Point of No Return, sebuah titik ketika kita harus keep on moving forward, karena berhenti di tengah-tengah adalah sebuah hal yang sangat tidak memungkinkan, terlalu mahal, berbahaya.

Place/Date/Time: Pink House/Kamis, 15012008/7:54pm

Inilah saat kita mengambil keputusan untuk sesuatu yang besar dalam hidupmu. Entah apapun itu, being settled down with somebody, taking a nu job, memilih judul skripsi, making an appointment, teken kontrak, bahkan sekedar meneruskan keinginan untuk tidur atau memilih makanan yang kita makan.

PNR—point of no return, dulunya dipakai dalam dunia penerbangan. Para pilot biasanya menggunakan istilah “Radius of Action Formula”, yakni karena alasan bahan bakar, sebuah pesawat terbang tidak dapat kembali ke tempat asalnya. Maka setelah melewati PNRnya, tidak ada jalan lain bagi sang pilot kecuali meneruskan perjalanan atau mencari tempat mendarat darurat.

Sendang Biru, Sempu

Hal yang sama saya alami ketika menyeberangi Pulau Sempu untuk menuju Sendang Biru. Tiga-empat bukit kami lalui, capek, berat, tapi kami sudah lebih dari setengah perjalanan, dan tidak mungkin kembali lagi kecuali meneruskan perjalanan sampai ke tujuan.

Sedikit berbeda dengan Puncak Semeru, yang di tengah perjalanan kita bisa menemui Rono Kumbolo, di mana dihamparkan sebuah pemandangan yang tak ternilai indahnya. Sebuah danau di tengah hutan, perpaduan antara hijau dan biru alami, berkelip-kelip seperti jutaan mutiara yang digelar begitu saja di depan mata kita. Kebanyakan orang awam akan berhenti sampai di sini, lalu memutuskan untuk turun kembali. Kebanyakan orang awam cepat puas, sehingga baru setengah perjalanan mereka memutuskan untuk berhenti lalu kembali.

Sempu dan Semeru menawarkan PNR dalam kondisi berbeda. Jika di Sempu kita akan dikondisikan dalam suasana terpaksa, maka di Semeru kita dikacaukan oleh banyak sekali kenikmatan sesaat.

Ada hal yang dapat membuatmu bertahan sampai ke Sendang Biru atau Puncak Semeru. Yakni ketika seseorang memberi tahumu bahwa ada banyak keindahan di sana yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Yakni ketika kita bisa membayangkan keindahan itu, lalu menyimpan ketakjubannya dalam hati meski mata kepala kita sendiri belum melihatnya. Kita melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat, dan kita tahu apa yang kita cari disana. Maka saat itulah kita berani mengambil resiko menempuh perjalanan melewati PNR itu.

Cross Over The Rubicon River

Kira-kira lebih dari dua ribu tahun silam, sebuah sungai perbatasan dilintasi dengan akibat yang sangat dramatis. Rubicon adalah sebuah sungai yang menandai perbatasan Romawi kuno, antara wilayah Romawi yakni propinsi Gallia Cisalpina di utara dengan Southern Italy. Pasukan manapun yang melintasinya dianggap menyatakan perang terhadap negaranya sendiri.

Letak Sungai Rubicon

Maka ketika Julius Caesar, yang pada masa itu baru seorang Jendral, melintasi Rubicon pada 10 Januari 49 SM, ia secara otomatis dianggap menyatakan perang melawan Senat Romawi sehingga hasilnya satu di antara dua pilihan: menang atau dimusnahkan. Ini asal muasal ungkapan “menyebrang Rubicon”, yang berarti mengambil langkah yang tak mempunyai peluang mundur.

Istilah “menyeberang Rubicon” menjadi populer sejak kisah ini diungkap oleh Suetonius, sejarawan.

Menyeberang Rubicon adalah sebuah keputusan yang penting sekaligus besar, karena bisa jadi mengubah hidup kita entah mulai saat ini juga atau esok nanti. Ada yang beranggapan, ketika kita mengambil keputusan untuk menyeberang Rubicon itu, saat itulah kita telah memberi arah baru untuk kehidupan, lalu bersiap menghadapi kejutan-kejutan selanjutnya.

