Bapak kos kami terhuyung begitu saja dari tangga. Jagung untuk makanan burungnya berhamburan, airnya tumpah ke mana-mana. Beliau serta merta kami tangkap, dan kami bertiga jatuh bersama-sama, tertimpa tangga pula.

Tiba-tiba pandangannya kabur, tangan kanannya lemah sesaat. Tahu-tahu beliau jatuh. Bapak kos kami (L, 44) merasakan gelap sesaat, dan di antara gelap itu dia masih sempat meraih anak tangga, tapi tenaganya tidak cukup untuk mempertahankan berat tubuhnya. Dia hilang kesadaran, terhuyung berputar ke tepi tangga, badannya melayang di udara… sesaat kemudian dia bangun dan kami tergencet di bawahnya, kesakitan.

Tidak ada mual muntah, tapi mukanya pucat. “Pusing, Pak?”

“Engga…” ujarnya sambil memijit-mijit lengan kanannya.

“Kenapa, Pak?”

“Ngga tahu. Kok tangan saya ngga kerasa, ya?”

Saya pegang nadinya, 70x per menit. Kami membopong bapak masuk ke serambi kos, lalu memberinya minum. Beliau menerima dengan tangan kiri. “Tangan kanan saya ngga kerasa…” katanya lagi.

“Kemeng, Pak?” tanya Anas.

“Engga. Ngga kerasa aja. Kaki saya juga lemes.”

“Pak, coba meringis sampe keliatan giginya…”

Alhasil, mukanya menceng! “Ini gejala stroke, Pak.” Anas segera mengukur tensinya. 180/100. “Tensinya cukup tinggi, Pak.”

“Saya memang punya darah tinggi,” ujarnya pasrah. Lalu kami membopong beliau masuk ke kamarnya, dan merebahkan dengan banyak bantal di bawah kepalanya. Ini posisi head up 30o
supaya aliran pembuluh darah balik lancar, sehingga tekanan dalam kepalanya menurun. Suhu badannya masih baik, 37,3o. Bagaimanapun, bapak kos harus segera dibawa ke rumah sakit. Gejala stroke bila tidak tertangani, bisa gawat dan kelumpuhannya tidak bisa pulih.

Kami memutuskan membawa bapak kos saat itu juga, meski pakai sepeda motor. Waktu kami bangunkan, lha kok beliau bangun dengan segar bugar tanpa kekurangan satu apapun. “Sudah, sudah ngga apa-apa. Terima kasih, ya.” Bahkan beliau bisa bangun dari tempat tidur, naik ke lantai dua lagi, dan membersihkan makanan burung yang tadi berhamburan kemana-mana.

Kata senior di kosan, bapak kos kami mengalami transient ischemic attack atau TIA. Kami masih ragu untuk memberi beliau resep acetosal 100-300mg/hari atau clopidogrel 75mg/hari, karena belum begitu yakin apakah gejala tadi mengarah ke stroke infark atau perdaharan. Baik acetosal maupun clopidogrel, punya kontraindikasi untuk diberikan kepada pasien perdarahan dalam kepala, termasuk stroke perdarahan. Bapak kos punya riwayat darah tinggi, maka kami urungkan niat memberi beliau obat-obat itu. Darah tinggi punya kecenderungan mengarah ke stroke perdarahan. Termasuk kebiasaan marah-marah, lho.

Kami tidak dapat membujuk beliau untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Kami berpesan kepada anak-anaknya untuk sedapat mungkin memperhatikan kondisi bapaknya. Kami mendorong kepada putri tertua beliau untuk segera mengurus Askes sebagai persiapan saja, karena TIA adalah gejala awal dari stroke.

TIA, atau dalam terjemahan bebasnya serangan otak iskemik sepintas (SOS), adalah gangguan neurologis fokal yang terjadi mendadak dan pulih kembali dalam waktu kurang dari 24 jam, disebabkan oleh gangguan primer peredaran darah otak.

Gangguan neurologis fokal yang dimaksud adalah gangguan pada lokasi tertentu dari otak, bukan semua bagian otak. Akibatnya, ada gejala-gejala tertentu yang tampak pada pasien sesuai dengan lokasi mana yang terganggu. Dalam kasus bapak kos ini, rasa tebal pada sisi sebelah kanan, termasuk muka menceng. Gejala khas pada TIA, adalah kejadian yang tiba-tiba dan reversibel, tidak ada gangguan yang menetap alias kembali seperti sediakala. Lihat saja bapak kos, beliau begitu saja bangun, naik lagi ke lantai dua setelah sadar kembali, lalu beres-beres.

Otak kita dirawat oleh dua sistem peredaran darah. Yakni sistem karotis yang terdapat di leher bagian depan dan sistem vertebrobasilaris atau cerebrobasilaris yang terdapat pada leher bagian belakang. Gampangnya, sistem karotis patokannya adalah arteri besar yang bisa kita pegang sekitar tiga jari (bukan tiga jempol!) di kanan dan kiri tenggorokan (trakhea). Untuk bagian belakang, patokannya adalah tulang yang menonjol di tengah-tengah pangkal bawah leher (itu adalah ruas tulang leher ke-7, atau os
vertebra cervicalis 7, cukup disebut C-7 saja), maka di kanan-kirinya adalah arteri vertebralis yang merawat otak lewat belakang kepala.

