Diposting setelah menyaksikan Republik Mimpi, membahas tentang singkatan ABS, tapi posting ini OOT banget dari ABS… hehew…

1219101715indonesia08 "Itulah Indonesia…"

Ngaret, jarang tepat waktu, sering melupakan janji tentang waktu, meremehkan waktu, lalai akan waktu, tidak bisa memperkirakan waktu, bla bla bla…

semua alasan tentang waktu.

"Maap, aku belum bisa ngatur waktu…"

seribu satu rasionalisasi tawaran jadi mentah hanya dengan kalimat, "Waduh, aku belum ada waktu untuk itu. Aku masih harus banyak belajar. Aku masih belum bisa ngatur waktu buat nambahin kerjaan lagi."

Ngaret. Lelet. Mbambet. Lambretta labamba. "Itulah Indonesia…"

Ada orang Indonesia sendiri yang bilang, "Yah, itulah Indonesia…," lalu kamu siapa..

Ada manusia Indonesia sendiri bilang,

"Aku ngga suka negeri ini. Korupsi dimana-mana, rakyat miskin tambah miskin, sumber alam yang tersedot oleh perut-perut birokrat, solidaritas sesama yang rendah, penanganan korban bencana yang lambat,…"

"Bahkan Putri Indonesianya cuma bisa berpakaian khas Indonesia tanpa berkepribadian Indonesia…"

"Aku tidak suka Indonesia…"

Lalu, Anda-Anda yang berkata seperti itu, silakan ganti kewarganegaraan deh. *tapi agaknya saya setuju soal Putri Indonesianya yang kadang seleksinya terkesan ala kadarnya. hehe… maap….*

Ga ada yang ngelarang kok. Silakan pergi aja ke luar negeri selama lima taon, ga usa konfirm KBRI di negara itu, ntar kan kamu kehilangan kewarganegaraan Indonesiamu. Gampang kan..

Lalu, Anda-Anda yang berkata seperti itu, khususnya Anda yang punya darah keluarga Indonesia, tak sadarkah Anda telah hidup dari saripati tanah Indonesia? Setiap makanan yang dimakan orang tua Anda, memberikan nutrisi bagi tubuh orang tua Anda, mengalir dalam darah mereka, menguatkan sperma dan ovum mereka, lalu pada saatnya, akan menumbuhkan janin dalam rahim yang juga diperkuat dari nutrisi tanah Indonesia.

Saya yakin Anda pernah berpikir sampai di situ, namun Anda hanya mau melihat realita yang terjadi pada masyarakat kita, pada birokrat kita. Anda tidak mau melihat bahwa potensi Anda sangat besar, dan sangat berarti bagi pertumbuhan dan perbaikan bangsa ini. Jangan seperti kacang lupa pada kulitnya. Seolah-olah bertindak kejam karena kita sedang berdiri di bumi ini sambil mengaduk-aduk isi perut sang ibu pertiwi.

*sigh*

Satu hal. Jika yang membuat manusia menjadi manusia adalah melamun, maka ibu pertiwi kita tak hanya butuh lamunan, tapi butuh tindakan. Alias sumbangsih. kontribusi. pengabdian. Itulah yang membuat manusia tak hanya sekedar menjadi manusia, tetapi manusia mulia yang luar biasa. Negeri ini sedang membutuhkan putera-puteri terbaiknya, bangsa ini sedang menanti dedikasi dari Anda, saya, dan kita semua, tanpa kecuali. Bukan sekedar acara guyonan yang kadang menampilkan lelucon murahan seperti Republik Mimpi dan sejenisnya.

Setidaknya buatlah diri kita bermanfaat bagi bangsa ini. Setidaknya, buat lah diri kita ini tidak useless dengan bersikap hipokrit seperti itu. Juga, jangan lupa saling mendoakan buat sang ibu ya.

nb: jika Anda adalah seorang muslim, yang percaya sepenuhnya dengan keabadian ukhuwah, maka saya yakin Anda mencintai bangsa ini. Karena di sinilah mayoritas muslim bertempat tinggal. Maka, tak ada alasan lain, kecuali dedikasi ini bersama-sama kita persembahkan untuk kemajuan Indonesia tercinta.

Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Wallahu ‘alam bishowab.

Advertisements