Sekedar sharig aja. Berikut saya paparkan konsekuensi logis dari penggunaan E-Learning…

Konsekuensi logis pertama dari e-Learning adalah siswa dituntut menjadi lebih aktif dibandingkan pembelajaran konvensional. Ini adalah konsekuensi yang positif. Penggunaan e-Learning yang diluar pengawasan langsung dosen pengajar, siswa dituntut lebih kreatif dalam menerima materi perkuliahan yakni dengan menanyakan atau memberikan tanggapan ketika dosen memberikan keterangan yang kurang jelas. Inilah yang disebut sebagai Student Learning Center , atau pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan cara ini pula, siswa dapat dilatih kedewasaannya untuk membuat dirinya sadar bahwa pendidikan adalah kebutuhannya. Sehingga tidak perlu seorang pengajar untuk “menyuapinya”. Dalam teori psikolgi, teknik belajar ini disebut andragogi.

Konsekuensi logis yang lain, yakni siswa sulit di kontrol secara langsung, sehingga umpan balik dari mahasiswa kepada sistem e-Learning ini bisa saja lebih didasarkan kepada subyektivitas, alias lebih tergantung pada individu masing-masing. Ketika mengikuti kelas e-Learning ini, tidak sedikit mahasiswa yang tertidur atau pergi meninggalkan kelas karena mengalami kebosanan.

Penerapan e-Learning di Indonesia mestinya harus memperhatikan kondisi siswa yang bersangkutan. Sebagai awalan, sebaiknya diterapkan kepada siswa yang memiliki Indeks Prestasi yang memuaskan. Mengapa demikian? Agar dosen bisa melakukan riset terhadap kinerja dari penerapan e-Learning tersebut tanpa perlu khawatir mengorbankan hasil evaluasi mahasiswanya. Bayangkan saja bila e-learning ini diterapkan kepada siswa ber-IP “berbahaya”. Bisa-bisa IP siswa tersebut meluncur jatuh…

Dengan memberikan kelas e-Learning pada sebagian siswa dan memberikan kelas konvensional untuk sebagian siswa lainnya, dosen dapat mengevalusi secara paralel nilai yang dihasilkan oleh masing-masing siswa. Sambil meningkatkan pola pengajaran sekaligus mengevaluasi kekurangan dari kelas e-Learning yang diujicobakan.

belajar-di-kelasDitinjau dari sisi budaya, sebenarnya masyarakat kita masih belum siap untuk menerima perubahan. Sebagian besar budaya belajar-mengajar di Indonesia masih bersifat Teacher Learning Center, di mana siswa sangat bergantung pada kemampuan dosen membawakan materi sehingga selain memiliki kemampuan akademis yang bagus seorang dosen juga dituntut untuk bisa menjadi seorang motivator yang baik. Inilah pentingnya agar e-Learning ini diterapkan secara bertahap.

Sarana yang disediakan pemerintah juga sudah cukup baik, misalnya Jardiknas. Sistem ini hendaknya difungsikan dengan maksimal supaya semua daerah di pelosok Indonesia mendapat akses yang memuaskan. Tidak hanya ada, tapi juga cepat. (Menggunakan fiber optik, misalnya?).

Yang paling menentukan selanjutnya adalah faktor Sumber Daya Manusia. Semua pendidik dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi harus bisa mengoperasikan pirantinya. Semuanya itu, tak akan berarti bila budaya disiplin masyarakat terutama dalam hal proses belajar-mengajar belum baik. Sistem e-Learning ini menuntut untuk siswa lebih aktif karena bersifat Student Learning Center, bukan malah malas karena tidak diawasi pengajar.

Kemudian mempermudah siswa untuk mendapatkan fasilitas yang mendukung, misalnya mendapatkan laptop dengan mengangsur. Seperti yang dilakukan ACER di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan memberikan kemudahan cicilan 200 ribu perbulan untuk mendapatkan laptop ACER.

Alhasil, bila konsekuensi di atas ditindaklanjuti, maka semakin dekatlah cita-cita kita akan pendidikan yang berkualitas.

Maju terus, Pendidikan Indonesia! v(“,)v

Advertisements