, abunya kemana-mana… Wajar kalau wanita desa yang sudah berumur punya resiko PPOK bahkan pneumonia. *Meski resiko terbesar PPOK dialami oleh lelaki, karena sebagian besar lelaki merokok.*

“Bunda, dapur tuh panas, lho. Kok mau kerja di tempat kayak gini?”

“Ya, buat anaknya juga. Katanya pengen anaknya pinter, jadi nggak papa, to?”

“Waduh, nggak heran pahalanya bunda banyak.”

“Subhanallah…”

Kami tersenyum.

Tak terbayang susahnya kerja di dapur. Memilih menu yang sesuai dengan keuangan keluarga, sesuai dengan kebutuhan gizi, namun masih terasa nikmat oleh seluruh anggota keluarga. Saya tak ingin hiperbolis, tapi saya pikir setiap perempuan berhak, dan sangat-sangat berhak dipuji atas masakan yang mereka bikin.

Benarlah dulu, sewaktu Aisyah membuat hidangan hanya berupa nasi dan cuka, maka Rasul saw bergumam, “Sebaik-baik lauk adalah cuka,” dan diulangnya sebanyak tiga kali. Tiga kali! Tidak main-main. Perkataan Rasul yang diulangnya tiga kali menunjukkan urgensi makna yang dikandungnya. Hadis ini sahih, dan mencerminkan penghargaan luar biasa kepada perempuan. Dan semestinya diteladani oleh kaum lelaki.

Saya lalu ingat pepatah Jawa, “Golek bojo sing pinter macak, masak, lan manak.”**

Karenanya nanti, saya tidak akan menampakkan punggung kepada isteri saya. Melainkan dada saya tempat dia bertangkup suka, dan bahu tempat dia bercurah duka.

***

*suthil: pengaduk yang berjodoh dengan wajan. Lebih lanjut tanya aja sama yang sering di dapur.

** Cari isteri yang pandai bersolek (menyenangkan suami), masak, dan (mendidik) anak.

Advertisements