Place/Date/Time: Green House/Minggu, 28092008/14:22pm

Babe menarik napas dalam-dalam, hingga aroma anthurium yang sebenarnya tidak berasa apa-apa masuk ke dalam seluruh lapang paru-parunya, menggantikan semua asap dua batang rokok yang dihisapnya pagi-pagi tadi. Berbagai anthurium dikoleksi babe dan menyesaki hampir seluruh sudut kebun kami. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua anthurium itu, hanya saja ledakan hasratnya untuk membeli anthurium tidak sebanding dengan kecepatannya dalam menata satu per satu pot anthurium itu. Walhasil, kebun kami lebih mirip hutan belantara daripada disebut sebagai taman anthurium. Daripada kebun ini penuh sesak, sebaiknya babe menjual beberapa anthurium yang sudah tidak tren lagi. Lalu membeli beberapa pot sansiviera, yang katanya bisa menghisap asap rokok. Beberapa waktu terakhir di sela kepopuleran anthurium, tetumbuhan mini inimemang cukup digemari karena kelebihannya itu. Bahkan beberapa housing magazine menganjurkan meletakkan sansiviera di ruang tamu. Baik sebagai pemanis interior dan penyaring asap rokok. Agaknya, babe saya sendiri lah yang bertindak sebagai sansiviera-man, pemanis rumah sekaligus penghisap asap rokok.

Beliau berdehem sebentar untuk membebaskan dahak dalam tenggorokannya, supaya bisa berkata-kata lebih lancar. “Budaya desa yang menurut orang sudah ketinggalan jaman harus tetap kita pertahankan, Nak. Itu artinya setiap silaturrahmi adalah pertemuan fisik dimana setiap jiwa, raga, dan rindu hadir dalam satu ruang keluarga di kediaman salah satu pihak. Begitu pula yang akan kau lakukan untuk babemu ini, jika kamu sudah berkeluarga nanti. Bangunan keluarga kecilmu akan semakin kokoh ketika tali silaturrahmi itu tidak putus, dan semakin terjalin ketika pertemuan fisik itu semakin sering dilakukan, setidaknya pada momen yang berharga seperti Idul Fitri. Itulah bukti cinta kepada babemu. Ketika saya, babemu, masih bisa melihat bibit yang dulu ditanam dalam sulbi isterinya, tumbuh menjadi seorang rupawan yang mampu meraih cita-citanya tapi tetap tidak melupakan darimana dia berasal.”

Babe diam sejenak, dan melepaskan pandangan dari wajah saya menuju langit yang ada di belakang tengkuk saya. Sepertinya ada beberapa kata atau potongan kalimat yang akan beliau ucapkan. Mungkin beliau memilih kata-kata yang tepat supaya saya tetap merasa nyaman untuk mendengar kata-katanya lagi. Tapi daritadi saya sudah tidak merasa nyaman karena topik pembicaraan kami tiba-tiba berbelok menjadi perdebatan tentang besan dan calon isteri. Seperti biasa, babe tetap mampu melihat gelagat saya yang tidak nyaman ini kemudian mengemas perdebatan kami menjadi pembicaraan dari hati ke hati. Lalu babe mereguk kopi dalam cangkir di depannya, dan menelan bulat-bulat satu tegukan itu bersama beberapa untai kata yang tidak jadi diutarakannya itu.

Saya hampir bosan ketika harus bicara tentang jodoh dengan babe. Sosok kepala keluarga yang kami panggil ‘babe’ ini, terus saja mengarahkan supaya calon besan beliau adalah orang yang kenal dekat dengan keluarga kami. Dan kata-kata itu bak cucuran air sisa cuci piring yang terus menerus menetes dari pipa bocornya di dapur belakang hotel, sehingga membentuk ceruk dalam di lantai beton di bawah pipa itu. Lubang di pipa bocor itu sendiri semakin lebar karena air cucian yang merembesinya mengandung deterjen. Korosif. Babe tidak pernah memaksa tentang siapa calon saya nanti. Beliau juga jarang membicarakan hal ini kepada saya. Hanya dalam setiap diskusi kami tentang apapun, beliau selalu menemukan entry point yang tepat untuk mengaitkan arah pembicaraan tentang bagaimana karakter calon besan beliau.

