obamaPersis, mood saya langsung turun ketika berita ini disiarkan TVOne pagi ini. Di Live news Apa Kabar Pagi, dalam pidatonya Obama dengan jelas mengatakan bahwa “…America supports Israeli for their nation-wide safety.” Kurang ajar.

Sebenarnya Barack Obama menyatakan dukungan kuat untuk Israel dalam pidato kebijakan luar negeri pertamanya sejak menyatakan dirinya menang sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. (BBC News)

Waktu itu, Senator Obama mengatakan di hadapan kelompok lobi Yahudi di Amerika, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), bahwa keamanan Israel adalah hal yang “sakral” dan “tidak bisa dibantah”.

Dan sekarang pun, ketika sebagian dunia berharap Obama akan memberikan perbaikan signifikan terhadap konflik di Timur Tengah, ternyata tak terjadi. Boleh dibilang, sebenarnya harapan itu telah pupus sejak awal. Bukan berarti ketika Obama tidak eksplisit menyatakan sikap terhadap konflik Palestina-Israel, lantas banyak publik layak menaruh harapan padanya. Apalagi beberapa hari menjelang pelantikannya, Obama sempat melakukan komunikasi –yang diakuinya informal– terhadap pihak Hamas. Dan, seperti yang dikhawatirkan sebagian orang, sikap mendukung Obama kepada Israel sungguh terjadi.

Saya dan bapak saya termasuk orang yang berharap ada tindakan nyata Obama terhadap perbaikan kondisi di sana. Yah, mungkin kami termasuk orang kolot yang masih berharap buaya akan bersikap manis terhadap rusa. Sedang rusa itu adalah saya dan bapak, mungkin beberap orang di luar sana yang sungguh kehausan, berharap dibolehkan minum di telaga yang buaya-buaya itu tinggali. Ternyata harapan itu hanya membuat kami mendekat ke mulut telaga, demikian juga ke mulut buaya. ‘Hap! Lalu ditangkap…’

HAMAS Bersikap Proaktif

Benarlah jika pemerintahan pemenang pemilu di Palestina, Hamas, sejak awal tidak pernah mengandalkan simpati dunia. Mereka berusaha mencari dukungan, namun bukan untuk dibelaskasihani. Mereka bersikap proaktif terhadap kondisi rakyatnya. Pemimpin Hamas menyebarkan amplop berisi lima pecahan uang US$100 kepada para perempuan Palestina di Gaza, yang rumahnya hancur karena invasi Israel, sebagai penggantian pertama dari kelompok Islam ini.

Selanjutnya, Hamas menyalurkan dana sebesar US$ 52 juta atau sekitar Rp 577 miliar dari berbagai kelopok yang memberikan bantuan guna membantu memperbaiki kehidupan penduduk Gaza. Untuk pemberian kepada para perempuan ini sebagai kompensasi mereka mengungsi di Beit Lahiya, Gaza Utara. (Tempointeraktif.com)

Hamas, juga dipercaya menyalurkan dana donasi dari negara Muslim dan Iran, menyatakan akan menyalurkan dana darurat ini termasuk US$ 1.300 (Rp 14 juta) untuk setiap keluarga yang anggotanya tewas, US$ 650 (Rp 7 juta) untuk yang terluka, US$ 5.200 (Rp 53 juta) untuk rumah yang hancur dan US$ 2.600 (Rp 28 juta) untuk rumah yang rusak saja. Menurut lembaga independen, diperkirakan lebih dari 4.000 rumah hancur dan sekitar 20.000 rumah lainnya rusak.

“Kami saat ini masih berkuasa dan kami pemenangnya,” ungkap legislator Hamas Mushir al-Masri akhir pekan ini, setelah menghadiri pemakaman empat anggota kelompok militan yang tewas.

Israel mengaku telah membunuh lebih dari 700 pejuang Hamas, sedangkan Hamas mengatakan hanya kehilangan sekitar 280 anggota bersenjatanya, di mana sebagian besarnya adalah anggota kepolisian yang tewas dalam serangan bom tiba-tiba di hari pertama serangan udara Israel pada 27 Desember lalu. (Pikiranrakyat)

Di teritori lain, buldozer membersihkan sisa-sisa reruntuhan perang dimana salah satunya adalah tempat yang sebelumnya dihuni salah satu pemimpin Hamas yang terbunuh karena bom udara Israel.

