*Sebuah kisah inspiratif yang pernah saya baca entah dimana, kemudian saya ceritakan kembali di hadapan peserta Musyawarah Keluarga Mahasiswa FK UNAIR, saat kami mengakhiri masa jabatan di kampus tercinta ini. Jika ada rekan sesama blogger yang bisa memberi info soal sumber aseli cerita ini, mohon dishare linknya. Terimakasih ;)*

antah berantahAlkisah, di sebuah negeri antah berantah, masyhurlah sesosok raja diraja yang adil dan bijaksana. Namanya begitu masyhur, hingga tak seorangpun di pelosok desa yang paling ujung pun yang tak mengenalnya. Namanya begitu besar, hingga raja negeri tetangga atau perompak yang paling terkenal beringas pun, harus berpikir dua kali jika mau melangkahkan kaki ke dalam gerbang istananya. Anak-anak kecil di sudut-sudut desa, meski tak mengerti apa arti kata “raja”, tahu bahwa lukisan diri yang dipajang di ruang depan rumahnya adalah sosok yang perlu dikagumi, diteladani.

Namun seperti halnya sebagian besar pemimpin yang sungguh baik hati lagi penyantun terhadap rakyatnya, sang raja pun pergi terlalu cepat. Di usianya yang baru kepala empat, raja yang entah mengapa sering mengigau dalam tidur demamnya yang begitu hebat, malam kemarin tidak mengigau. Tak lama, atas laporan permaisuri, sang tabib dan beberapa orang pembantu obatnya bergegas menghambur ke kamar baginda raja. Suhu badannya telah turun, tangan dan kakinya tak lagi menggigil, banyak sekali keringat yang mengucur hingga sprei sutranya basah di sekujur tubuh, sedangkan nadinya telah berhenti.

Sang raja yang adil bijaksana telah tiada. Sang permaisuri yang terkenal tegar sekaligus tegas, tak ingin berlarut dalam kedukaan yang mendalam. Dia harus benar-benar memperhatikan kestabilan kerajaan yang telah dibangun suaminya itu. Akhirnya sebulan kemudian, sang permaisuri mengumumkan bahwa telah dipilih seorang raja baru, yakni putra mahkota keduanya, yang masih berusia belasan tahun. Putra mahkotanya yang pertama sudah bersumpah selamanya tidak akan menduduki titah raja diraja, karena dia akan mengabdi sebagai panglima perang kerajaan, demi untuk memegang kendali utuh atas keamanan tanah airnya itu.

Demikian hingga sang pangeran dinobatkan sebagai raja diraja yang baru. Pengangkatannya disaksikan ibundanya, kakak tertuanya, seluruh punggawa kerajaan, segenap rakyat, dan tentu saja, arwah mendiang ayahandanya.

Upacara selama tujuh hari tujuh malam itu pun berakhir, namun pangeran belum dapat melepas kepenatannya. Bukan karena kepergian ayahandanya yang terlampau mendadak, bukan karena penobatan atas dirinya sebagai pemegang titah raja, bukan pula karena kekhawatiran atas kemeriahan upacara penobatan itu. Upacara penobatan sebagai usul ibundanya dilaksanakan cukup sederhana, dan seluruh penasihat kerajaan telah merestui, supaya tak terlalu menghamburkan harta kerajaan. Dirinya ditempatkan sebagai seorang raja, hanyalah sepenggal cerita dalam keseluruhan sejarah keluarganya, dimana pada saatnya nanti masing-masing anggota keluarga harus memiliki peran sentral dalam mengurusi rakyat. Bukan pula karena kepergian ayahandanya, karena dia tahu setiap orang pasti akan kembali ke asalnya, bagaimanapun caranya, waktunya. Dan ayahandanya telah pergi dengan cara yang tepat.