Tiap orang mungkin punya batas Rubicon yang berbeda satu sama lain. Bisa jadi seseorang lebih memilih untuk berganti-ganti pekerjaan sebelum menimbang-nimbang keputusannya, atau lebih memilih bercerai ketimbang mempertahankannya, atau lebih memilih tidak menghabiskan makanannya karena tidak sesuai selera. Seperti

Lokasi Propinsi Gallia Cisalpina

halnya pendakian di Semeru, godaan-godaan di tengah jalan membuat

banyak orang memutuskan kembali karena mereka merasa cepat puas atas usaha mereka. Sehingga keseriusan seseorang terhadap hidupnya bisa dilihat dari bagaimana mereka bersikap terhadap titik PNR yang telah mereka ambil.

Tiap orang pun punya beribu alasan berbeda untuk bersikap terhadap PNR mereka. Ada yang memang benar-benar mempertimbangkan untuk melewatinya atau meninggalkannya, ada pula yang sekedar mengatakan, “Ya, memang tidak mau. Tidak suka.” Dan kebanyakan kita berada di kondisi kedua, ketika menimbang-nimbang PNR kita berdasar alasan yang tidak cukup rasional, meski PNR ini membawa dampak besar bagi kehidupan kita.

Tentang kondisi irrasional itu, saya jadi ingat seseorang di dekat saya yang seringkali mengatakan, “Ya memang tidak suka,” atau, “tidak selera” *jika boleh menghaluskan istilah ‘malas aja’, haha* ketika ditanya mengapa tidak memutuskan mengambil semester pendek, misalnya. Tapi memang banyak orang yang berada di kondisi ini, dan sepertinya cukup wajar bagi masing-masing orang yang lebih mengutamakan intuisinya jika berkenaan dengan kehidupan pribadinya.

Mengapa kita seringkali tidak cukup rasional, padahal manusia telah Tuhan bekali dengan akal? Sejak kecil, pola pengasuhan kita dibiasakan dengan ancaman-ancaman tentang hal mengerikan yang akan terjadi apabila kita tidak menurut. Semua ini terbawa sampai kita dewasa dan mulai membangun kehidupan kita sendiri, ketika kita mulai merasa memiliki motif pribadi yang khawatir bisa ditafsirkan berbeda oleh orang lain.

Inilah yang disebut reputasi, kata Theodore Zeldin, adalah semacam bentuk modern dari ancaman-ancaman yang terpola sejak kecil itu. Dan keputusan kita yang seringkali berdasarkan intuisi itu, secara tak sadar dipengaruhi oleh reputasi, termasuk bagaimana kita memandang diri sendiri dan dunia sekitar kita.

Ketika kita terlalu berlebihan dalam membayangkan resiko melintasi Rubicon, maka disebut irrational fear, dan ketika begitu saja mengambil keputusan melintasi Rubicon, inilah yang disebut irrational euphoria. Dua kondisi ini begitu berbeda, tapi mempunyai hasil akhir yang sama parahnya. Pada kondisi pertama maka selamanya hidup kita akan berkutat di satu kubangan saja, tidak berkembang sehingga lama-lama sungai hidup kita alirannya akan berhenti, membusuk menjadi rawa. Maka kondisi kedua akan membuat hidup kita terjun bebas lepas lalu jatuh berkeping-keping karena tak pernah mempersiapkan parasut sebagai pengaman.

Thariq Burnt His Ships

Burn ships!

Seorang panglima muslim, Thariq bin Ziyad, saat mendarat di Iberian Peninsula, daratan Spanyol, pada tahun 711M, memerintahkan kapal-kapal perangnya dibakar hingga musnah, sehingga seluruh pasukannya tidak punya pilihan lain kecuali untuk maju berperang, dan pantang menyarungkan pedangnya kembali sebelum kemenangan diraih atau syahid menjemput.

“Burnt ships” adalah idiom lain dari “cross over rubicon”, dengan makna yang sama, point of no return. Namun “membakar perahu” mempunyai arti yang lebih dalam. Ibarat masa lalu, kapal-kapal itu kau bakar hingga tak ada lagi yang dapat membuatmu mundur.

Yang dimaksud masa lalu di sini bukan hanya sesuatu yang sudah terlewat, tetapi termasuk apa yang kita lakukan sekarang. Jika kita bersedia bersiap untuk menyeberangi Rubicon, maka sebagian besar dari apa yang kita lakukan sekarang harus dianggap sebagai masa lalu. Dan itulah yang harus berani kita ‘bakar’ supaya tidak ada lagi yang menarik kita kembali kepada kebiasaan lama yang sudah ditinggalkan.

