Saya meronta, menendang-nendang sekuat tenaga, supaya tangannya tak bisa meraih pinggul saya. Saya berteriak sejadi-jadinya, namun yang ada hanya suara mendesis. Tangan kiri Duryudana menggenggam kuat kedua kaki saya—yang tentu jauh lebih kecil daripada kelingkingnya. Saya diangkatnya tinggi-tinggi dengan kepala di bawah, lalu menghadapkan muka saya ke arahnya.

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 17012008/7:59

Eyang di Jember, saat saya masih pertama kalinya dikenalkan dengan seragam tk, suka menggelar bancaan sekaligus wayang kulit. Acara apapun itu, perayaan hari besar—atau yang dianggap besar—tak lengkap tanpa pagelaran wayang kulit. Termasuk ketika saya lahir *sebagai info, saya cucu pertama dari silsilah keluarga bunda dari eyang jember* eyang menggelar wayang kulit. Ketika usia saya sekitar 7-8 bulan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya belajar berjalan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya baru bisa kencing berdiri… hee… ngawur… *sebagai info, saya baru tahu kencing sebaiknya duduk ketika esempe…* *info ini penting ngga seh… :P*

Begitulah. Setiap acara wayang kulit mulai, sekitar pukul sepuluh malam dimana anak kecil seharusnya tidur, saya tidak. Bunda kemudian memangku saya sambil menggerak-gerakkan pinggulnya yang besar itu, supaya saya cepat tertidur.

Dan benar. Alunan gendhing, gamelan, mantra-mantra mistis dalang, suara sinden yang melengking namun rapi dalam nada, membuat mata saya semakin berat. Di depan saya berkilat-kilat badan-badan tokoh wayang yang berwarna emas itu. Layar sudah semakin putih, artinya lampu di sekitar penonton dimatikan, hanya tersisa lampu yang menyorot ke layar. Lalu sebuah suara menggelegar dan bertubi-tubi, bak guntur bersambar-sambar di kejauhan, menghajar pepohonan di dekat rumah eyang, menghasilkan suara ledakan begitu besar. Sebuah tokoh wayang menyeringai di depan saya, yang belakangan saya ketahui sebagai Duryudana, putra sulung dari Kurawa.

Dia semakin dekat dengan wajah saya, sehingga bisa saya rasakan nafasnya yang penuh kecemburuan itu. Mungkin karena dia lahir dengan cara tak wajar, dari salah satu potongan daging keabuabuan yang lahir akibat Gendari, ibunya, memukul-mukul perutnya yang tak kunjung lahir setelah beberapa tahun. Senyumnya begitu puas sepuas ketika dia menelikung pandawa di permainan dadu, yang akhirnya memaksa Yudhistira mempertaruhkan isterinya sendiri.

Saya meronta, menendang-nendang sekuat tenaga, supaya tangannya tak bisa meraih pinggul saya. Saya berteriak sejadi-jadinya, namun yang ada hanya suara mendesis. Tangan kiri Duryudana menggenggam kuat kedua kaki saya—yang tentu jauh lebih kecil daripada kelingkingnya. Saya diangkatnya tinggi-tinggi dengan kepala di bawah, lalu menghadapkan muka saya ke arahnya. Matanya berkilat-kilat, cemburunya terpuaskan, tertawanya semakin kacau dan keras, lalu terdengar riuh tepuk tangan membahana di sekitar saya.

Saya terbangun.

Hanya itu yang dapat saya ingat. Selebihnya adalah gendhing jawa yang selalu terngiang-ngiang. Ketika titi nada gamelan semakin nyata, mulailah sang dalang mengucapkan mantra-mantra mukadimah. Mantra itu begitu menyihir, dan setiap kali saya mengingat, yang muncul adalah sosok Duryudana.

Di negara kita, kesenian wayang kulit sangat terkenal sebagai media dakwah Sunan Kalijaga. Dia menambal-sulam beberapa bagian dari cerita Mahabharata yang banyak diyakini oleh masyarakat Hindu di Kerajaan Majapahit saat itu, digubah untuk mendukung penyebaran cahaya Islam yang dibawanya.

