401622

(Sambungan dari Ilmu Mendengar Suara yang Tak Terdengar)

“Hei, apa maksudmu?!” Pangeran melambatkan kudanya. Tapi tak ada gunanya diam, karena sang pertapa di depannya telah berubah menjadi musuh yang siap membunuhnya. Pangeran segera memacu kudanya, dan kini mereka berhadap-hadapan. Pangeran yang tak membawa pedang, menyambar kayu dari rumah di dekatnya. Kayu itu meski seadanya, dihunuskannya layaknya pedang, karena pangeran memang cukup terlatih melakukan pertarungan dengan pedang di atas kuda sebagaimana kakanda melatihnya.

Rupanya kayu tetaplah kayu yang dengan mudahnya terpotong oleh pedang. Dengan pergelangan yang memutar, sang pertapa mengait ujung jubah pangeran yang berkibar tak hati-hati itu, lalu menyentakkannya jatuh dari kudanya.

Hampir saja wajah pangeran terinjak kaki kuda pertapa. Sekujur punggungnya nyeri, jatuhnya terlalu telak. Sang pertapa tidak turun dari kudanya. Sambil menyarungkan pedangnya, dia mengulangi kata-katanya yang dulu.

“Jantung tergelap di lingkungan kerajaan! Ingat itu!”

“Kau tak ubahnya anak muda yang terlalu lama bergelimang kekayaan! Kau berlindung di balik nama ayahmu! Kau tidak akan pernah bisa menjadi raja!”

“Kau hanyalah seonggok daging berjalan! Jiwamu tertinggal dalam guci-guci istana! Hatimu buta oleh arak-arak pesta! Ruhmu sudah tercabut sebelum kau lahir!”

“Pergilah ke jantung tergelap di lingkungan kerajaan, pelajarilah ilmu mendengar suara yang tak terdengar! Dalam dua kali bulan mati kita akan bertemu lagi saat kau memacu kudamu menuju bukit hamparan matahari!”

… .

Bulan sedikit mengintip dari tabirnya. Selang sehari setelah pangeran dijatuhkan pertapa dari kudanya. Nyeri di punggungnya telah tak ia rasaka. Tapi nyeri dalam hati tak kunjung hilang. Pangeran masih belum mengetahui apa yang seharusnya dia pelajari. Masa-masa bulan mati kedua ini seolah membuat seisi hutan tak bergairah. Saat siang tak begitu terik, lalu malam menjelang dengan enggan. Hewan-hewan pun tak bersuara. Mereka hanya bergerak-gerak sedikit dalam liangnya, tak ingin pergi jauh. Namun… Hei! Inilah suara itu! Suara yang tak terdengar!

Suara hewan-hewan yang ada di lantai hutan, mereka bergerak, melata, dan merambat-rambat dari satu semak ke semak yang lain. Mereka berdesis, berbisik sesamanya, mungkin sedang merencanakan serangan mendadak atas mangsanya. Demikian pula yang lain, berjingkat, menyelinap pelan agar tak terlihat oleh sensor panas pemangsanya, lalu dengan cepat melancarkan serangan lebih dulu. Ketika pangeran membuka mata, dia mengetahui bahwa suara yang di bawah dahannya sungguh berbeda dengan yang dia dengar barusan. Setelah pangeran mendengarkan lebih teliti lagi, suara yang awal dia dengar lebih bercampur dengan gemericik air yang dikenalinya. Pangeran baru sadar bahwa dia telah mendengar sebisik hewan-hewan di lantai hutan di ujung sana, di dekat sumber air!

Saat purnama memuncak, pangeran turun dari dahannya, kali ini mengikatkan ikat kepalanya menutupi matanya. Puncak purnama adalah waktu yang sangat tepat untuk menjajal kemampuannya, karena hewan-hewan sedang merayakan cahaya putih terang benderang bagai pantulan mutiara di atas sana. Purnama seperti matahari kedua bagi hewan-hewan malam di Hutan Barat ini. Dengan sebilah pisau terhunus, pangeran berjalan mengikuti arah suara. Tanpa melangkah lebih dekat lagi, dia melemparkan pisaunya. Suara darah terasa jelas semburat di telinganya. Pangeran membuka penutup matanya, dan berlari menuju sumber air di ujung hutan. Kali ini didapatinya tiga ekor ular yang sedang berbelit satu sama lain. Oh, pantas saja berisik, mereka sedang kawin rupanya. Dua ekor yang lebih kecil ini pasti pejantannya, karena mereka membelit tubuh betina yang mereka idam-idamkan.