Sejak upaya perdamaian diambil pekan ini, dan tentara Israel menarik mundur pasukannya, Hamas mendeklarasikan kemenangannya dan menunjukkan kembali pengaruhnya di Jalur Gaza.

Sekolah PBB Mulai Beroperasi

Sekolah-sekolah di wilayah Jalur Gaza yang dioperasikan oleh PBB telah dibuka kembali setelah gencatan senjata diberlakukan. Sekitar 200.000 anak-anak Palestina diharapkan mulai kembali belajar pada Sabtu (24/1).

Para pejabat Palestina mengatakan, lebih dari 400 anak terbunuh dalam konflik. Banyak sekolah rusak akibat serangan militer Israel. Sebagian besar dari bangunan sekolah itu menjadi tempat pengungsian dan penampungan warga sipil yang rumahnya hancur atau rusak akibat serangan Israel.

Sekolah di Gaza kembali dibuka menyusul keputusan Israel pada Jumat (23/1) untuk mencabut larangan masuk ke Jalur Gaza kepada staf PBB dan pekerja bantuan asing. Larangan itu sendiri mulai diterapkan sejak awal November ketika ketegangan memuncak antara Israel dan Hamas, saat gencatan senjata enam bulan terakhir.

Ribuan penduduk Gaza yang mengungsi karena agresi Israel kembali ke Gaza dan menemukan rumah-rumah mereka yang telah mengalami kerusakan. Sebagian besar penduduk mengungsi di sekolah-sekolah dan rumah sakit, mereka kesulitan mendapatkan makanan dan berjuang mencari perlindungan agar terhindar dari kekerasan serta kematian khususnya bagi anak-anak mereka.

Bantuan Kemanusiaan BSMI

Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) kembali mengirimkan relawan medis ke Palestina yang berjumlah 27 orang, Sabtu (24/1). Selain mengirimkan bantuan, tim yang beranggotakan beberapa dokter ahli/spesialis tersebut akan mendirikan RS Lapangan/Darurat di Gaza, Palestina.

Menurut Ketua Umum BSMI dr. Basuki Supartono, SpOT,FICS,MARS, dalam konferensi persnya di Mabes BSMI Jakarta, tim ini akan membawa sejumlah bantuan berupa uang tunai dan peralatan medis yang dibawa dari Indonesia. “Bantuan ini adalah hasil dari partisipasi masyarakat Indonesia yang sangat peduli oleh penderitaan rakyat Palestina. Sementara ini, kami sedang menyiapkan Rp 10 miliar untuk rencana rekonstruksi dan rehabilitasi di jalur Gaza. Kami sangat mengharapkan kerjasama semua pihak agar bantuan tersebut ini bisa tepat sasaran,“ ujar dr. Basuki yang turut serta ke Palestina.

BSMI akan mendirikan RS Lapangan/Darurat di Gaza dalam upayanya membantu warga sipil Palestina yang masih butuh perawatan dan pengobatan. “Sekitar 70 dokter sedang berada di Gaza dan sangat kelelahan dalam upaya membantu warga Palestina yang menjadi korban agresi militer Israel. Oleh karena itu, keberadaan relawan medis dari Indonesia akan sangat meringankan pekerjaan mereka disana,” tutur dr. Basuki yang pernah ikut ke Palestina besama tim Depkes awal Januari tahun ini.

Sementara itu, relawan-relawan dari BSMI sebagian besar merupakan dokter ahli. Diantaranya adalah dokter orthopeady (dokter bedah tulang), dokter ahli kejiwaan, dokter ahli penyakit dalam, dokter obgyn dan dokter spesialis mata. Menurut dr. Basuki, dokter-dokter yang dikirim ke Gaza merupakan dokter yang sangat terlatih dan berpengalaman di daerah bencana atau konflik sehingga pasien-pasien di Gaza akan mendapatkan perawatan yang kompherensif. (BSMIpusat.net)

Allahu ghoyatuna.

***

Rekening Donasi Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) untuk Palestina
(nama rekening / bank / nomor rek / atas nama):

Peduli Palestina Bank Central Asia 165.3010.200 Bulan Sabit Merah Indonesia
Peduli Palestina Bank Muamalat 304.003.0415 Bulan Sabit Merah Indonesia
Peduli Palestina Bank Rakyat Indonesia 020601029018507 Bulan Sabit Merah Indonesia
Peduli Palestina Bank Negara Indonesia 0162263760 Bulan Sabit Merah Indonesia

more accounts >>

***

Advertisements