Akan tetapi, kepergian beliau dalam waktu yang tidak tepat. Lihat, dirinya belum genap berusia dua puluh. Baginya, usia dua puluh adalah usia yang cukup ketika seorang pangeran telah banyak belajar, cukup pengalaman, dan cakap dalam memimpin. Maka, kegalauan hatinya atas belum cukupnya kecakapannya hanya dapat terjawab jika dia menemukan seorang guru sejati. Seorang guru yang mampu memberinya pengetahuan mendasar tentang hidup, mampu membuatnya cepat belajar untuk mengembangkan kecakapannya, dan tentu saja, seorang guru tempat ayahandanya dulu mengadu ilmu. Atas nasihat para penasihat kerajaan, sang pangeran harus menemui seorang guru yang pernah mengajari ayahandanya.

“Temuilah seorang pertapa yang hanya dapat ditemui jika Baginda benar-benar ingin menemuinya!”

“Wahai, Penasihat, bagaimanakah caraku untuk membuat diriku benar-benar ingin menemuinya?”

“Hanya itu kalimat yang pernah dikatakan ayahanda, dan setelahnya Sri Baginda Raja pergi dalam waktu tiga bulan.”

“Kemanakah ayahanda pergi?”

“Ampun, Baginda, kami tak pernah tahu. Ayahanda tidak pernah mau mengatakannya, kecuali sepenggal kata, ‘Jantung tergelap yang ada di lingkungan kerajaan!’”

Maka pergilah sang pangeran, raja diraja yang baru itu, keluar dari istananya. Sambil memacu kuda putihnya setengah berlari, pangeran pergi ke sudut-sudut desa. Pangeran tak ingin dirinya diketahui keluar dari istana sebelum benar-benar menganggap dirinya mampu memimpin rakyatnya. Jubah biru kelamnya menutup dari kepala hingga pinggang kudanya, membuat wajahnya tertutup sempurna dibawah bayangan tudungnya.

SKYSC_05 Sampailah pada tengah hari saat pangeran dan kudanya mulai mendaki bukit yang melindungi desanya. Bukit ini berada di sebelah timur kerajaannya, sehingga ketika dia memandang jauh ke arah matahari, kerajaan berada tepat di belakangnya. Bukit ini menjadi penting keberadaannya, karena menjadi benteng alami bagi desanya. Beberapa pos penjagaan dengan tombak-tombak dan panah-panah yang siap menghujam ditempatkan dalam jarak tiga puluh lembing lemparan, kurang lebih lima puluh meter, antara satu sama lain. Ketika pangeran berbalik arah, dia mampu melihat sudut paling jauh pun ke seluruh pelosok desa.

Ternyata, hanya ada satu tempat yang bisa dilihat tapi tetap gelap mendekap. Yakni hutan di sebelah barat desanya, cukup dikenal sebagai Hutan Barat. Jarang sekali ada yang kesana, kecuali keluarga kerajaan sendiri. Rakyat biasa mungkin belum pernah berpikir menuju hutan itu. Hutan Barat berada di belakang istana, sehingga sering di sebut ‘hutan istana’, maka banyak yang menganggap bahwa selain keluarga kerajaan tidak ada yang boleh memasukinya. Selain karena tempatnya yang gelap. Ketika matahari terbit, cahayanya menabrak dinding istana yang tinggi-tinggi sehingga menyisakan bayangan ke arah hutan, ketika matahari akan tenggelam, hanya cahaya senja yang remang-remang menyentuh hutan itu. Maka, waktu yang tepat untuk menjelajahi Hutan Barat adalah pada siang hari seperti ini, saat matahari sedang meradang dengan sinarnya. Pangeran bergegas menuruni Bukit Timur supaya dapat mendapati pertapa itu cepat-cepat.