Tiga ekor ular itu dimasukkan dalam karung bersama bangkai kancil yang lebih dulu diburunya tadi. Ketiga hewan ini akan ditunjukkan kepada sang pertapa yang kurang ajar itu, supaya dia tahu bahwa dirinya telah jauh lebih cakap daripada sebelumnya. Jika melihat hasil tafakurnya kali ini, sang pertapa pasti berubah pikiran, dan seketika menarik lagi ucapannya dan kembali menyanjung dirinya di bawah nama besar ayahandanya. Bahwa inilah kemampuan yang ayahanda wariskan dalam darah yang mengalir di tubuhnya, bahwa dirinya telah pantas memimpin kerajaan. Karena kerajaan sebesar ini memang membutuhkan seorang raja yang sigap, cermat, lagi cepat tanggap.

Bulan mati ketiga. Kali ini akan dia bungkam mulut pertapa itu. Tak seharusnya seorang yang dianggap bijak berkata-kata yang tak pantas. Seharusnya setiap perkataan mencerminkan kualitas diri seseorang, bukan malah seenaknya, seolah angkuh atas ilmu yang telah dimiliki.

Seperti sebelumnya, pangeran memacu kudanya menuju Bukit Timur, bukit hamparan matahari. Dan benarlah, sang pertapa telah berada di jalur seberang dari pangeran, sama-sama menuju kaki bukit. Matahari masih belum begitu terang saat itu. Tapi bukan masalah bagi pangeran karena dirinya telah mempertajam indra pendengarannya. Dia hanya membutuhkan cahaya merah matahari fajar untuk mengenali belokan-belokan setapak dan rumah-rumah penduduk yang harus dia hindari. Mereka semakin dekat satu sama lain, dan sang pertapa berteriak seperti sebelumnya. “Apa yang kau dengar?!”

Sang pangeran melempar karung hasil buruannya, yang dalam satu kali tebasan pertapa isinya berhamburan kemana-mana. Kurang ajar, pikir pangeran. Sang pertapa memacu kudanya lebih cepat dari biasanya, dan kali ini mencapai ujung belokan terlebih dahulu. Mereka berhadap-hadapan sama seperti kondisi sebulan lalu, pertapa dengan pedangnya, dan pangeran dengan pisaunya. Tapi kali ini pangeran tak gentar, semakin kencang pula dia memacu kudanya, dan mereka berada dalam satu garis lurus…

Crass! Pisau pangeran tepat mengenai punggung tangan pertapa yang memegang pedang. Pangeran yang teramat terlatih melempar pisau di kegelapan Hutan Barat, apalagi dengan mata tertutup, bukan masalah baginya membidik musuh dalam cahaya remang-remang. Namun pertapa masih tegap memegang pedangnya meski pisau menancap di tangannya. Pertapa mengacungkan pedangnya ke arah mangsa di depannya. Pangeran juga tak gentar, semakin kencang dia memacu kudanya. Lalu dia singkap jubahnya tepat ke arah pertapa, agar tebasannya meleset saat kedua matanya terkecoh jubahnya.

WhiteHorse Pangeran merasakan cipratan darah, namun tidak merasakan nyeri pada bagian manapun tubuhnya. Tiba-tiba dia tersungkur jatuh bersama kudanya. Dalam setengah kesadarannya, pangeran melihat kudanya telah bersimbah darah, meringkik-ringkik memohon iba kepada pangeran. Tertatih dan menahan perih pada seluruh kaki kirinya, pangeran merambat ke arah kudanya. Kurang ajar, kurang ajar, pikirnya. Baru kali ini pangeran merasa nyeri di ulu hati menahan marah yang amat sangat, bercampur kesedihan atas apa yang terjadi pada kudanya, teraduk-aduk jadi satu oleh rasa malu atas usahanya yang belum membuahkan hasil. Semuanya dia muntahkan jadi satu, menangis, menangis dalam keraguan apakah benar pertapa ini orang yang dicarinya, apakah benar pertapa ini yang memberi ilmu kepada ayahandanya.

Pertapa mendekat ke arahnya, tanpa iba sedikitpun sambil membentak, “Jantung tergelap di lingkungan kerajaan! Ingat itu!” “Kau tak ubahnya anak muda yang terlalu lama bergelimang kekayaan! Kau berlindung di balik nama ayahmu! Kau tidak akan pernah bisa menjadi raja!”

“Kau hanyalah seonggok daging berjalan! Jiwamu tertinggal dalam guci-guci istana! Hatimu buta oleh arak-arak pesta! Ruhmu sudah tercabut sebelum kau lahir!”

