This story has been legally permitted for publishing in such social network program. Author had the copyrighted writing and everyone can copy-paste this article to response each life as humanity actions. Insya Allah saya sudah minta ijin kepada yang bersangkutan, malah beliau mendukung untuk saya tulis di blog.

True_Love_Forever “Mas, sepertinya aku harus membatalkan janjiku sendiri. Mulai sekarang aku harus memutuskan hubungan dengan dia, karena memang sudah merasa tidak sanggup memegang janji itu lebih lama lagi. Bukan berarti aku putus asa, memang dari beberapa kejadian, sepertinya ada takdir lain yang dipersiapkan untuk kami masing-masing. Aku pada awalnya menaruh harapan yang besar ketika kami punya visi yang sama. Setelah menjalin hubungan, makin lama aku mengenal dia, makin aku mengerti bahwa kami seharusnya saling berdekatan dengan cara lain. Namun aku sama sekali belum siap untuk cara yang baru aku kenal itu. Aku tidak bisa lagi bertahan kalau dalam setahun-dua tahun ini tidak mejalin hubungan sama dia.”

Dia mengatakannya dengan berdiri di ambang pintu kamar saya, dan saya serta merta berhenti blogwalking. Saya mengikutinya menuju kamarnya, lalu kami duduk bersama di depan sebuah nampan berisi roti yang sudah dipersiapkannya. “Kamu serius, Bram?”

“Iya, Mas, Insya Allah. Tadi pagi sudah bicara banyak sama mama. Mama sebenarnya setuju aku nikah, tapi belum siap untuk dananya. Lagipula, aku mulai tidak kuat kalau harus mengambil keputusan bertahan untuk tidak berkomunikasi dengannya sama sekali. Menurutku itu tidak masuk akal.”

Sekitar hampir satu setengah tahun Brama berkenalan dengan gadis itu. Awal perkenalannya cukup unik, yakni melalui Friendster.

Setelah itu mereka janjian ketemu, dan hubungan pertemanan mereka berlanjut cukup akrab. Jadilah pada suatu hari, Brama mengutarakan maksud untuk membangun bahtera rumah tangga, bersamanya, selamanya. Sang gadis pun tak menolak, karena mereka berdua telah lama bertukar ide tentang kehidupan, saling berdiskusi tentang bagaimana hidup semestinya dibangun. Hanya saja, mereka punya pandangan berbeda bagaimana seharusnya pernikahan itu dibangun dengan cara yang syar’i, jika memang benar masing-masing pihak mendambakan bahtera keluarga yang kuat nan indah.

Pada akhirnya Brama memutuskan untuk merelakan kepergian si gadis dari hidupnya, meski dia sendiri belum yakin atas keputusannya itu. Bukan karena tidak menemukan alasan logis kenapa harus memutus hubungan mereka, melainkan karena Brama tidak tahan terhadap rasa sakitnya. Siang tadi, dan baru siang tadi dia bercerita, sorenya Brama berteriak marah di kamarnya.

Hh… saya tahu dia orangnya kuat. Sekarang hanya fase akut saja. Saya hanya bisa mendoakan sambil membangunkannya tiap pagi untuk salat subuh. Toh, dalam waktu dekat dia juga tetep keukeuh untuk nikah. Belum tau calonnya sapa, sih. Ada yang mau mencarikan? Hehe…

Kepada para blogger dan siapapun yang membaca tulisan ini, saya mohon dengan sangad untuk mau memberikan dukungan kepada teman saya itu. Saya kira dia juga teman kita meski terhubung di dunia maya. Silakan klik link berikut jika kawan-kawan berminat memberikan support untuknya…! 😉

Brama Rachmantyo

Advertisements