Ketika pangeran berbalik arah, dia mendapati seseorang yang tak seharusnya berada di Bukit Timur ini. Dia berada di balik bayang-bayang pos penjaga, yang anehnya, tak seorang pun penjaga menegurnya. Karena yang boleh mendaki Bukit Timur ini hanyalah para penjaga dan pasukan pengawal kerajaan, bukan orang biasa seperti seorang tua di depannya. Sungguhpun seorang tua, namun pangeran menangkap ada gurat wajah yang istimewa darinya. Pangeran turun dari kudanya, dan menyapa seorang tua itu dengan pelan. Pangeran tak ingin identitasnya terbongkar, karena seperti seorang tua itu, dirinya sekarang hanyalah seorang rakyat biasa.

“Salam untuk Anda, Wahai Kisanak. Tak baik berada di tempat seperti ini, mari turun bersama saya. Sebelum para penjaga mengetahui, sebaiknya kita segera pergi. Mari saya antar kemana tempat Anda berasal.”

Seorang tua itu tak bergeming, tak menoleh sedikitpun. Pangeran berada dalam enggan, tak ingin terlalu memperkeras suaranya, juga tak ingin mendekat ke arahnya. Mendekat ke arahnya berarti mendekat ke arah pos penjaga, yang berarti berbahaya buat mereka berdua. Akhirnya pangeran mendekat beberapa langkah sambil menuntun kudanya, dalam jarak cukup agar suaranya dapat didengar, namun tetap dalam jarak yang tak terjangkau para penjaga, dalam sudut mati di balik dinding pos penjaga.

“Salam untuk Anda, Wahai Seorang yang Dituakan! Tak baik berada di tempat seperti ini, mari saya antar kemana tempat Anda berasal.”

Lagi-lagi seorang tua itu tak menoleh sedikit pun. Pangeran makin mendekat lagi, dalam ancang-ancang merenggut tali kudanya bila ternyata para penjaga mengetahui keberadaannya, sambil bersiap meraih tubuh seorang tua itu untuk bersama berpacu di kudanya, menuruni bukit.

“Salam untuk Anda, Wahai Yang Dituakan! Tak baik berada di tempat seperti ini, mari saya antar kemana tempat Anda berasal.” Pangeran mendekat, mengangkat lengan seorang tua itu, lalu dibalas sebuah tatapan tajam, nanar, dan sentakan keras di tangannya.

“Jantung tergelap di lingkungan kerajaan!” Seorang tua itu berteriak sambil menarik leher jubah pangeran mendekat ke arah wajahnya. Dan jelaslah gurat-gurat istimewa itu, gurat-gurat seorang pertapa yang telah melihat wajah-wajah tahun, tubuh-tubuh zaman, dan menikmati pahit manisnya telaga kehidupan. Inilah pertapa yang dicarinya.

“Kau tak ubahnya anak muda yang terlalu lama bergelimang kekayaan! Kau berlindung di balik nama ayahmu! Kau tidak akan pernah bisa menjadi raja!”

“Apa maksudmu?” Pangeran naik pitam.

“Kau hanyalah seonggok daging berjalan! Jiwamu tertinggal dalam guci-guci istana! Hatimu buta oleh arak-arak pesta! Ruhmu sudah tercabut sebelum kau lahir!”

“Tak seharusnya kau berkata seperti itu, Pak Tua!” Pangeran berteriak namun menahan suaranya, tapi menyangsikan bahwa penjaga mengetahui mereka di sana. Jelas-jelas pangeran berada dalam jangkauan penglihatan penjaga, tapi mereka tak melihatnya.

“Pergilah ke jantung tergelap di lingkungan kerajaan, pelajarilah ilmu mendengar suara yang tak terdengar! Dalam dua kali bulan mati kita akan bertemu lagi saat kau memacu kudamu menuju bukit hamparan matahari!”

Seorang tua itu berlari menjauh meninggalkan pangeran yang terjebak dalam keheranannya. Belum sempat pangeran menanyakan namanya, seorang tua itu telah memacu kudanya yang ternyata telah ditambatkan di kaki bukit. “Hei, Pak Tua!”

