Kalau pendidikan diakui sebagai wahana yang ampuh untuk membangun karakter bangsa, dan pembangunan karakter bangsa yang kokoh apabila bersumber pada nilai-nilai luhur dan budaya bangsa maka tentunya menjadi persoalan: bagaimana membangun pendidikan yang berbasis pada budaya bangsa agar kita betul-betul menjadi bangsa Indonesia dengan budaya sendiri… . (mulyono2009.blogdetik.com)

Wah, berat pembukaannya. Hehe… J

Inget buku Pepak Basa Jawi?

Dulu, semasa esempe, buku itu adalah buku yang cukup horor. Di dalamnya banyak sekali dimuat kosakata bahasa jawa *ya iyalah*. Bagi saya semenjak kecil, bahasa jawa halus (krama inggil) dan semacamnya yang lebih halus banyak dipakai dalam dunia perwayangan, sementara dunia perwayangan bagi saya adalah hal yang sangat mistis.

Sewaktu saya berkunjung ke Palembang, saya mendapati ternyata bahasa daerah sana tidak jauh berbeda dengan bahasa jawa. *kenapa Palembang?* Ya… pernah ke Cianjur juga, sih. Baik bahasa daerah Palembang dan Sunda di Cianjur, sepertinya berasal dari akar rumpun yang sama dengan bahasa jawi.

Herannya lagi, Kawan, ketika saya mengikuti briefing sekaligus pelatihan bagi penerima beasiswa aktivis Diknas, saya mengetahui juga bahwa bahasa suku Anak Dalam di pedalaman Jambi juga mirip bahasa jawa. Salah satu buktinya, mereka menyebut kepala suku mereka sebagai “tumenggung”, mirip sebutan di jawa. *Tapi hanya satu bukti itu yang saya tahu. Tidak mewakili, eh? Maap…* Lagipula, dalam video dokumentasi Butet Manarung yang saya punya, ada celetukan “jatuh bangun aku, mengejarmu…” (potongan lagu oleh penyanyi dangdut asli jawa)

Back to Palembang. Salah seorang pemandu mengatakan bahwa pengucapan bahasa Palembang halus untuk “saya orang Palembang” adalah “Kulo tiyang Palmbang”… itu bahasa jawa! Lebih tepatnya lagi, kita menggunakan bahasa yang sama!

Yang disayangkan, bahasa jawa sendiri semakin kurang populer di komunitas jawa. Semakin orang melabeli dirinya modern, semakin mereka terdorong menguasai bahasa asing, dan semakin mereka jauh dari bahasa ibunya, entah disengaja atau tidak.

Persis satu tahun yang lalu, di bulan Januari, pemkot surabaya mengeluarkan surat nomor 421.2/0123/436.5.6/2008 tertanggal 14 Januari yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Drs Sahudi MPd. Isinya, sebagai upaya menumbuhkembangkan dan melestarikan budaya Jawa dan penanaman etika sopan santun bagi siswa, sekolah SD/SMP/SMA/SMK negeri dan swasta sekota Surabaya diminta menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi dan interaksi di sekolah sehari dalam seminggu, yaitu setiap hari Senin.

Menurut penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Drs Sahudi MPd., format penerapannya adalah sesama siswa menggunakan bahasa Jawa ngoko, antara siswa dengan guru atau orang yang lebih tua harus menggunakan kromo inggil (bahasa Jawa halus), dan penggunaan bahasa Jawa dalam proses belajar mengajar (PBM) diserahkan ke sekolah masing-masing.

Sebuah aturan yang luar biasa. Banyak pro kontra seiring dikeluarkannya aturan tersebut. Ditambah lagi, siswa yang berasal dari luar jawa akan semakin kesulitan belajar. Sebagai akibat ‘dipaksa’ menggunakan bahasa jawa, maka hak-hak belajar mereka menjadi terganggu.

Well, mari kita lihat dari sudut pandang lain. It’s ok, mungkin soal bahasa, banyak sekali yang mengalami kendala. Akan tetapi, yang kita lihat di sini adalah inti permasalahannya. Saya melihat, surat edaran tersebut muncul sebagai reaksi atas semakin terdesaknya budaya jawa akhir-akhir ini. Budaya jawa bukan dalam arti sempit yang diwakili oleh bahasa jawa, tapi seluruh budayanya termasuk seni tari, tembang (lagu), parikan (peribahasa), dan sebagainya.

Makin banyak orang jawa yang meninggalkan adatnya, padahal banyak diantaranya yang bernilai positif. Satu hal yang mudah dipahami, adalah mengapa bahasa jawa memiliki tingkatan penerapan tersendiri. Ada jawa ngoko, ngoko andhap, dan krama inggil, yang masing-masing dibahasakan pada tingkatan usia yang berbeda.

