Ngelesi (jawa)=mengajar

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 24012009/9:22am

Setelah enam bulan berlalu, saya mulai mengajar lagi untuk les privat siswa SMU kelas 3, dan yang terbayang di depan saya adalah adik saya. Ya, adik kandung saya sendiri. Saya selalu bersabar terhadap siswa-siswi saya, tapi kenapa tidak untuk adik kandung saya sendiri?

Adalah karena standar saya yang terlalu tinggi untuknya. Sampai sekarang saya masih melihat ada ketegangan di wajahnya, jika tidak saya sebut dengan sedikit ketakutan. Saya beberapa kali menggunakan nada tinggi, sedikit tegas, namun agaknya menghardik.

Saya benar-benar merasa bersalah.

Dan saya semakin merasa bersalah ketika adik saya tidak lulus SNM-PTN tahun kemarin.

Si panda pernah berkata, sebesar apapun harapan saya agar adik masuk SNM-PTN, sama saja bila Allah berkehendak lain. Artinya, mengajari adik saya hanyalah segelintir usaha, sebentuk ikhtiyar supaya jalan rezeki makin terbuka untuk adik saya. Selebihnya, adalah urusan Allah, berserah dan tawakkal kepadaNya.

Mungkin saya belum menepati kondisi kedua, yakni tawakkal.

Saya hanya ingin membela diri dengan mengatakan, saya terlalu sayang kepada adik kandung saya. Dan tentu saja, tak ingin membuatnya kecewa. Bertahun-tahun kami hidup sebagai kakak adik, namun baru pada episode kehidupan yang sekarang, saya benar-benar merasa memiliki seorang adik. Sedangkan adik saya itu, bagi saya selalu meletakkan harapan kepada kakaknya yang satu ini. Harapan untuk senantiasa membimbingnya, melindungi, kalau perlu sebagai body guard, sebagaimana saya menghajar anak kelas enam esde waktu itu karena menggoda adik saya yang masih empat tahun. (Saya masih tiga esde waktu itu!)

Adik saya bukanlah tipe orang manja yang suka dituntun ketika berjalan, digendong jika lelah, atau dibuatkan makan malam jika kedinginan. Adik saya adalah tipe orang yang lebih suka ditunjukkan kemana dia harus melangkah, sambil sesekali saya mengelus kepalanya saat dia sedang bad mood.

Tapi adik saya adalah orang yang benar-benar cengeng.

Sebagaimana dulu dia menangis berkali-kali saat menelepon saya untuk curhat tentang teman-temannya, mantan pacarnya, tentang babe-bunda, maupun ketika menghadapi soal fisika yang saya sendiri tidak bisa. Akhirnya saya lebih banyak mendengarkan saja, dan setelah telepon ditutup, malamnya pasti saya sudah berada di rumah untuk mengelus-elus rambutnya.

Demikian juga saat-saat hasil SNM-PTN diumumkan. Saya mengetikkan nomor ujiannya berulang kali, namun yang muncul hanya “Maaf, nomor yang Anda masukkan tidak ada dalam daftar.”

Saya masih merasa bersalah.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ini. Semoga bisa saya ganti dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, baik untuknya, untuk saya pribadi, maupun @swa-siswi saya. Amiin.

Advertisements