“Jantung tergelap di lingkungan kerajaan!” Teriaknya lagi sambil menjauh dari Bukit Timur.

“Apa yang Anda lakukan di sini, Baginda? Mengapa tidak memakai pakaian Anda biasanya? Berbahaya Anda berada di sini sendirian! Mari kami antar berkeliling Bukit Timur untuk melihat bagaimana kami mengawasi!”

Pangeran sadar tudungnya telah terbuka, wajahnya terlihat. Para pengawal itu telah mengerumuninya. Pangeran mengabaikan mereka, lalu bergegas memacu kudanya menuruni bukit.

“Anda kembali begitu cepat, Pangeran?” Tanya salah seorang penasihat kerajaan sesampainya pangeran di istana. “Bagaimana pencarian Anda hari ini? Kemana lagi Anda memutuskan untuk pergi?”

“Jantung tergelap di lingkungan kerajaan.” Jawab pangeran singkat.

Para penasihat tersenyum. Mereka yakin sang pangeran telah bertemu dengan pertapa itu. “Kami akan mengurus kerajaan di bawah titah permaisuri. Pun kerajaan akan tetap dijaga oleh kakanda Pangeran. Juga, kami akan merawat kuda Anda dan tak lupa menyisirnya tiap pagi.”

“Terima kasih.”

Sebenarnya pangeran belum sepenuhnya percaya kepada sosok tua itu. Rasa hormat kepadanya seketika jatuh karena seorang tua itu serta merta saja menghardiknya dengan kata-kata kasar, seolah-olah sebelumnya pangeran pernah berbuat kesalahan fatal kepadanya. ‘Jantung tergelap di lingkungan kerajaan’, sekarang ini, bagi pangeran kata-kata itu tak ubahnya slogan yang tak ada artinya saat meluncur keluar dari mulut seorang tua itu. Namun rasa hormat kepada ayahandanya, dan rasa tanggungjawab kepada rakyatnya lah yang membuatnya harus tetap berjalan maju. Lagipula, dari perbincangan tadi, sepertinya seorang tua itu mengenal siapa ayahandanya, dan mungkin, sedang menguji dirinya yang telah dinobatkan sebagai raja penerus titah ayahandanya.

Senja telah hinggap di sela-sela pepohonan ketika pangeran berada di mulut hutan. Pangeran telah meninggalkan sisa-sisa keraguannya sejak keluar menjauhi gerbang istana. Namun jauh di lubuk hatinya, kerinduan akan sosok ayahandanya kembali meluap-luap. Dadanya bergemuruh ketika senyum bijak itu perlahan muncul di kepalanya. Matanya terpejam, mencoba menahan embun mata yang makin lama makin tergutasi di sudut matanya. Rongga hidungnya telah basah karena embun itu merembes. Secepatnya dia menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya keras-keras. Matanya memerah. Tapi sekarang bukanlah saat untuk mengenang sesuatu yang telah lewat. Pangeran harus fokus kembali kepada tujuannya semula. Dia menengadah, membuka mata ke arah sisa-sisa sinar matahari senja. Dicarinya di sela-sela daun dan ranting-ranting, karena meski sedikit, cahaya itu masih ada. Selama ada matahari, dimanapun ia, selamanya masih ada kesempatan memunculkan lagi cahaya bagi rakyatnya. Dalam dua bulan mati ini, dia akan menaklukkan jantung tergelap di lingkungan kerajaan, lalu membawa serta matahari untuk kerajaannya yang dahulu pernah dibawa ayahandanya.

