Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Telah diberitakan bahwa mantan finalis Miss World, Mariana Bridi, kembali ke pangkuanNya, pada 24 Januari 2009 lalu.

Semula, kaki dan tangannya diamputasi karena infeksi bakteri yang terus menjalar di tubuhnya. Keputusan mengamputasi tangan dan kaki perempuan Brazil berusia 20 tahun itu terpaksa diambil karena nyawa Bridi semakin terancam. Awalnya Bridi mengeluh sakit pada 30 Desember 2008 lalu dan dibawa ke rumah sakit di kota Serra sebelah tenggara negara bagian Espirito Santo, timur laut Rio de Janiero, Brazil. Saat itu pihak rumah sakit mendiagnosis Bridi menderita batu ginjal yang mengarah pada urinary tract infection, infeksi pada saluran kencing (ISK).

Saat itu, Bridi dipulangkan sambil diberi beberapa obat untuk diminum rutin, namun pada 3 Januari 2009 Bridi harus kembali ke rumah sakit karena kondisinya semakin parah. Sirkulasi darahnya semakin tidak karuan setelah mendapat perawatan. Tim medis pun mengamputasi kedua kakinya, disusul kedua tangannya pada Selasa (20/1/2009) untuk mencegah menjalarnya bakteri ke seluruh anggota tubuh. Namun, pada 24 Januari kemarin, Bridi menghembuskan nafas terakhirnya.

Apa sebenarnya bakeri yang menginfeksi Bridi, hingga dia harus mengalami hal sepahit itu? Adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa (Pa). Bakteri Pa ini adalah salah satu bakteri nosokomial yang sering dijumpai pada pasien-pasien rawat inap di rumah sakit. Nosokomial artinya bakeri yang muncul sebagai sekunder infeksi akibat perawatan yang tidak hati-hati di rumah sakit, atau lebih jelasnya, kurang steril dan higienis. Bekteri Pa termasuk kelompok bakteri {beta}-lactamase, yakni bisa memecah cincin {beta}-lactam pada antibiotik. Sehingga sebagai bakteri nosokomial, Pa cukup resisten terhadap antibiotik. Bahkan pada kasus Bridi, Pa tidak memberikan respon samasekali meskipun antibiotik yang diberikan adalah antibiotik generasi terbaru.

Bakteri Pa adalah salah satu penyebab ascending-UTI, artinya ISK yang berawal dari saluran terbawah, yakni uretra, menyebar ke saluran teratas, yakni ginjal. Jika sampai ginjal, bakteri ini dapat menyisip masuk ke pembuluh darah ginjal. Pada akhirnya, infeksi ini akan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh, dari kepala hingga jempol kaki, sebagaimana yang dialami Bridi.

Oleh Pierre Cornelis, seorang peneliti dari Flanders Insitute for Biotechnology di Brussel, Pa punya karakterisitik “mengerikan” yang punya respon sangat rendah terhadap antibiotik. Pantas saja, bakeri ini mudah bermutasi untuk menjadi resisten terhadap antibiotik terbaru.

Sebelum tahun 2006, kematian yang disebabkan Pa sebenarnya termasuk jarang. Namun selepasnya, ditemukan outbreak pada White Memorial Medical Center di Los Angeles yang mengenai lima bay baru lahir, yang dua diantaranya meninggal. Sekarang ini, Pa menginfeksi pada kurang lebih 10% per dua juta penderita rawat inap dari seluruh rumah sakit di Indonesia. Karenanya, perlu sebuah profilaksis atau antibiotik yang diberikan untuk mencegah timbulnya infeksi nosokomial ini. Di RSU Dr. Soetomo Surabaya, biasa diinjeksikan Ceftriaxone 1-2x2gram intravena.

***

Advertisements