Alasan mengapa sangat sedikit orang yang mau bersiap ‘membakar’ kebiasaan lama adalah karena kebanyakan menciptakan fantasi tentang sesuatu yang sangat buruk (catastrophic fantasy) sebagai akibat mencoba-coba sesuatu yang baru.

Fantasi katastrofik ini, secara teknis, tidak mustahil. Akan tetapi, apakah skenario kejadian paling buruk itu realistis? Dalam dunia nyata, tentu saja tidak.

Kita semua menciptakan fantasi katastrofik, khususnya ketika menimbang-nimbang sebelum membuat keputusan besar, dan seringkali fantasi itu membuat kita takut dan cenderung mempertahankan kebiasaan lama. Misalnya, kebanyakan dokter muda yang mulai memasuki dunia klinik, telah menciptakan fantasi katastrofik tentang kehidupan mereka yang dianggap sebagai strata terendah di rumah sakit pendidikan. Ini mungkin meliputi gambaran tentang mereka yang diperlakukan sebagai pesuruh seniornya, dipingpong sana-sini oleh birokrasi feodal rumah sakit, dan sebagainya.

Dokter muda yang kemudian telah mengalami hampir seluruh putaran di beberapa departemen di rumah sakit mungkin menganggap fantasi katastrofik ini sebagai omong kosong belaka. Beberapa dokter muda yang tenggelam dalam fantasi katastrofiknya sendiri, bisa dipastikan melewatkan banyak sekali peluang emas yang seharusnya bisa mereka peroleh. Sebagian besar dari mereka justru menciptakan kebiasaan kontra produktif bagi kemajuan pendidikan mereka.

Sebaliknya, mereka yang mampu membakar kebiasaan lamanya, sekaligus dapat mengurangi efek dari fantasi katastrofik ini, meskipun pengaruhnya masih dirasakan ada.

Burnt Your Ships, Then Cross Over Rubicon

Gibraltar (Jabal Thariq, Bukit Thariq, penerj.): tempat mendarat Thariq bin Ziyad di Andalusia (Spanyol)

Inilah yang kita lakukan untuk melintasi PNR: meninggalkan kebiasaan lama yang tidak efektif, lalu mengambil langkah nyata dan berkomitmen untuk masa depan.

Banyak orang yang terjebak di sini: tidak sesegera mengambil langkah nyata untuk melintasi Rubicon. Masih bimbang, mengulang-ulang pertimbangan, pada akhirnya tidak pernah moving forward sedikitpun. Dari sini, gaya sentrifugal untuk kembali kebiasaan lama menjadi lebih besar.

Sebenarnya dari awal saya sudah menyebutkan cara yang paling efektif untuk melintasi PNR kita. Yakni dengan melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat di depan kita. Dengan kata lain, melalui visi. Jika kita melihat sebuah peluang yang lebih baik di masa depan, kenapa tidak?

Mungkin pilihan untuk tidak membakar kebiasaan lama lalu menyeberangi Rubicon tidak sepenuhnya salah. Sehingga sangat penting bagi setiap orang untuk mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  1. Seberapa jauh dan nyata visimu? Bagi sebagian orang, terutama seorang muslim, berlatih ‘melihat masa depan’ atau ‘membentuk visi’ dilakukan tiap hari dalam lima waktu. Yakni ketika membaca ayat “Maalikiyaumiddiin,” Yang Menguasai Hari Pembalasan, maka sebaik-baik masa depan adalah mendapat balasan terbaik atas amal kita di dunia.
  2. Pertimbangkan apa kata hatimu. Tentu saja, hal ini membutuhkan kejernihan hati.
  3. Apa yang membuatmu mengikuti kata hati? Seberapa mendukungkah alasan ini?
  4. Untuk tiap pilihan, apa yang akan kamu rasakan dan alami dalam beberapa menit ke depan, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan bertahun-tahun dari sekarang?
  5. Keputusan apa yang menurutmu terasa paling membanggakan setidaknya sebulan sampai setahun dari sekarang?

Wallahu alam. Saya juga sedang belajar.

***

Advertisements