Misalnya saja adanya tokoh Pandawa Lima, yang menjadi simbol dari lima Rukun Islam. Yudhistira, sang sulung, mempunyai tabiat sabar, tidak pernah marah, konsisten, adalah karakter yang tercermin ketika seseorang berikrar syahadat. Syahadat inilah titik balik seseorang yang berani membuang masa jahiliyahnya menuju keimanan baru sebagai seorang muslim. Kemudian Bima atau Wrekudara, yang kuat, tegas, teguh memegang prinsip, adalah karakter muslim yang dibangun melalui salat. Demikian seterusnya.

Dalam masyarakat jawa, wayang kulit ini disebarkan kisahnya dari satu populasi kepada populasi yang lain. Hasilnya, penyebaran Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga menjadi cukup efektif. Wayang kulit inilah yang disebut sebagai collective unconsciusness oleh Carl Gustav Jung.

Carl Gustav Jung, murid Freud yang menentang gurunya sendiri, mengatakan bahwa seorang manusia bukan hanya terdiri dari komponen instingtual, namun juga unconsciusness, ketaksadaran. Jiwa kita tidak hanya terdiri dari personal unconsciusness, juga uncollective consciusness. Jika personal unconsciusness hanya dimiliki orang per orang, maka collective unconsciusness dilanjutkan dari generasi ke generasi melalui arketipe. Arketipe ini adalah bentuk dan citra universal yng terdapat pada mitos-mitos dalam berbagai kebudayaan, termasuk jawa.

Kesehatan psikologis adalah kemampuan untuk membiarkan arketipe ini memasuki kita, memberikan bentuk pada pengalaman psikologis kita dengan mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psikologis timbul karena hanya mampu mengidentifikasi beberapa arketipe sehingga membatasi jati diri dan perasaan.

Misalnya, jati diri seseorang adalah memainkan lakon Bima, menjadi tegas, njambal (memanggil nama tanpa sebutan mas, mbak, dek, pak, atau bu, bahkan tante atau oom), dan dia tidak dapat memasukkan arketipe yang lain semisal Yudhistira, yang bersabar dan bijak dalam menghadapi sesuatu. Maka dipastikan kekayaan pengalaman dari perasaan, kreativitas, dan spontanitas kehidupan tidak dapat mengalir ke dalam dirinya.

Contoh arketipe yang melekat dalam seorang muslim adalah Rasul saw. Penerapan arketipe seorang Muhammad ini tidak ditafsirkan sebagai pensakralan atau penyembahan sebagaimana halnya nabi Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan, atau pengingkaran sebagaimana nabi Musa oleh bangsa Yahudi.

Melainkan, diteladani. Dengan meneladani beliau, banyak sekali akhlak positif yang akan masuk ke dalam diri seorang muslim. Rasul dapat menjadi seorang yang melankolis, menangis tersedu dalam tahajjud mengingat amalannya seakan tak pernah cukup. Beliau bisa menjadi seorang koleris yang handal saat memimpin pasukannya.

Beliau bisa menjadi seorang plegmatis yang rela berjam-jam mendengarkan seorang nenek yang tak putus menceritakan perihal cucunya, sambil sesekali beliau tertawa bersama sang nenek. Atau rela menyuapi dan merawat seorang Yahudi tua yang buta meski dia selalu mengejek Muhammad saw. Bisa juga menjadi seorang sanguinis yang mampu menceritakan detil surga hingga para sahabatnya menangis bahagia, juga tentang neraka hingga tak sedikit dari mereka yang menangis sampai pingsan.

Jika demikian lengkapnya kepribadian Rasul, apakah perlu kita mencari arketipe lain? Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk membaca tentang biografinya yang sahih, dan istiqamah mengikuti sunnahnya.

Wallahu alam bishawab.

 

Advertisements