e-Learning for Indonesian Education
e-Learning for Indonesian Education

Saya mengambil pengertian e-Learning dari situs e-KnowledgeBase. Istilah e-Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan:

e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:

e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.

Definisi lain e-Learning dengan berbagai sudut pandang dapat dipelajari secara lengkap dari:

http://www.google.com/search?num=30&hl=en&lr=&ie=UTF-8&oe=UTF-8&q=define%3A%20e-learning

Dari puluhan atau bahkan ratusan definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa e-Learning adalah sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar.

Lalu, apa fungsi e-Learning?

Menurut Siahaan (2002), ada 3 fungsi e-Learning terhadap kegiatan belajar-mengajar, yakni:

1. Suplemen (Tambahan)

Bila siswa mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi e-Learning atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi e-Learning. Sekalipun tidak wajib, siswa yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

2. Komplemen (Pelengkap)

Menurut Lewis (2002), e-Learning berfungsi sebagai pelengkap bila materinya dibuat untuk melengkapi materi utama diterima siswa secara konvensional. Sebagai komplemen berarti materi e-Learning diprogramkan untuk menjadi materi pengayaan bagi siswa. Inilah yang disebut sebagai “blended learning”, yakni, kombinasi antara e-Learning dan cara belajar konvensional. Contoh yang paling mudah, adalah adanya sistem belajar Problem Based Learning (PBL) di Fakultas Kedokteran UNAIR.

(3) Substitusi (Pengganti)

Beberapa kampus di negara-negara maju memberikan alternatif model kegiatan pembelajaran kepada para siswanya. Tujuannya agar para siswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari siswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih siswa, yaitu:

  1. Sepenuhnya secara tatap muka (konvensional),
  2. Sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan
  3. Sepenuhnya melalui internet.

Alternatif model pembelajaran mana pun yang akan dipilih siswa tidak menjadi masalah dalam penilaian. Karena ketiga model penyajian materi pembelajaran mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu peserta didik untuk mempercepat penyelesaian pembelajarannya.

Advertisements