Disinilah letak fokus yang sebenarnya. Bukan sekedar berbahasa, tetapi nilai moralnya yang harus digarisbawahi *kalau perlu dibold, italic, stabilo, asal jangan stipo*. Krama inggil, bahasa jawa yang paling halus, dibahasakan kepada orang lebih tua sebagai wujud penghormatan orang yang lebih muda kepada mereka, terutama kepada orang tua sendiri. Mereka dihormati karena lebih kenyang pengalaman dalam hidup. Namun bukan berarti yang muda menjadi di bawah, karena dengan fasilitas krama inggil, yang muda tetap bisa mengingatkan yang tua.

Mengeluarkan surat edaran tersebut sama halnya menancapkan sebuah jarum pada pantat orang tanpa alasan tepat *maksud saya, menyuntik tanpa indikasi medis*. Karena sebaiknya permasalahan pelestarian budaya bukan cuma disikapi dari segi politis, meski sebenarnya jaman sekarang ini aturan berperilaku masyarakat menjadi sebuah keniscayaan hukum dan politik, yang diterjemahakn bukan hanya di atas kertas, juga perilaku sehari-hari.

Sehingga, pelestarian budaya harus diawali melalui kultur masyarakatnya dulu. Artinya, harus ada usaha-usaha yang komprehensif dan kontinyu. Misalnya, pemerintah mensponsori pagelaran wayang kulit dengan gamelan yang dipadu alat-alat musik modern, sekaligus pembawaan gendhingnya dikemas dalam aliran ethnojazz, misalnya. Kenapa tidak? Saya pernah punya mp3 lagunya Didi Kempot yang dikemas dalam bosanova *tapi hilang bersama komputer saya yang rusak dulu*. Jika anak muda jaman sekarang mengaku kreatif dengan semakin banyaknya band-band baru bermunculan, kenapa belum ada satupun yang menyentuh musik-musik jawa?

*Semasa esema, band saya dan kawan-kawan eskul karawitan pernah berlatih bersama, menggarap lagu linkin park dipadu rancak gamelan. Ternyata susahnya minta ampun. Sekali-dua kali kami latihan, akhirnya berhenti. Karena kekurangan dana, akhirnya tidak berlanjut di tahun-tahun sesudahnya.* Satu lagi kendala anak muda: cepat bergagas-ide, cepat pula menyerah. Akhirnya ide itu menguap begitu saja. Tentu saja, memang dibutuhkan usaha yang kontinyu alias istiqamah, Bro. Di sinilah dibutuhkan orang-orang tua yang mendukung kegiatan positif anaknya, baik itu mendanai, menyediakan fasilitas latihan, dan membuatkan pagelaran. Bukan begitu saja membuat surat edaran seperti itu.

Sekali lagi, kita harus teliti dalam mengambil fokus permasalahan. Melestarikan budaya bukan soal membuat aturan yang mengikat semua pihak untuk diterapkan, tapi harus ada usaha-usaha promotif untuk semakin menggencarkan keterlibatan banyak orang.

Semakin banyak yang terlibat sebagai pelaku budaya, maka pola kehidupan masyarakat kita juga akan terbentuk dengan sendirinya. Sendi-sendi masyarakat jawa tidak akan jauh dari budayanya, karena setiap orang jawa menjadi pelaku budaya. Sehingga yang kita butuhkan, bukanlah seorang guru yang mengajar dalam bahasa jawa, tapi seorang pendidik yang mengajarkan nilai moral melalui parikan, tembang, dan kesenian jawa.

Jika pada saatnya nanti, budaya jawa semakin banyak yang meminati, melakoni, dan lestari, tidak perlulah kita membuat aturan semacam itu. Buang-buang uang, waktu, dan tenaga saja.

Bukan hanya budaya jawa, demikian juga budaya-budaya daerah lain. Karena apa yang disebut sebagai budaya nasional bangsa Indonesia adalah puncak-puncak dari budaya daerah. Maka suatu saat, negara kita menjadi negara pariwisata terbesar di dunia, karena satu negara mampu menyajikan banyak sekali raga budaya. Amiin…

Namun Kawan, saya masih mengkhawatirkan istilah “negara pariwisata”, seiring semakin ngetrendnya istilah “seni” di negara kita. Sembari melupakan moral, banyak hal yang begitu saja disebut seni, contohnya seni yang mengumbar aurat. Maka salah satu konsekuensinya, dalam setiap budaya daerah yang dikembangkan itu, haruslah secara patut menempatkan frame moral pada tingkatan utama. (dalam hal ini sangat tidak adil jika kita terus menerus mengambil contoh saudara kita di Papua untuk menolak pronografi-pornoaksi. Karena sejatinya seksualitas dan sensualitas adalah dua hal yang berbeda, maka hendaknya usaha mengembangkan seni budaya kita tidak berarti mengagungkan segala hal yang merusak akhlak. Di sinilah sejatinya apa yang kita sebut “Jati Diri Bangsa Indonesia”, bangsa yang besar, dengan akhlak sebagai landasannya.)

Wallahu alam bishawab. Maju terus budaya Indonesia…!

Advertisements