Place/Date/Time: Pulau Sempu (selatan Malang)/16082008/15.16

“Sedih juga ketika sadar kamu bener-bener ga di sini. Padahal alamnya bagus. Di sana ada gunung, kamu suka gunung. Juga pantai, aku suka pantai. Dan Sempu ini, dimana gunung dan pantai bersatu, adalah tatanan yang sempurna buat kita.”

“Saat ini, gimana caranya supaya kita terasa dekat? Lalu aku misalkan kamu dengan apapun yang ada di sana.”

“Kamu adalah matahari, yang dengan sinarnya menerangiku, menunjuki jalanku, dan membuatku merasa demikian hangatnya perhatianmu. Ah, mendadak hari itu panas, gerah, dan matahari terlalu angkuh menunjukkan sinarnya. Aku tak tertarik lagi pada matahari.”

“Saat melewati baris pepohonan bakau, dan seterusnya semakin lebat ke dalam hutan, semakin terlindung dari matahari, semakin dingin. Sejuk. Aku rasa kamu seperti ini, melindungi, dan sungguh menyejukkan hati. Amarahku redam seketika sewaktu melihatmu. Lalu pepohonan ini habis di ujung jalan, dan rinduku berubah menjadi amarah lagi. Tidak, kamu bukan pepohonan.”

“Kamu adalah ombak, dan aku pantainya,… …maka kita bisa bertemu setiap hari. Ombak yang membelai lembut pantai, saling berdesah karena rindu yang terlampiaskan. Lalu aku tuliskan nama kita di atas pasir, supaya ombak dan pantai ini membawa terus nama kita. Tiba-tiba ombak menghapusnya. Entah untuk membawanya karam ke tengah lautan, atau mengabadikannya dalam kenangan? Ah, sama-sama bukan pilihan bagus. Pun semakin siang, ombak semakin menjauh, karena kata orang-orang, laut sedang surut di siang hari. Aku rasa, ombak dan pantai bukan kita.”

“Gimana kalau gunung dan pantai? Bukannya itu yang pada awalnya kukatakan padamu, bahwa Sempu ini adalah tatanan yang bagus buat kita? Gunung yang menanjak ke langit, dan pantai yang melandai ke dalam laut… Ternyata kebersamaan gunung dan pantai ini semu. Terlihat di permukaan mereka bersama, tapi mereka mempunyai arah yang berbeda.”

“Mungkin bulan? Aku mungkin hanya bisa menemuimu sepenuhnya saat purnama berpendar di malam hari, lalu kau menghadiahi kerinduan di siang hari? Aku rasa tidak.”

“Mengapa aku bisa mengandaikan kamu dengan semua bagian alam? Alam punya keistimewaannya sendiri, dan keistimewaan itu begitu saja tampak di mataku. Atau aku yang memandang mereka dengan indah? Alam diciptakan begitu sajadi tempat mereka masing-masing, dan manusia yang memiliki rasa untuk menilai. Dan ini adalah bagian dari rasa syukur, sebagaimana yang Tuhan kita tanamkan dalam hati. Keindahan itu bersumber bukan dari alam itu sendiri, tapi dari hati yang terbuka. Alam menyajikan berbagai sarana untuk membuat kita ingat lalu bersyukur. Dengan begitu, aku juga melihatmu sebagai keindahan.”

“Maka cukuplah kamu adalah aku, kamu separuh jiwaku*.”

*) Dalam bahasa Jawa, isteri diterjemahkan sebagai “garwa”, akronim dari “sigaring nyawa”, artinya belahan jiwa.

***

Advertisements