Place/Date/Time: Green House/27092008/11:41am

Tidak pernah saya merasa begitu melow seperti sekarang ini. Merasa bodoh karena tidak pernah bisa mengatakan bahwa saya akan merindukan mereka, menginginkan hadir di tempat mereka berada sekarang. Merasa tolol bahwa justru saya lah yang merasa gengsi, malah merasa malu mengakui bahwa saya tidak menginginkan mereka pergi.

Tapi, namanya juga mudik.

Baru pagi tadi, Panda curhat bahwa dia males pulang kampung. Dia yang pada saat tertentu sering memenuhi inbox saya dengan sms, kangen rumah, kangen mama, kangen tia-eki, dan sebagainya, malah sekarang lebih ingin di kosan. Lebih kangen kasur, katanya. Haha… Wajar saja, karena dia termasuk orang yang jarang tidur nyenyak, dan biasanya lebih sering terserang mimpi tidak enak. Sering kami berbagi mimpi akan masa depan, tentang bagaimana memberi nama yang baik untuk jabang bayi, nama-nama khas yang hanya kami yang punya. Yang membuat bangga keluarga begitu orang mendengarnya. Juga tentang bagaimana kami mengindahi hari masing-masing, menguntai cita dan cinta dalam helai demi helai benang merah yang diikatkan pada jari manis masing-masing. Sering saya mengatakan mimpi buruk hanyalah mimpi buruk, biarlah terjadi supaya kita lebih bisa mengkhusyukan doa. Namun jika ada mimpi baik, tidak perlu kita berbesar hati, karena kebanggaan dan harapan yang disertai dengan kesombongan hanya membuat kita lupa diri, melupakan fitrah kita di hadapanNya. Kadang sebegitu kuatirnya kami karena terlalu bermimpi, maka mudik adalah salah satu cara mengingatkan siapa diri kita, darimana kita berasal. Apapun alasannya, berhubungan atau tidak dengan mimpi-mimpi kami, pada akhirnya dia mudik juga. (Bagaimana tidak, dia terlanjur beli tiket pesawat Jnd-Cgk-Sbd seharga dua juta lebih!)

Anas, tahun ini memutuskan menunggangi motor semata wayangnya menuju Solo, 122,5an kilometer jauhnya dari Surabaya. Ah, siapa yang tidak tahu kota batik itu. Dia bilang akan sampai dalam 4-5jam jika mampu memacu motornya rata-rata 80km per jam. Sedikit kuatir juga, sih. Jika engkau pernah melihat bola plastik yang menggelinding hanya karena tersapu angin dari kakimu, seperti itulah saya membayangkan Anas begitu saja tertolak angin ketika berkendara di atas motornya. Apalagi, Anas sudah berbangga diri karena bobotnya susut lima kiloan dari sebelumnya, akan lebih mudah lagi tertiup angin. Tapi tak apalah. Toh akhirnya Anas tetap keukeuh mudik. Kali ini dia membonceng kekasihnya, idolanya, atau apalah namanya, seorang perempuan yang hampir menggantikan posisi saya sebagai teman kencan. Secara psikologis, sampai ke ujung dunia pun Anas sanggup berkendara bersamanya, kalau perlu mengaraknya keliling kampung. Masalahnya, mau tidak si perempuan untuk turut serta?

Lalu Trisno. Sama seperti Anas, dia mengajak serta motornya. Seperti ada ikatan antara hati-pantat-dan jok motor, kemana-mana mereka selalu menunggangi motornya, termasuk untuk bertandang saat Idul Fitri nanti. Terakhir sebelum mudik, Trisno tampil beda dari biasanya. Rambutnya dipotong rapi meski pada akhirnya tampak culun karena dipaksakan disisir ke samping. Tampangnya menjadi lebih childish, sangat kontras dengan gaya bicaranya yang berkesan dewasa karena sanggup berteori tentang apa saja, termasuk cinta. Ini yang membuat saya sadar bahwa secara harfiah namanya berarti “cinta yang baik”. Su adalah baik, trisno adalah cinta. Demikianlah menurut penamaan orang Jawa dahulu. Dalam beberapa kasus, pembuktian teori cintanya itu menjadi berantakan karena diterapkan ke beberapa gadis. Pembuktian itu mencitrakannya sebagai sosok yang setia dan berkomitmen kepada banyak gadis. Suatu saat saya yakin akan ada satu orang yang menanggapi Trisno dengan serius jika dia mau mati-matian memperjuangkan satu orang saja, seperti yang Anas lakukan. Bagi Trisno, pulang kampung adalah momen untuk mendapat suntikan energi yang luar biasa. Hal ini membuat dia semakin percaya diri menghadapi terpaan budaya metropolis seperti Surabaya. Yang bikin saya kuatir, seringkali percaya dirinya itu tak berarah selain kepada para gadis tadi. Saya tidak tahu apakah pulang kampung sanggup mengembalikan “Trisno jaman dulu” yang sering dia banggakan, atau malah menguatkan “Trisno yang sekarang” seperti yang saya ceritakan. Bagaimanapun, toh akhirnya dia mudik juga.

