vinzhe-IDR edit

Saya sedang membaca buku tentang Pelatihan Salat Khusyu, sementara pikiran saya melayang-layang ke tiga sebuah proposal bisnis yang sedang saya geluti. Saya membuka kembali buku itu, di dalamnya disebutkan:

“Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Peluang itu sebenarnya bisa diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita mengalami hal ini dengan paradigma yang keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi orang kaya terlebih dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna. Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu itu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Banyak orang yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperolehnya. Anda telah membuktikan dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah Anda mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kta minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar dari diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.”

Pun, seorang teman yang sama-sama berkubang di profesi kesehatan mengatakan, “Apa kamu mau cuma dihargai sebatas gaji?”

Saya pernah mencibir ketika babe saya sendiri enggan masuk kantor jika tak mendapat uang lembur. Beliau kemudian berkata bahwa, lebih baik menghabiskan waktu di rumah daripada bekerja tanpa upah. *meski pada akhirnya beliau berangkat setelah mendengar temannya kesusahan mengerjakan laporan bulan ini!*

Saya sedang menjalani stase di psikiatri, dan mendapati bukan satu-dua pasien yang mengalami kepribadian terpecah (skizofrenia) karena harta. Ada yang gara-gara anaknya sembarangan menggunakan kartu kredit ayahnya, isterinya ngopeni cem-cemane dari uang suaminya, dan seterusnya. *believe it or not, apa yang ditampilkan di sinetron dan termehek-mehek memang terjadi di dunia nyata! Pasien-pasien saya buktinya :|*

Fine. Bagi saya, uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Apa yang disebutkan dalam buku Pelatihan Salat Khusyu tadi, adalah batasan kebahagiaan untuk diri sendiri. Ukuran bagi seseorang untuk membahagiakan diri sendiri. Bahwa kebahagiaan tidak diukur dengan banyak sedikitnya harta, tapi seberapa besar kedamaian yang dirasai dalam hati.

Bagaimana tentang membahagiakan banyak orang? Mas Tsalis, teman kos saya berkata, membahagiakan orang lain pun tidak perlu dengan uang. Percuma banyak uang jika hanya menjadi tetangga yang menyusahkan. Tapi susah juga kalau jadi tetangga yang miskin yang selalu jadi bahan dikasihani tetangga lainnya dan jadi sasaran zakat-infaq-sadaqah. So, sebaiknya bagaimana? Kata Mas Tsalis, lebih baik jadi tetangga yang tidak merepotkan, syukur-syukur kalau bisa membantu tetangganya.

Hmm… tidak, tidak. Menjadi tetangga yang baik memang baik, tapi lebih baik lagi kalau menjadi tetangga yang terbaik. Baik secara moral, juga finansial. Ya, ya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana? Okelah, secara moral, setiap kita pasti bisa menjadi tetangga yang baik. Secara finansial, bisa kah kita membuat tetangga kita sukses bersama-sama? Sama-sama sukses, dan sukses bersama-sama!

Ya, bagi saya uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Saya melihat banyak sekali yang bisa dilakukan untuk membantu orang lain, dan banyak uang membuat hal itu lebih konkrit. Sebut saja, semua kita yang ada di dunia ini memiliki potensi kebaikan hati yang sama besarnya, memiliki moralitas yang sama indahnya. Dengan modal yang berasal dari kantong saya sendiri, maka saya buatkan sekolah gratis khusus anak-anak usia esde, mendidik mereka dengan spiritualitas yang agung, mentalitas yang kuat, jiwa entepreneur yang dinamis, dan punya kemampuan “promosi-prevensi-kurasi” untuk masyarakat di sekitarnya. Saya dirikan juga sebuah masjid yang penuh dengan buku-buku sejarah Islam, akidah dan akhlaq, juga tentang fiqih dan syariah. Sekalian saya gaji para ustadnya dan saya jamin kesejahteraannya untuk mendidik banyak santri. Dari sekolah dan masjid ini nantinya melahirkan banyak sekali muslim yang sanggup memajukan masyarakat di sekitarnya, membawa cahaya agamanya yang terang, dan bersikap lembut terhadap sesama namun tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Amiin!

Karenanya saya mempelajari tiga salah satu proposal bisnis perusahaan ini, ini, dan ini. Sebagai panduan untuk menjalankannya, sepertinya Cashflow Quadrant dan Rich Dad Poor Dad oleh R. T. Kiyosaki sangat bagus untuk dipelajari. 😉

ProductReflection_CFQ

Advertisements