“Pergilah ke jantung tergelap di lingkungan kerajaan, pelajarilah ilmu mendengar suara yang tak terdengar! Inilah kesempatan terakhirmu, Pangeran! Dalam dua kali bulan mati kita akan bertemu lagi di bukit hamparan matahari!”

“Masa bodoh! Tak perlu dua kali bulan mati!,” teriak pangeran, “di tengah hari pada siang bulan purnama kita bertemu di sini!”

Pertapa berbalik sambil berteriak, “Darah dibayar darah!”

Kesadaran pangeran makin menurun seiring suara derap kuda pertapa yang semakin menjauh. Dalam ketaksadarannya, dia membopong mayat kudanya, menuju bukit hamparan matahari.

… .

Bulan mati ketiga. Masih ketiga. Hutan Barat begitu sepi, sunyi, hanya isak tangis tertahan menggema di pepohonan yang menyerupai pilar-pilar hutan. Dalam luka yang berbalut, pangeran hanyut dalam rindu yang teramat sangat, berdenyut-denyut dalam pembuluh darah kaki kirinya yang patah, menuju jantungnya, berdegup-degup tak karuan atas kejadian minggu lalu. Dirinya betul-betul dipermalukan. Tak ada guna apa yang telah dipelajarinya selama ini. Kecakapannya telah meningkat drastis, tapi samasekali tak berarti apa-apa. Bahkan, dia harus membayar perburuannya, seekor kancil dan tiga ekor ular, dengan nyawa kudanya. Kuda kesayangannya. Kuda yang telah menemaninya dalam berlatih tanding dengan kakandanya, kuda yang menemaninya mengejar musuh-musuh yang menghunus pedang di belakang punggung ayahnya, kuda yang menyelamatkannya dalam dua kali peperangan bersama para panglimanya.

im_WhiteHorseRearing Kepalanya bersandar pada batang pohon di sebelah kanannya. Berulang kali pangeran membentur-benturkan kepalanya supaya kenangan akan ayahandanya pergi dari pikirannya. Pangeran tak kuasa menahan malu, malu jika ayahanda memandang diriya dalam keadaan seperti ini. Wajah ayahandanya bermunculan; saat beliau mengulum senyum, saat beliau membacakan cerita untuknya sebelum tidur, saat beliau memarahinya karena tak memandikan kuda dengan benar. “Kuda layaknya sahabat terbaik seorang ksatria!” ujar ayahandanya suatu hari. Ya, suatu hari di musim basah ketika pangeran baru saja beradu cepat dengan kakandanya. Separuh badan kudanya berlumur lumpur jalanan, namun pangeran sekenanya saja menyiramkan air asal merata. “Harus berperasaan dalam menggosoknya,” kata ayahandanya, “dengan begitu sang kuda merasa menyatu dengan penunggangnya.”

Embun di matanya berubah menjadi hujan deras. Deras sekali. Kali ini suaranya tidak menggema, melainkan terserap ke dalam batang-batang pepohonan, dihanyutkan angin, dan berguguran bersama dedaunan. Seisi hutan tahu, ini adalah isak tangis seorang yang seharusnya sejak awal bulan mati lalu menjadi lelaki yang sebenarnya, namun tertunda karena tafakurnya tak membuahkan hasil. Di tafakurnya yang terakhir ini, sang pangeran harus sanggup membuktikan ucapannya sendiri, bahwa dalam waktu satu kali bulan mati, pada siang bulan purnama, dia telah menjadi lelaki sejati, dengan mempelajari ilmu mendengar suara yang tak terdengar.

Dadanya penuh sesak oleh air mata rindu kepada sang teladan, yakni ayahandanya. Di dunia ini tak ada yang sanggup menggantikan kehadirannya. Sekarang dirinya benar-benar merasakan sebagai manusia biasa, yang sendiri di Hutan Barat yang gelap mendekap, tak ada manusia selain dirinya, hanya dan hanya dirinya bersama seisi hutan yang pernah dikhianatinya pada purnama kedua lalu. Dirinya membiarkan suara-suara ayahandanya bergema di dinding-dinding hatinya, karena jiwanya begitu galau, begitu kalut. Tak akan dia biarkan angin membawa pergi kerinduan akan ayahandanya, tak akan dia biarkan gemericik air mengganggu suara ayahanda yang sedang berbicara pada dirinya, dan apapun yang ada di hutan ini tak akan sanggup menghalanginya untuk merindui ayahandanya.