Views02 Semakin dalam pangeran berjalan, semakin gelap setapak yang dilewatinya. Beruntung dia mendengar gemericik air di kejauhan sana, sehingga dia bisa menebak-nebak kemana seharusnya dia melangkah. Senja telah pergi, kumbang-kumbang tak lagi bersuara, burung-burung sudah kembali ke peraduan masing-masing bersama matahari. Dia tidak boleh sembarangan memilih tempat berdiam diri, karena bisa jadi dia harus bersaing dengan hewan-hewan melata baik di lantai hutan maupun di pepohonan. Hampir sekujur tubuh pepohonan yang ada dihutan ini basah di kulitnya, tapi sedikit sekali dari mereka yang ditumbuhi lumut. Sinar matahari tak begitu mudah menerobos sampai ke sudut-sudut kanopi, sehingga lumut tidak mudah tumbuh. Hal inilah yang menyebabkan pepohonan hutan ini tinggi-tinggi, karena bersaing sesamanya untuk mencapai matahari di atasnya. Jika demikian, akan sedikit sekali ular atau harimau kumbang yang sanggup bertahan pada dahan-dahan tertinggi, karena kebanyakan mereka mencari dahan rendah yang membuat mereka cukup cepat dalam menyergap mangsa dari atas. Dengan dibantu ikat pinggangnya, pangeran merambat mencari dahan yang cukup kokoh untuk dia tempati.

Bulan mati pertama. Pangeran masih belum mengetahui apa yang seharusnya dia pelajari. Untuk beberapa saatnya dirinya belum terbiasa dengan kelembaban hutan ini yang begitu tinggi. Lapar dan haus tak dia rasakan. Hanya sesekali dia turun dari dahannya, untuk mencari dedaunan lembut yang bisa mengganjal perutnya. Pangeran tak ingin makan daging. Dia berusaha sekuat tenaga menahan keinginannya untuk makan daging. Baginya, membunuh makhluk hidup lalu memakan dagingnya, sama saja dengan menodai tafakurnya.

Beberapa saat lamanya pangeran melihat ke langit yang kelam. Gelap, tanpa setitik bintang. Sekarang bukan musim basah, seharusnya langit cukup meriah dengan adanya bintang-bintang. Tapi tak satu pun dia temukan di atas sana. Pangeran baru merasakan bahwa dahan yang dipilihnya terlampau tinggi. Semilir angin yang menerpa tubuhnya memang tak begitu keras, tapi dinginnya bukan main. Jika dia memilih dahan yang lebih bawah, kelembaban hutan akan dengan cepat membuat paru-parunya penuh terisi air.

Kemudian dia merapatkan jubahnya, mencoba fokus pada apa yang seharusnya dia pelajari. Tapi angin malam ini bukan main dinginnya. Sempat pangeran ingin mengurungkan niatnya dan kembali lagi ke istana, namun melakukan hal itu hanya akan mempermalukan dirinya di hadapan rakyat, dan terlebih lagi, di hadapan mendiang ayahandanya. Maka dia biarkan saja angin menembus jubahnya, mencekat tubuhnya hingga ke tulang dan persendian.

Selang beberapa hari pangeran mulai mempertimbangkan kembali tentang dahan yang dipilihnya. Akankah terlalu tinggi? Bagaimana bisa dia menilai benar-salah pilihannya jika belum mengerti apa yang seharusnya dia pelajari? Di tengah-tengah kebimbangannya, pangeran semakin bisa bersahabat dengan angin, merasakan alirannya, sedikit menyerong dari punggung kiri ke arah dahi kanannya, atau sebaliknya. Menelisik di antara dedaunan di dekatnya, bergesek, ringsek satu sama lain, lalu tiba-tiba turun ke bawah ke arah semak-semak, menimbulkan suara yang syahdu. Lembut mengalun, ibarat dawai yang dipetik jemari gadis-gadis di desanya. Hei, bukankah ini… suara yang tak terdengar?