Sungguh menyebalkan, karena diskusi kami berbelok, dan saya seringkali terbawa emosi ketika babe mengatakan, “Usahakan kalau momen seperti Idul Fitri kamu ngga perlu pergi terlalu jauh untuk bersilaturrahmi kepada keluarga isterimu.” Dan hal inilah yang membuat jantung saya berdegup cepat, otak saya ikutan berdenyut karena pembuluh darah di sana semakin mengembang karena mengalirkan darah banyak-banyak. Semua itu supaya otak saya cukup nutrisi untuk memikirkan alasan yang bisa membalikkan ucapan babe. Dan alasan itu harus cukup logis, tidak emosional, karena babe mengajarkan begini: kalau dalam setiap negoisasi ada pihak yang emosional, maka orang itu adalah pihak yang kalah, dan sampai kapanpun kalah sampai clausule yang dimenangkannya mentah di kemudian hari. Maka saya tidak boleh terbawa emosi.

Saat saya mereguk napas untuk yang kesekian kalinya, asap rokok dari mulut babe bekejaran berlomba untuk berebut tempat di concha nasalis saya. Saya termasuk orang yang terlalu sensitif terhadap asap rokok, berapapun kadarnya di udara seringkali bisa membuat saya bersin dan batuk berulangkali. Seketika saya bersin lalu batuk berulangkali, meski pada akhirnya dibuat-buat, tapi cukup efektif untuk menyindir perokok di dekat saya. Namun dalam konteks ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi mengangkat bendera protes tinggi-tinggi kepada babe atas kalimatnya tadi. Karena saya masih berpegang bahwa calon isteri yang baik tidak diukur dari seberapa dekat tempat tinggalnya dengan keluarga kami.

Kawan, bagi saya, jarak adalah ukuran fisik yang masih bisa dikompromikan. Terlebih secara teknis, bila calon yang engkau pilih bukanlah anak semata wayang, atau dua bersaudara, tapi tiga, empat, bahkan lebih. Tak apalah jika salah satu engkau bawa sebagai isterimu di tanah Jawa. Besan ayah-ibumu akan tetap ditemani oleh saudara isterimu yang lain. Apalagi jika engkau dipertemukan isterimu di Jawa, tanah tempat kau membangun bahtera bersama isterimu nanti. Bukan masalah besar jika engkau dan isterimu berasal dari rumpun yang berbeda. Bukankah Rasulullah tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut? Beliau justru menunjukkan bahwa harta yang paling mahal di dunia bukanlah emas permata, tapi isteri yang salihah.

Ya, isteri yang salihah.

Saya ingin menceritakan apa yang saya terima dari Kekasih Allah itu, namun terpampang jelas dihadapan kami ada sebuah barrier yang tak tertembus. Asap rokok itu membubung tinggi-tinggi membentuk tembok kasat mata yang membatasi pembicaraan saya dengan babe. Di dalam tembok itu tersimpan persepsi masing-masing; ego diri, kesepahaman akan sunnah, dan yang terakhir, privilese akan cita rasa sebuah keluarga. Saya mengibas-ngibas asap rokok itu, namun barrier tak kunjung hilang. Barrier itu berupa tembok yang sepertinya tidak mudah ditembus kecuali dengan hikmah.

Kemudian babe menunggingkan cangkirnya dalam-dalam, seolah mau menyeruput ampas kopinya sekaligus. Menghujamkan rokoknya ke dasar asbak dengan emosional, dengan gerakan berputar seperti menusuk-nusukkan pisau ideologis ke dasar hati saya. Beliau berkata, “Setiap ayah pasti meletakkan sebuah harapan besar untuk anaknya. Termasuk babe kepada kamu. Tapi sekarang kamu lah yang memegang kendali bagi hidupmu sendiri. Ketenteraman yang sesungguhnya dari seorang lelaki dewasa terletak dalam kesetiaan isterinya, tapi hanya anaknya lah yangmembuat dirinya bangga. Sampai kapanpun, babe akan tenteram berada di sisi perempuan yang paling dikasihinya itu setelah nenekmu, tapi siapa tahu babe harus memendam tangis karena melihatmu terlunta dalam kompetisi kehidupan. Dan babe merasa bertanggung jawab untuk itu. Babe tidak mau sok memanjakanmu, tapi setidaknya itulah kepedulian yang harus kau berikan kepada anak-anakmu nanti.”

Maka saya dan isteri nanti harus memiliki komitmen dan perencanaan matang akan manajemen Idul Fitri. Supaya silaturrahmi keluarga kami tetap terjalin erat, kuat, dan efisien. Karenanya, Kawan, melalui silaturrahmi di hari kemenangan ini, semoga semua keluarga kita diberkahi. Allahuma amiin.

***

Advertisements