Place/Date/Time: Green House/04072008/8.17am

Saya baru serpis motor. Ganti kampas rem depan-belakang, lampu kota-kota yang belakang, dan oli. Saya tidak menyangka akan sebanyak itu, dan alhamdulillah duit yang saya bawa pas. Benar-benar pas. Seratus dua puluh ribu kembali seribu lima ratus. Ini sudah termasuk mengganti bantalan karet untuk rem depan yang harus disobek supaya lebih mudah mengeluarkan atlas kampasnya.

Dasar, saya akhir-akhir ini memang jarang ngecek kesehatan motor. Biasa, alasan sibuk. Lagipula, saya bukan tipe orang yang terlalu idealis untuk menserpis motor di bengkel resmi. Akibatnya, beberapa bagian kecil tidak saya perhatikan. Termasuk atlas kampas itu. Sang mekanik sampai perlu menggunakan palu kayu untuk memisahkan atlas dengan wadahnya. Yang saya kuatirkan, kalau-kalau palu itu menghantam ibu jari sang mekanik sendiri. *Ah, tenang aja, Bang Nidom, ada (calon) dokter di sini… hihi… (amiin, amiin)*

Berulangkali Bang Nidom menghantamkan palu ke atlas. Dan berulangkali pula palu itu hampir mengenai ibu jari Bang Nidom. Meski semisal nantinya bisa saya lakuan reposisi karena patah, tapi Bang Nidom mungkin tidak bisa kembali bekerja. Perlu beberapa waktu untuk memulihkan. Sementara menunggu waktu itu, dia harus memikirkan cara lain untuk mengais nafkah demi anak isteri. Maka bagi seorang mekanik, jari-jemari adalah sesuatu yang sangat berharga. Sebagaimana dokter, atau pianis, pemain drum, juru ketik kelurahan, fisioterapis, semua adalah profesi yang membutuhkan kelihaian jemari. Seharusnya, jemari kami diasuransikan.

Bisa membayangkan jemari seorang tukang mesin di bengkel, kan? Jemari mekanik itu hitam penuh oli, jelaga, dekil. Tidak membayangkan bagaimana dia harus membersihkannya. Belum lagi nanti istirahat siang. Tidak ada ceritanya nasi pecel bumbu oli. Yang ada ceritanya adalah, mungkin Bang Nidom masih memberi toleransi beberapa oli atau jelaga ikut masuk bersama makanannya. Paling tidak dia sudah membersihkan beberapa yang mudah lepas, tapi mengalah untuk jelaga yang cukup kuat melekat di jemarinya. Namun hari ini hari Jumat yang semua lelaki beriman harus salat Jumat. Tentunya Bang Nidom tak ingin wudhunya tidak sah. Bang Nidom pasti membutuhkan waktu ekstra untuk membuang semua dekil bercampur oli yang lipofilik itu. Tapi jangan salah, jemari hitam itulah yang membuat motor saya lebih kencang dari sebelumnya.

Bagaimana bila ada luka kecil yang terbuka di jarinya? Beberapa bagian jelaga itu akan masuk ke dalam pembuluh darah melalui luka itu, meskipun kecil. Seberapa kecil yang tidak bisa ditembus? Tidak tahu. Kita tidak bisa spekulasi.

Seharusnya Bang Nidom dan semua rekan mekaniknya di sini menerapkan universal precaution sebagaimana halnya seorang dokter. Pakai apron untuk bekerja, untuk memperkecil tercemarnya diri atau pakaian kita dari darah pasien, atau jika terjadi ledakan di bengkel, bisa melindungi tubuh. Pakai semacam google, supaya darah pasien yang terciprat tidak mengenai wajah, atau siapa tahu ledakan tadi meruntuhkan atap bengkel dan membuat trauma di wajah. Pakai handschoen supaya luka sekecil apapun di tangan tidak akan tercemar darah pasien, atau tidak perlu terlalu susah membersihkan baik darah maupun jelaga di jemari, karena setelah selesai bekerja, handschoennya tinggal dibuang.

Demikian pula Bang Nidom. Pihak Suzuki Motor Service (SMS) mestinya lebih memperhatikan resiko kecelakaan ibu jari Bang Nidom. Kalau ibu jari itu kenapa-kenapa, gimana coba? Bang Nidom tidak akan lagi bisa menggenggam kampas rem motor saya, atau mencopot “totok” dengan cepat, atau mengukur presisi untuk as roda belakang, dan sebagainya. Inilah urgensi ditempatkannya dokter di sini, di setiap bengkel yang mempekerjakan manusia di dalamnya. *Saya bersedia, kok! Ya, pikir-pikir juga, sih. Hihi*

Ah, kondisi ini hanya untuk pelanggan yang malas seperti saya. Bahkan saking malasnya, saya tidak berhak menyandang kata ‘pelanggan’, ya. Mungkin kalau saya datang dengan kondisi kampas rem seperti ini, Bang Nidom bisa berkata, “Aduh, maap Mas. Kami sudah berusaha, Tuhan yang menentukan. Kampas rem motor Anda sudah mengalami karatan stadium empat, dan tidak mungkin pengobatan biasa bisa membantu. Kampas rem motor Anda terpaksa harus diamputasi, dan diganti yang baru. Tapi Mas ndak usah kuatir, suku cadang kami lengkap, kok. Harganya berkisar seratus tiga puluh ribu sampai duaratusan. Gimana, Mas?”

Persis kata-kata seorang dokter. Seandainya saja saya bisa berkata seperti itu, “Aduh, maap Bang Nidom. Kami sudah berusaha, Tuhan yang menentukan. Ibu jari Bang Nidom sudah mengalami patah tulang kategori empat, dan tidak mungkin pengobatan biasa bisa membantu. Ibu jari Bang Nidom terpaksa harus diamputasi, dan diganti yang baru. Tapi Bang Nidom ndak usah kuatir, suku cadang kami lengkap, kok. Harganya berkisar seratus tiga puluh ribu sampai duaratusan. Gimana, Bang?”

***

Advertisements