Place/Date/Time: Pink House/Minggu, 28122008/7.46 am

“Apa keistimewaannya hingga membuatmu suka padanya?”

“Apa, ya? Tidak tahu. Yang aku tahu, waktu aku sedih, dia tidak menyediakan shoulder to cry on, tapi dia berusaha membuatku bahagia dan menerima keadaan. Waktu aku takut dan tidak yakin pada diriku sendiri, dia tidak menggenggam tanganku, tapi dia meneguhkan hatiku. Waktu aku dengan sengaja bertingkah manja di depannya, dia tidak mengelus kepalaku, tapi dia mendidikku menjadi perempuan dewasa yang bisa dia andalkan. Waktu aku minta dia bilang sayang padaku, dia tak mempedulikanku, tapi waktu tahu aku berangkat sendiri menuju rumahnya di pulau yang asing, dia tak putusnya mengirimiku sms. Waktu aku bilang ingin menemaninya sampai akhir hidupnya, dia bilang itu hanya emosi sesaat, dan berharap agar masing-masing kami segera dijodohkan dengan orang lain. Bagaimanapun, aku akan dengan senang hati membantu persiapan pernikahannya.”

“Adakah yang dia suka darimu?”

“Aku juga tidak tahu. … Sepertinya tidak ada yang dia suka dariku. Aku lupa, pernah tanya dia atau tidak? Kalaupun pernah, aku lupa jawabnya apa. Aku juga lupa apa dia pernah sayang aku.”

… .

World, di atas tadi adalah sepenggal sms dari seorang adik kelas yang dulu pernah mengeluhkan cintanya. Ya, dulu. Saya masih ingat bagaimana dia ditinggalkan, bagaimana setiap bulir airmatanya menetes perlahan, berjalan menuju sudut bibirnya. Sudah bisa dipastikan, airmata yang pahit, sepahit kisah hidupnya itu.

Bagaimana tidak. Seseorang yang pernah melambungkan cita-cintanya sampai ke awan, semudah itu pergi. Tapi mau bagaimana lagi. Keyakinan mereka berbeda. Sebuah prinsip yang tidak bisa mereka lewati. Batas ini bukanlah seperti sebuah jurang yang secara jelas terbentang, karena selebar apapun jurang mudah dilewati jika mereka mau, bukan pula sungai Rubicon yang dilalui Julius Caesar semasa masih menjabat sebagai kapten pasukan.

Sejak awal, adik kelasku itu yakin bahwa hubungan mereka tidak akan berhasil. Mau dibawa ke arah mana pun, tidak akan ada titik temunya. Jikalau ada, itupun setelah mereka mempertaruhkan harga diri masing-masing di hadapan Tuhannya. Atau meruntuhkan tembok iman setebal Berlin yang mereka bangun semenjak berikrar atau dibaptis. Sebuah harga yang mahal dan tidak sembarang orang bisa melakukannya, meski mengerti sebesar apa imbalannya.

… .

“Oh, you are protestan… i’ve lost my trust on you… better you walk on your way n i’m on mine, ya… no wait, i’m not here anymore, ever… but i’ll be here till … .”

Dan seterusnya.

Biarlah berakhir, adik kelasku dan kami yakin itu keputusan terbaik. Tapi dia seakan terus menerus membiarkan kenangan mereka muncul. Berkilat-kilat di kepalanya. Seperti rol film yang terus diputar, dan she’s still watching it like a fave one. Bertarung dengan dirinya sendiri setiap hari, tidak pernah begitu saja meredam apa yang dia rasakan. Hingga entah akhirnya kehabisan akal, kami gali semua hal yang bisa membuatnya mual bila teringat lelakinya itu. Tapi gagal. Semakin dia mual, semakin dia sadar bahwa he’s so human, not an angel, jadi mereka punya kesempatan yang sama untuk jatuh cinta lagi.

Kami sadar, perasaan yang dulu pernah membuncah itu tidak akan dengan mudah dia padamkan. Bukan tidak bisa, tapi karena dia tidak mau. Dia pernah merasa hidup saat di sampingnya, saat mereka menulis kenangan demi kenangan itu. Bagaimanapun kami berusaha, hasilnya akan nihil. Tidak mungkin kami menghapus selaksa cinta yang menghidupinya seperti nyawa itu.

World, inilah yang dalam kamus kami sebut “memilih bodoh atasnama cinta”. Bukan cinta yang membuat dia bodoh, tapi dia sendiri yang memilih bodoh. Tak terbayang betapa banyak orang di dunia yang membuat pilihan ini. Bukan soal cinta itu baik atau buruk, tapi bagaimanapun, cinta itu selamanya baik. Ya, cinta selalu baik. Adalah, dia sendiri yang mengatakan, “If i were wrong, then i won’t be right.”

Kami tahu setiap orang mungkin pernah terjebak dalam fase ini. It’s ok, so human, tapi tidak kemudian terus-terusan berkubang di dalamnya. Ahmad Tohari mengatakan dalam novel Orang-Orang Proyeknya, bahwa cinta yang kita kenal sehari-hari, berada ditengah-tengah antara logika dan perasaan. Kalau terlalu logis maka cinta tak ada rasanya, kalau terlalu perasa maka cinta menjadi bodoh. Dan kebanyakan orang terjebak pada kondisi kedua.

Ayolah, ada banyak orang yang bisa melakukan hal yang sama baiknya seperti apa yang pernah lelaki itu lakukan. Berilah kesempatan pada diri sendiri untuk melihat banyak hal. Jika ada sepuluh pintu yang tujuh di antaranya tertutup, kenapa kita harus terfokus pada pintu yang tertutup padahal ada yang terbuka?

Baiklah. Pada akhirnya kami tidak berpikir untuk membantunya menyelesaikan masalah, tapi cukup mencarikannya jalan keluar. (World, nilai sugesti kalimat ini tidak sama!) Daripada otak kita sibuk mencari-cari alasan atas masa lalu, kenapa tidak sebaiknya mencari-cari kesibukan untuk masa depan?

Meski perbandingan lelaki dan perempuan di dunia akan mencapai 1:3, bukan berarti peluang itu menjadi tidak ada. Bukan soal apakah kita harus belajar mencintai lagi, tapi lebih optimis dalam menghargai diri sendiri. Seolah hanya satu orang saja yang mau. Kita hanya perlu belajar lebih hati-hati untuk mempercayakan perasaan kita kepada orang lain.

Dan, seperti yang kami perkirakan sebelumnya, pada akhirnya adik kelas saya itu menjadi seseorang yang sangat dewasa. Ya, sangat dewasa. Bukan karena kami, tapi karena dia mampu menerima keadaannya sendiri. Ini adalah sebuah cara yang fair untuk mengatasi kelemahan dirinya, yakni secara tegas mengakuinya. Mengakui bukan malah bersikap kalah, tapi saat itulah dia mampu mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Dia tidak pernah memaksa dirinya menutup babak lama untuk memulai babak baru dalam hidupnya, karena setiap kejadian membuatnya lebih kuat seperti sekarang ini.

Kabar baiknya, dia tahu bahwa suatu saat dia akan memberikan hatinya untuk orang yang lebih baik. Benar-benar orang yang lebih baik.

Begitu mudahnya proses mencintai dipelajari, karena baik cinta maupun benci, keduanya meletup-letup dari hal yang kecil-kecil.

… .

“Selamat ya, Nduk… .”

Advertisements