Pemeriksaan penunjang ini mendukung analisa faktor resiko yang mungkin muncul pada pasien TIA dan Stroke, terutama segala macam faktor yang terdapat pada sistem peredaran darah.

Kawan, sistem peredaran darah kita ini sangat luas cakupannya. Coba lihat, berawal dari jantung. Jika sistem jantung-paru kita bermasalah, bisa saja berdampak pada suplai darah ke otak. Karenanya perlu analisis X-foto polos dada untuk melihat gambaran umum kondisi jantung-paru, terutama rasio jantung dan rongga dada (CTR, cor-thorax ratio). Jika lebih dari 50%, maka terjadi pembesaran jantung. Jantung kita adalah segenggam otot yang memiliki struktur mirip seperti otot-otot bergaris yang ada di lengan dan paha kita. Seperti halnya para lelaki yang dengan mudah memperbesar gelendong otot di lengan dan dada, jika beban kerja jantung bertambah, bertambah pula ukurannya. Pembesaran jantung yang melebihi normal, tentu saja menunjukkan masalah pada kerja jantung.

Melalui kontur jantung dan kondisi pembuluh darah utama di sekitar jantung, misalnya aorta atau arteri pulmonalis (arteri yang menuju paru), kita bisa menilai seberapa jantung terbebani kerjanya. Beban kerja jantung yang meningkat ini bisa karena masalah pada katub-katubnya, pada otot jantung itu sendiri atau penyakit pada paru. Sistem jantung paru ini harus sehat untuk menjamin suplai darah yang cukup menuju otak kita.

Pemeriksaan lain yang sederhana namun cukup akurat untuk melihat kelainan kerja jantung adalah EKG, elektrokardiografi. Dari pemeriksaan ini kita bisa mengetahui ada masalah di jantung sebelah mana, baik di serambi atau bilik, kanan maupun kiri, dan pembuluh-pembuluh darah yang ada di sana. Biasanya, EKG dan X-foto dada ini sudah menjadi pemeriksaan rutin untuk membantu menegakkan diagnosis penyebab TIA dan menentukan terapi selanjutnya. Karena kita tidak semerta memperhatikan kondisi otak saja, melainkan jantung-paru yang mendukung suplai darah ke otak.

Pemeriksaan laboratoris semacam darah lengkap, kimia darah (kadar glukosa, serum elektrolit, faal ginjal dan hati), juga faal hemostasis perlu dilakukan. Tentu saja ini semua tidak harus diperiksa. Mahal, lho! (Tapi kalau Askes bisa gratis semua, alhamdulillah…) Penentuan mana saja yang harus diperiksa sangat tergantung pada hasil anamnesis atau wawancara pasien, apakah ada riwayat kencing manis (diabetes melitus) sehingga perlu kita periksa kadar gula darahnya, ataukah pasien cuci darah sehingga perlu kita periksa faal ginjalnya, ataukah pasien ini punya riwayat gangguan faal hemostasis seperti memar pada betis yang tak diketahui sebabnya.

Hanya yang rutin diperiksakan adalah darah lengkap, ditambah dengan kadar Natrium, Kalium, dan Calsium darah (Na, K, Ca). Karena kekurangan atau kelebihan tiga ion itu, menimbulkan gejala yang mirip dengan TIA ataupun Stroke, yakni kelemahan salah satu anggota badan sampai penurunan kesaradan, termasuk kejang.

***

Advertisements