Ayah… Ayah… Ayah…

Ayah… Ayah… Ayah… Ayah…

Ayah…

Hatinya terus menerus memanggil nama ayahandanya… Terus dan terus, hingga dia menyadari, bahwa hatinya bersuara. Suara yang tak terdengar!

Inilah suara yang tak terdengar itu! Suara yang berasal dari dalam hatinya. Suara yang benar-benar dari lubuk hati yang terdalam, yang jika ditelusuri lebih jauh, lubuk hati itulah yang membuatnya menjadi sebenar-benarnya manusia. Mengapa dirinya begitu bodoh?

Setiap orang yang mau melihat jauh ke dalam lubuk hatinya pasti mengerti, bahwa suara inilah yang membuat mereka benar-benar bisa merasakan, dan berpikir dengan hati. Setiap manusia akan sanggup bersikap lebih bijak, sebagaimana halnya ayahandanya, jika mau mendengarkan suara hatinya. Suara hati… yang membuat manusia menjadi manusia, menyadari keberadaannya sebagai manusia, dan mampu memimpin dunia ini menuju tatanan dunia yang lebih baik… sebagaimana ayahnya.

Jika hal ini dia sadari lebih awal, pencariannya tidak akan sia-sia. Tidak perlu dia menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk bertafakur dalam hutan. Namun pangeran tahu, setiap hal yang tak ternilai selalu mahal harganya. Pangeran menangis sejadi-jadinya.

Pada satu siang sebelum purnama, pangeran berlari, terus berlari menuju bukit hamparan matahari untuk menemui sang pertapa di tengah jalan. Kali ini tak akan salah, dan pada akhirnya selesai sudah semua usahanya yang tak berujung. Pangeran mendengar derap langkah kuda pada jalur di seberangnya, dan itu sudah pasti kuda sang pertapa. Pangeran semakin kencang, dan kencang berlari, begitu dia melihat ke depan, sang pertapa sudah berdiri di ujung belokan.

“Suara hati, ya, suara hati. Itulah suara yang tak terdengar. Yang menjadikan manusia menjadi manusia, menyadari keberadaannya sebagai manusia, dan mampu memimpin dunia ini menuju tatanan dunia yang lebih baik… Benar, kan?” Pangeran terlampau lelah berkubang dalam keputusasaannya, suaranya tak dapat diangkat lebih tegas lagi, karena nafasnya tak karuan setelah berlari begitu jauh, dari Hutan Barat menuju Bukit Timur.

“Kau sia-siakan kesempatan terakhirmu, Pangeran. Sayang sekali,” kata pertapa, “kau memang sudah banyak belajar, tapi kau tak akan mampu menjadi seperti Sri Baginda Raja.”

“Kau tetap tak ubahnya anak muda yang terlalu lama bergelimang kekayaan. Terlalu lama kau berlindung di balik nama ayahmu. Ayahmu terlalu sayang hingga melupakan kewajibannya untuk mendidikmu. Kau tidak akan pernah bisa menjadi raja!”

Sang pertapa berbalik, sebelum akan memacu kudanya dia berkata, “Aku tak akan pernah menyesal mengatakan kau hanyalah seonggok daging berjalan. Jiwamu tertinggal dalam guci-guci istana. Hatimu buta oleh arak-arak pesta. Ruhmu sudah tercabut sebelum kau lahir!”

Sang pangeran jengah, seketika mencabut pedang di pinggang pertapa. Pangeran persis berada di belakangnya, di sudut mati pertapa. Dengan dua kali putaran penuh, putuslah kaki kanan belakang kudanya, terkoyak pula punggung hingga perut kanan pertapa. Darah di mana-mana, sekujur tubuh pertapa tersungkur basah dan merah oleh campuran darah kuda dan isi perutnya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaganya, pangeran menghujamkan ujung pedang ke leher musuhnya, yang dengan cepat ditahan oleh telapak tangan kiri pertapa.

Dalam satu kali nafasnya, pertapa berkata, “Suara yang tak terdengar itu adalah suara rakyatmu, suara orang-orang yang seharusnya kau layani, suara yang tak mungkin didengar oleh pemilik jantung tergelap yakni raja negeri ini!” Bless…! Ujung pedang itu menembus telapak tangan sekaligus leher pertapa dalam satu garis lurus.

Kalimat itu sendiri dipahami oleh pangeran beberapa tahun kemudian.

***

Kapan bangsa ini bisa mendapati sosok pemimpin yang mampu mendengar suara yang tak terdengar?

Advertisements