TIA disebabkan oleh gangguan primer peredaran darah otak, bukan gangguan sekunder. Gangguan primer, di dunia medis biasa disebutkan seperti ini bila murni karena terganggunya peredaran darah otak tanpa penyakit penyerta yang lain, misalnya infeksi otak semacam ensefalitis atau meningitis yang bisa menyebabkan kejang dan gangguan kesadaran pada pasien.

Kawan, sistem peredaran darah kita ini sangat luas cakupannya. Coba lihat, berawal dari jantung. Jika sistem jantung-paru kita bermasalah, bisa saja berdampak pada suplai darah ke otak. Karenanya perlu analisis X-foto polos dada untuk melihat gambaran umum kondisi jantung-paru, terutama rasio jantung dan rongga dada (CTR, cor-thorax ratio). Jika lebih dari 50%, maka terjadi pembesaran jantung. Melalui kontur jantung dan kondisi pembuluh darah utama di sekitar jantung, misalnya aorta atau arteri pulmonalis (arteri yang menuju paru), kita bisa menilai seberapa jantung terbebani kerjanya. Beban kerja jantung yang meningkat ini bisa karena masalah pada katub-katubnya, pada otot jantung itu sendiri atau penyakit pada paru. Sistem jantung paru ini harus sehat untuk menjamin suplai darah yang cukup menuju otak kita.

Pemeriksaan lain yang sederhana namun cukup akurat untuk melihat kelainan kerja jantung adalah EKG, elektrokardiografi. Dari pemeriksaan ini kita bisa mengetahui ada masalah di jantung sebelah mana, baik di serambi atau bilik, kanan maupun kiri, dan pembuluh-pembuluh darah yang ada di sana. Biasanya, EKG dan X-foto dada ini sudah menjadi pemeriksaan rutin untuk membantu menegakkan diagnosis penyebab TIA dan menentukan terapi selanjutnya. Karena kita tidak semerta memperhatikan kondisi otak saja, melainkan jantung-paru yang mendukung suplai darah ke otak.

Pemeriksaan laboratoris semacam darah lengkap, kimia darah (kadar glukosa, serum elektrolit, faal ginjal dan hati), juga faal hemostasis perlu dilakukan. Tentu saja ini semua tidak harus diperiksa. Mahal, lho! (Tapi kalau Askes bisa gratis semua, alhamdulillah…) Penentuan mana saja yang harus diperiksa sangat tergantung pada hasil anamnesis atau wawancara pasien, apakah ada riwayat kencing manis (diabetes melitus) sehingga perlu kita periksa kadar gula darahnya, ataukah pasien cuci darah sehingga perlu kita periksa faal ginjalnya, ataukah pasien ini punya riwayat gangguan faal hemostasis seperti memar pada betis yang tak diketahui sebabnya.

Hanya yang rutin diperiksakan adalah darah lengkap, ditambah dengan kadar Natrium, Kalium, dan Calsium darah (Na, K, Ca). Karena kekurangan atau kelebihan tiga ion itu, menimbulkan gejala yang mirip dengan TIA ataupun Stroke, yakni kelemahan salah satu anggota badan sampai penurunan kesaradan, termasuk kejang.

Seseorang yang mengalami TIA lebih dari satu kali dalam seminggu perlu segera dirawat di rumah sakit untuk pemeriksaan dan terapi yang lebih intensif. Sangat perlu diingat, gejala pusing baik karena darah tinggi maupun darah rendah sama besar resikonya menimbulkan trauma pada otak, entah itu dalam waktu singkat atau mendadak, maupun perlahan-lahan.

Disebut TIA karena serangannya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Kalau lebih dari 24 jam, sudah masuk kategori stroke. Sebesar 20% pasien TIA akan mengalami stroke pada bulan pertama, sebagian besar terjadi pada 3×24 jam setelah serangan TIA pertama. Karena sampai sekarang bapak kos tidak mengalami gejala apapun yang menjadi tanda-tanda gangguan peredaran darah otak, maka dia termasuk 80% sisanya, insya Allah.

Otak kita sangat sensitif, Kawan, karena dia mengatur banyak sekali fungsi-fungsi luhur tubuh kita. Karenanya, sangat patut kita menjaga kesehatan otak dengan seksama. Jika engkau terpaksa makan makanan berlemak macam soto seperti yang biasa saya lakukan, maka cukuplah sekali saja dalam seminggu. Karena lemak-lemak di sana bukanlah macam lemak yang mudah dicerna tubuh. Yang terjadi adalah ia beredar-edar di pembuluh darahmu mirip hantu, dianggap benda asing oleh makrofag, lalu dimakannya, dan makrofag itu menjadi sel yang mudah menyumbat. Jadilah ia tiba-tiba menyumbat salah satu pembuluh darah yang kecil, habislah organ tubuhmu yang seharusnya mendapat suplai darah darinya. Bagaimana bila terjadi pada otak? Karenanya, berilah jeda tubuhmu dalam masa seminggu untuk membersihkan lemak-lemak tak berguna itu. Supaya lebih sehat, ikutilah anjuran pemerintah, empat sehat lima sempurna sebagaimana kita diajarkan sejak usia sekolah dasar.

***

Advertisements