Place/Date/Time: Papuma, Jember/Kamis, 02102008/14.05

Ada pepatah mengatakan, janganlah engkau tulis kesilapan kawanmu di atas batu, melainkan tulislah di atas pasir, supaya air pemaafan dapat menghapusnya dengan mudah. Jikalau engkau menulisnya di atas batu, tidak akan mudah termaafkan meski beribu mantra rayuan engkau gunakan. Tapi saya tetap menulis nama kami di atas pasir.

i write our name...

Untung saja, setelah gambar ini diambil, tak lama ombak datang dan sekejap nama kami terhapus. Meski pepatah itu tetap berlaku, saya masih bisa membuktikan bahwa menulis di atas pasir pun ternyata punya nilai abadi. Yah, karena difoto, anggap saja benar setengahnya.

Saya pernah memisalkan dia sebagai ombak, sedang saya pantainya. Harapannya, agar kami bisa bertemu setiap hari. Ombak yang membelai lembut pantai, saling berdesah karena rindu yang terlampiaskan. Lalu saya tuliskan nama kami di atas pasir, supaya ombak dan pantai ini membawa terus nama kami. Tiba-tiba ombak menghapusnya. Entah untuk membawanya karam ke tengah lautan, atau mengabadikannya dalam kenangan? Ah, sama-sama bukan pilihan bagus.

Ada sebuah pola yang menarik: ketika seseorang sedang dibuncahi cinta kepada kasihnya, dimana pun tempat yang dikunjungi akan timbul keinginan untuk menulis nama si dia di tempat tersebut. Di pohon, tembok kamar mandi (terutama dinding sebelah kanan tempat jongkok di toilet), karang batu, bahkan tembok di sekitar kran wudhu musala. Sebagai kenang-kenangan, katanya, cinderamata bagi siapapun yang melihatnya. Tulisan ini adalah simbolisasi bagi cinta mereka. Tulisan ini juga yang membuktikan bahwa cinta mereka masih ada. Inilah yang mendasari mengapa saya berkeinginan menulis nama kami.

Kenyataannya, siapa pun yang membacanya belum tentu kenal dengan si empunya nama. Meski saya pernah berpikiran, ‘siapa loe gua aja gak kenal, kurang kerjaan bener pake nulis-nulis ginian’, tetap saya berhasrat menulis nama kami. Pertanyaannya sekarang, mengapa bukan nama bokap-nyokap yang saya tulis? Jelas-jelas cinta mereka lebih pasti dan abadi (amin! Insya Allah), bahkan mereka diikat oleh sebuah tali suci nan halal. Jawabannya simpel, sih. Ya, karena mereka sudah terjamin dunia-akhirat ‘kan terus bersama, ngapain juga pake nulis-nulis nama? Kurang kerjaan bener.

Selain itu, menulis nama atau apalah di tempat yang seperti saya sebutkan tadi, sepertinya tidak punya nilai seni. Malah bikin kotor. Kawan, kalau pernah mencicipi mengurus toilet umum, musala desa, atau lahan parkir obyek wisata, pasti engkau melihat sendiri banyak sekali muda-mudi, berpasangan atau tidak, sejenis atau tidak sejenis, mengukir nama mereka di sana. Parahnya, hal itu mereka lakukan dengan tertawa! (Maksud saya, dengan batu sambil tertawa!) Saya paham mereka sedang mabuk kepayang, namun itu bukan sebuah pembenaran untuk melakukannya.

Karenanya, saya pilih pasir sebagai medium tulisan ini. Betul saya sedang mabuk kepayang. Tapi saya masih sadar. Cukup sadar bahwa sebagai seorang warga negara harus turut menjaga kelestarian obyek wisata, sadar sebagai seorang muslim yang harus mencintai kebersihan, memiliki rasa peduli, dan profesional, serta sadar bahwa saya sedang jatuh cinta. Oleh sebab itu saya paham benar bukan sekedar menuntut cinta saya berbalas, tapi ikut bertanggung jawab melestarikan keindahannya. Yakni dengan cara menulis nama kami di atas pasir. Jikalau orang bertanya, jelas bagimu tulisan itu akan terhapus ombak, bagaimana simbolisasi cintamu? Meski saya bisa menunjukkan foto ini, tapi saya akan menjawab, “ Tidak usah khawatir. Karena masing-masing kami telah mengukirnya dalam hati, sehingga akan terus ada di manapun kami berada. Supaya nantinya bisa seperti orang tua kami: terjamin dunia-akhirat.”

***

Advertisements