Suara yang ditimbulkan angin, meski semilir saja dia rasakan, tapi mampu mencipta lagu yang syahdu. Dedaunan, ilalang, dan semak yang ditelisik angin seperti dawai yang bertemu ujung kuku gadis yang belum pernah sekalipun disentuh lelaki, membentuk nada yang begitu teratur. Bukankah ini yang selama ini dia harus pelajari untuk menambah kecakapannya? Kemampuan menerjemahkan suara angin ini tak akan dia temui jika berada di lingkungan istana. Pun desa-desa di kerajaannya terlalu sibuk dan hiruk pikuk pekerja-pekerja dan petani yang terlampau suka bercanda. Kemampuan ini hanya bisa didapatkan jika dirinya benar-benar menyatu dengan alam. Ya! Inilah suara yang tak terdengar!

Pada bulan mati berikutnya pangeran bergegas berlari menuju gerbang belakang istana, melewati penjaga yang melihatnya terheran-heran, melewati jembatan yang ada di atas danau biru istana kesukaannya semasa kecil, langsung menuju kandang kudanya. Hari masih begitu pagi ketika dia sampai di depan pintu kandang. Cahaya matahari masih merambat-rambat di kaki dinding-dinding istananya, karena itu dia membuka pintu kandang itu pelan-pelan. Layaknya seorang sahabat, sang kuda putih telah berdiri menunggu tuannya, dan pangeran dengan suka cita bergelayut di lehernya. Dia tuntun kuda putihnya itu menuju tempat pemandian khusus kuda, lalu menyisir rambutnya yang keperakan, dan menyarungkan pelana di atas punggungnya. Begitu kudanya dirasa siap, pangeran segera memacunya kencang keluar gerbang istana.

‘Memacu kudamu menuju bukit hamparan matahari’, itulah Bukit Timur yang selalu disinari matahari, sangat berkebalikan dengan Hutan Barat. Ya, pasti Bukit Timur, pangeran bergumam dalam hati.

Di kejauhan, melalui sela-sela rumah penduduk yang tak terlampau rapat, dia melihat ada penunggang kuda yang sama kencangnya berlari menuju Bukit Timur. Tapi penunggang itu menatap nanar ke arah pangeran. Pangeran mengenali kudanya, dan gurat wajah yang tak asing itu… itulah sang pertapa! Sang pangeran memacu kudanya mendekat ke arahnya sambil mengambil jalan-jalan setapak yang bisa mendekatkan kuda mereka. Ujung belokan depan, tepat di bawah Bukit Timur, jalan ini akan bertemu dengan jalan yang di tempuh pertapa. Sebelum sampai di ujung belokan, sang pertapa berteriak ke arah pangeran. “Apa yang kau dengar?!”

“Angin! Suara angin! Musik yang merdu lagi syahdu!” Pangeran dengan lantang meneriakkan apa yang sudah dipelajarinya, sambil tersenyum puas.

Persis diujung belokan, kuda sang pertapa semakin kencang menuju ke arah pangeran. Pangeran tersentak kaget karena sang pertapa menghunuskan pedangnya, sambil memotong jalur lari kuda pangeran, seketika berusaha menebas lehernya dan leher kudanya! Beruntung, pangeran sejak awal menangkap ada sebilah kilau yang diselipkan di pinggang sang pertapa, dan segera menyadari bahwa itu adalah pedang! Secepat kilat pangeran menangkis dengan pisau yang diambil dari pingangnya. Namun kudanya terlanjur kaget dan hampir saja mereka berdua jatuh. Satu hal yang dikhawatirkan pangeran adalah jika kudanya terkilir, maka tak ada pilihan lain selain membunuh kudanya sendiri. Karena kuda tak ada guna jika tak dapat dipacu.

Sang pertapa berbalik, kemudian dengan cepat memacu kudanya ke arah pangeran. Pedangnya masih terhunus, dan siap menebas apapun yang ada di depannya, termasuk leher pangeran. Matanya nanar, tak akan melepas apapun yang menjadi mangsanya. Mengapa sang pertapa malah mengincar lehernya?

read more Ilmu Mendengar Suara Yang Tak Terdengar (2) >>

Advertisements