Menukil dari arsip Kedaulatan Rakyat Online http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=187231&actmenu=45

*Kok saya jadi keranjingan cari tembang macapat gini, ya? J *


Sanepane, wong urip puniki

aneng donya iku umpamanya

mung mampir ngombe

umpama manuk mabur

lepas saking kurunganeki

pundi mencoke mbenjang, aja nganti kleru

umpama wong jan sinanjan

ora wurung mesthi bali mulih

mring asal kamulanya

Ditamsilkan, orang hidup senyatanya/ di dunia itu diumpamakan/ hanya seperti orang yang singgah minum/ semisal burung terbang/ lepas dari sangkarnya/ ke mana hinggapnya kelak/ jangan sampai keliru/ seumpama orang saling kunjung-mengunjungi/ akhirnya pasti kembali pulang/ ketempat asal mulanya.

Bila manusia telah tahu akan kodratnya secara lahir batin, maka ia akan memperoleh ati suci tan mangro pikir (hati suci tanpa menduakan dengan akal) serta sucining paningal (kesuciannya penglihatan). Artinya, untuk bisa mengetahui tentang kodratnya sebagai manusia yang menanggung kewajiban untuk hidup dengan baik, dalam melaksanakan kehidupannya di dunia fana ini, pertama-tama adalah harus menjaga kesucian dari penglihatannya. Mata dikaruniakan kepada manusia untuk melihat apa saja yang terpampang di depannya, tetapi bukan berarti semua yang terpampang di hadapannya itu harus dilihatnya. Hal-hal yang dilarang untuk dilihat sesuai ketentuan larangan-Nya, dimaksudkan untuk menjaga moral matanya agar tetap suci, sehingga tidak menyebabkan gejolak nafsu (emosi) yang tidak terkendalikan oleh pikiran.

Pikiran itulah yang memerintah anggota badan untuk bertindak. Walau nurani (hati suci) sudah memperingatkan, tetapi kalau pikiran tak mampu menguasai gejolak nafsu (emosi), lalu tetap berbuat apa yang dilarang-Nya, maka penyesalanlah yang akan muncul dalam nurani (hati suci). Itulah makna ati suci tan mangro pikir serta sucining paningal (kesuciannya penglihatan).

Hanya dengan mengetahui kepada kodratnya itu, manusia akan sampai kepada pemahaman jatining tunggal (kesejatian satu-satunya) yakni sangkan paraning dumadi (arah tujuan kehidupan yang hakiki). Artinya, orang yang bisa menjaga kesucian penglihatannya, kesucian pikirannya dan kesucian hatinya atau hidup dengan bersih dari dosa jasmaniah dan rohaniahnya (lahir batinnya), berarti memiliki kepribadian yang baik, memiliki jati diri yang kukuh, kokoh, keket (pekat), bisa menjaga martabat jatining tunggal (kesejatian satu-satunya). Martabat bukan dalam arti duniawiah, tetapi martabat dirinya dihadapan Allah SWT. Dilahirkan kedunia dalam keadaan suci dan kembali kepada-Nya pun dalam keadaan suci pula. Itulah makna sangkan paraning dumadi atau paham akan arah tujuan kehidupan yang hakiki secara rohaniah (spiritual).

Apakah tujuan yang ingin dicapai dengan paham akan sangkan paraning dumadi?. Tidak ada lain kecuali untuk mencapai kepada pemahaman tertinggi: manunggaling kawula Gusti (bersatunya kembali manusia dengan Sang Penciptanya). Manusia yang ingin pulang ke haribaan Sang Penciptanya di surga (kebahagiaan hidup di akhirat) harus membawa buah hasil karya yang ditanam di masra’atul akhirah (lahan tanaman akhirat) atau hidup suci di dunia fana. Itulah yang disebut oleh Orang Jawa sebagai Ilmu Kasunyatan (pengetahuan tentang Realitas Jati Diri).

Apakah benih untuk ditanam di masra’atul akhirah (lahan tanaman akhirat) itu? Tiada lain adalah dapat memahami kenyataan bahwa manusia hidup di dunia ini berada di tengah masyarakat dalam hubungan timbal balik dengan makhluk lainnya sampai kematiannya. Oleh karena itu, realitas jati diri (kasunyatan) tidaklah cukup hanya mengerti tentang sangkan paraning dumadi secara kuno (klasik). Artinya, sangkan paraning dumadi hanya dimengerti sebagai sekadar mulih asaling wiji (pulang ke asalnya) saja. Maknawi mulih asaling wiji itu bukan hanya sekadar dimengerti dalam kaitannya dengan alam wasana (dunia akhir/akherat), mulih asaling wiji itu harus dimengerti dalam dimensi waktu secara menyeluruh, yakni alam purwa (alam sebelum lahir) alam madya (hidup di dunia ini), dan alam wasana (alam sesudah kematian).

Orang dapat mulih asaling wiji dengan sempurna jika di dalam alam madya saat ini, ia menjalani tugas hidupnya dengan sempurna pula. Dalam alam madya ini orang hendaknya hidup dengan penuh amal sholeh terhadap sesamanya. Kasunyatan bukan hanya dipahami secara teoritis atau imbauan moral saja, tetapi harus dipahami secara praktis atau dipraktekkan dengan nyata dalam kehidupan bermasyarakatnya, kehidupan bernegaranya dan kehipuan berbangsanya.

Tidak ada nilai guna dan hasil guna yang akan dituai untuk bekal menuju surga, bila hidup ini hanya dilakoni dengan tebar pesona, ngumbar janji (nafsu) dan ngobral wacana.

… .

Nah, terbukti kan kalau ilmu budaya kita sangat bagus sebagai media pendidikan? So, bagaimana menurut Anda, wahai teman-teman dari Fakultas Ilmu Budaya? Smangat, ya…! J

Advertisements