Kawan, pernahkah engkau melihat lebah yang berkejaran di hamparan bunga, kupu-kupu yang suka mendekati kelopak berwarna-warni, atau kolibri yang terbang perlahan di sela-sela taman? Para pencari nektar itu sungguh lucu ketika berusaha dekat dengan bunganya. Malu-malu tetapi mau. Jika Indra adalah bunga itu, maka gadis-gadis lah pencari nektarnya. Bagaimana tidak. Hanya dengan satu gerakan kecil di sudut bibirnya, Indra mampu menerbangkan khayalan sebagian gadis sampai ke langit-langit bursa kami, lalu tersangkut di daun kipas angin dan berputar-putar sampai pusing dibuatnya. Di antara kami berempat, hanya Indra sosok yang “lebih bisa dan pantas dilihat.” Ibarat lukisan dinding, Indra adalah goresan-goresan kuas di atas kanvas hidupnya, yang centang perenang mengejawantahkan warna di sana-sini sebagai karya yang berseni tinggi. Sedangkan Anas adalah kayu peregang kanvasnya, Trisno adalah pakunya, saya adalah tripleknya. Piguranya? Tentu saja para gadis yang terpikat Indra. Ketika Indra sedang tidak ada, kelompok kami hanyalah gerombolan anak kampung yang merantau ke kota besar, dan secara tidak sengaja dihajar oleh nasib yang mengajari kami bersabar dan pasrah akan tampang yang Tuhan berikan. Meski demikian, toh Indra lebih dulu mudik daripada kami.

Lalu bagaimana dengan saya? Begini kawan. Pernahkah engkau menanyai diri sendiri mengapa merasa perlu berpakaian? Bagi orang yang sadar akan budaya, berpakaian merupakan ciri penting dalam menujukkan seberapa berbudaya dirinya. Jika orang-orang yang berakal dan berbudaya itu satu saat menjadi tidak berpakaian, akan ada rasa malu, marah, risih yang membuncah dalam diri mereka. Sedang kepergian seorang teman, baik sementara atau seterusnya, sama saja dengan memaksa kita melepas pakaian yang biasanya kita pakai. Mau tidak mau, entah diungkapkan atau tidak, akan ada rasa seperti malu, marah, risih, dan sebagainya. Itulah yang saya rasakan.

Malu, karena hingga harus melangkah meninggalkan kos, belum sedikitpun saya memberikan kesan mendalam kepada Anas. Belum sewaktupun menyempatkan menemani dia berbuka puasa. Malah dia yang menyengaja menemani saya makan malam padahal dia sendiri lebih dulu berbuka. Kami hanya mempunyai beberapa waktu sahur bersama, itupun dalam kondisi setengah sadar.

Marah, karena meski dua hari sebelum mudik bertemu Trisno, saya sekalipun belum menyempatkan berpelukan dengannya. Dengan seorang sahabat tempat bertukar pikiran, melambungkan idealisme sampai ke bintang, sampai ke gugusan Bimasakti, tempat orang-orang besar menemukan jati diri dan jalan atas mimpi-mimpi mereka. Suatu saat nanti di sana, kami buktikan bahwa idealisme bukanlah harta terakhir yang dimiliki pemuda.

Risih, karena belum sekalipun saya menyunggingkan senyum untuk Indra. Kami hanya bertemu sesekali ketika saya menyempatkan diri berangkat ke Surabaya. Saya tidak ingin vonis hepatitis A dari dokter menghalangi saya bertemu dengan teman-teman sebelum mudik. Meskipun vonis itu masih berlaku dalam satu bulan ini, saya tetap ke Surabaya. Tapi tak sempat berbincang lama. Risih, risih yang sebenar-benarnya.

Ah, ingin saya memungkiri semua perasaan ini. Bagi saya wajah mereka secerah warna-warni mentari yang dibiaskan titik-titik embun di ujung daun, lalu melesat-lesat seperti ratusan pedang yang jatuh ke tanah basah di bawahnya. Makhluk-makhluk kecil di tanah basah itu berlarian menyambut pelangi yang indah nan menghangatkan hati. Karena hati ibarat rumah, tempat bernaung dari terpaan badai budaya metropolitan yang mengombang-ambingkan mereka seperti bandul jam dinding, ke kanan dan ke kiri. Hati juga tempat pelarian bagi siapapun yang kehausan akan hidayah, akan hidangan jiwa yang bersumber dari fitrah ilahi.

Pada akhirnya, hati yang luas dan lapang itu terisi sinar yang berwarna-warni dari wajah para sahabat, saudara, sanak famili, yang meski nun jauh di sana tetap terasa dekat. Yang meski terpisah jarak, silaturahim tetap erat. Karena hitungan jarak semata-mata hanyalah ukuran psikologis. Karena sesungguhnya Panda, Anas, Trisno, Indra, saya, masing-masing berada di Palembang, Solo, Bojonegoro, Purwokerto, Jember, tetapi tetap berada di hati. Inilah yang membuat kami tetap merasa dekat. Satu sama lain tak terpisahkan. Karena kami satu. Satu dalam hati.

Mudik adalah salah satu fase dalam hidup kami, dimana tahu, respek, peduli, dan bertanggung jawab akan silaturahim menyatu di dalamnya. Inilah yang disebut dengan cinta dalam The Art Of Loving oleh Irrich Fromm. Semoga apapun yang terjadi di perjalanan hidup ini, tidak menyurutkan langkah untuk terus menjalani mimpi-mimpi kami. Kata Arai, bermimpilah, karena Tuhan pasti memeluk mimpi-mimpi kami. Pasti, insya Allah.

***

Advertisements