Place/Date/Time: XXI/10072008/21.10

Benarkah cinta membuat kita (semakin) lemah?

Sudah sejak awal matanya berkaca-kaca. Keduanya. Merah dan basah. Air itu dibendungnya, sedapat mungkin tidak menetes supaya suaminya tidak mengetahui. Atau ya, sebut saja, mantan suaminya. Seseorang di depannya, John Hancock, pernah menjadi suaminya sejak 8.000 tahun yang lalu. Orang dari masa lalu yang berusaha dihapusnya itu samasekali tidak dapat mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya, pada dirinya dan seseorang yang disebutnya isteri itu.

“Kita sudah ditakdirkan bersama,” katanya, tanpa terisak sedikitpun, “kita seharusnya berpasangan. Kita semua. Termasuk kau dan aku. Tapi kita akan menjadi lemah bila bersama. Semua lukamu itu… Semakin dekat kita, kekuatan kita masing-masing akan semakin menghilang. Supaya kita benar-benar menjadi manusia. Merasakan sakit, terluka, menjadi tua, pada akhirnya mati.”

“Kita ditakdirkan untuk menolong orang lain, tapi tidak untuk satu sama lain.” Tidak ada gunanya menjelaskan ini semua, pikirnya. “Sebaiknya kau pergi… sebaiknya kita saling menjauh, supaya kekuatanmu pulih. Karena mereka membutuhkan satu pahlawan, yaitu kau, John Hancock.”

… .

Nice! Skala 1-10… 8! Kesan awalnya seperti itu, sih. Pancay sendiri bilang, skala 7,75, tidak tega mau kasih angka 8. (Lho??) Katanya alur ceritanya mudah ditebak. Orang seperti dia mungkin lebih terkesima oleh National Treasure, The Da Vinci Code, Conan, Detective-Q, Vantage Point, dan segala macam film yang memuaskan otak kiri. Kalau saya sih, selalu terkesima oleh genre sci-fi: Spidey, X-Man, dan sejenisnya, deh. Karenanya saya nilai John Hancock 8.

Kami tidak menyangka jalan ceritanya akan seperti ini. Romansa yang timbul justru pada tengah cerita, tidak seperti khas film-film Hollywood yang menawarkan konflik pada awal cerita. Justru, konsep pengembangan karakter sang tokoh utama benar-benar tampak di sini.

Tokoh wanita yang melengkapi romansa Hancock kami kira bakal menjadi musuh. Memang mengherankan juga bila Hancock yang kemampuannya mirip Superman itu tidak punya musuh yang sepadan. Kalaupun ada, dari manakah mereka? Dari planet lain seperti Superman? Atau Transformer? Silver Surfer? Ataukah Hancock sejenis mutan, seperti Spiderman atau X-Men, sehingga akan ada banyak mutan seperti dirinya? Kalaupun ada, di manakah mereka? Bisakah mereka cross-breeding dengan manusia biasa seperti halnya Superman?

Tidak seperti Jumper yang menceritakan begitu banyak jumper lain di muka bumi. Baik Hancock maupun isteri Ray dan sejenisnya memang tidak dijelaskan dengan gamblang dari mana mereka berasal. Hanya mereka (dulu) adalah suami-isteri. Dan orang-orang yang sejenis dengan mereka memang sudah meninggal, punah. Seperti penjelasan isteri Ray, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin lemah mereka, semakin manusiawi pula mereka, semakin mereka bisa menjadi tua lalu mati. Itulah mengapa tidak ada jenis mereka yang mampu bertahan sampai ribuan tahun. Lalu, apa tidak ada yang beranakpinak, dan menurunkan keturunan sejenis dengan mereka?

Apapun itu, saya akhirnya berkesimpulan, menjadi superhero seperti Hancock berarti tidak bisa dekat dengan orang yang kita sayangi. Ya kan?

Anas dan Trisno sepakat. Kata Trisno, resiko menjadi superhero memang seperti itu, dihadapkan pilihan antara si dia atau orang banyak. Kalau kata Anas, sih, adakalanya menjadi superhero, adakalanya menjadi orang biasa.

Hahaha… mereka terlalu terfokus kalau kita dan si dia samasama superhero. Bagaimana kalau kita orang biasa sedang si dia adalah superhero, atau sebaliknya? Nggak bakal terjadi apa-apa, kan? Saya bisa mengerjakan pekerjaan saya, dan dia bisa mengerjakan pekerjaan dia. Bila suatu saat, misalnya sedang janjian makan malam atau mau nonton, trus batalin janji soalnya tiba-tiba ditelpon polisi, “Mas Hafcock, ada pencurian di Darmo Permai bla…bla…bla… Buruan ke sini, Mas!” Nah, kalau terus-terusan seperti ini, perlu saling pengertian yang ekstra. Hehe…

Komentar Indra, ternyata cinta membuat kita lemah.

Hiperbolis, ah. Saya bilang, depends on person, sih. Tergantung orangnya. Cinta itu sifatnya netral, tapi mampu menggerakkan, dan yang menggerakkan tuh tendensi masing-masing orang. Cinta itu murni, dan yang mewarnai ya, orang yang menggunakannya. Cinta itu suci, yang menjaga dan mencemarinya ya, yang merasakannya. Istilahnya seperti, “Man behind the gun.” Jadi tidak bisa digeneralisir bahwa ‘benda tajam’ disebut ‘senjata’.

Apakah pisau dapur termasuk senjata? Ataukah silet kertas bisa disebut senjata? Atau silet cukur juga senjata? Mereka disebut senjata kalau digunakan sebagai senjata. Hanya saja, dari dulu baik pistol maupun bom atom disebut ‘senjata’, karena ‘biasanya’ mereka digunakan sebagai senjata. Nah, kalau jaman sekarang ‘cinta’ ‘biasanya’ sering disalahartikan, wajar jika orang menyebut, “Cinta murni tuh susah dicari.”

Meski akhirnya, Hancock memilih untuk tidak perlu terlalu dekat dengan (mantan) isterinya itu. Dia lebih mengikhlaskan cintanya untuk sahabatnya, Ray. Mungkin Hancock melihat bahwa Ray adalah sosok yang penuh tanggung jawab sebagaimana Ray telah mengubah sosok Hancock sepenuhnya. Ya, Ray telah mengubah cara pandang Hancock terhadap dirinya sendiri, hidupnya, orang lain, dan keseluruhan tatanan kehidupan ini.

Lalu, apakah cinta membuat kita lemah? Ya, jika yang merasakannya membuatnya begitu. Tidak, jika yang merasakannya justru mampu mengarahkan. Toh, Hancock tidak menjadi lemah. Dia masih tegak berdiri. Saya kira, prinsip kami sama: Cinta itu memiliki atau mengikhlaskan.

Yang patut diwaspadai, cinta membuat kita tergantung pada sesuatu atau seseorang. Mau?

***

*Tidak bermaksud menjadi spoiler.

Advertisements