clock_money03

Aih… dengan kerjaan sekarang aja, belum tentu membahagiakan diri sendiri dan keluarga, mana mungkin membahagiakan tetangga? Diri sendiri saja pas-pasan, mana bisa membahagiakan tetangga. Pak Mario Teguh, motivator terkenal lewat The Golden Ways nya itu, suatu kali pernah mengalami kejenuhan, lho. Kejenuhan ini dialaminya saat berada di puncak karirnya di suatu perusahaan terkenal. Saat itu, dia segera menuju toilet, membasuh mukanya di wastafel, dan melihat bayangan romannya di kaca, semakin menua. Perlahan bayangan itu berkata, “Apa saja yang sudah kau capai hingga usiamu sekarang ini?” Beliau keluar dari wastafel, dan mendapati sebuah kalender kecil di atas meja di dekatnya. Di kalender itu bertuliskan:

“If I were so busy, why aren’t I rich?”

Baik kaya harta maupun kaya hati. Kalau kita pernah mengeluh, “Diri sendiri saja pas-pasan, mana bisa membahagiakan tetangga,” dan semacamnya, justru saat itulah kita menderita sindroma miskin harta dan miskin hati. Sudah finansialnya ngga beres, moralnya juga ngga beres. Pak Mario Teguh mengomentari, bahwa keadaan ini hanyalah disebabkan kesibukan yang kurang tepat, kurang efisien, dan kurang ikhlas.

Keadaan ini disebabkan karena kita tidak memiliki kendaraan yang tepat untuk memulai sebuah bisnis. Coba amati, bagaimanakah kondisi di tempat kerja? Adakah sikut-sikutan satu sama lain? Berusaha menjilat bos, tampil lebih rajin, atau paling tidak lebih senang bila pekerjaannya selesai dan mendapat reward dari bos? Mungkin kondisi ini tidak salah. Budaya kerja yang kompetitif sangat baik untuk perkembangan pribadi seseorang. Tapi kalau kebablasan ya susah. Ada beberapa gesekan-gesekan kecil yang awalnya kita toleransi, muncul menggunung karena sudah mendarah daging tanpa kita sadari.

Lalu, bagaimana kendaraan bisnis yang tepat itu? Singkatnya, ada di bukunya Robert T. Kiyosaki. Disana dijelaskan tentang empat kuadran yang mengelompokkan apa yang dilakukan orang-orang untuk bekerja. Berikut adalah kuadran itu:

Cashflow-Quadrant

*Ah… lebih jelasnya baca sendiri bukunya, yah… Cashflow Quadrant ituh… *

Coba lihat keterangan tiap kuadran. Pastinya, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kuadran kiri, tempat S dan E, ketika kita bekerja, kita dapat penghasilan seketika, per hari, per minggu, per bulan, dan seterusnya. Namun kuadran ini memiliki kekurangan, yakni ketika kita berhenti bekerja, kita tidak mendapatkan penghasilan. Pada kuadran kanan, yang biasa disebut kuadran orang-orang kaya, yakni tempat B dan I, penghasilan tidak seketika kita dapatkan, melainkan setelah beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun, bahkan setelah jatuh bangun membangun sebuah bisnis. Namun, pada saat aset sudah terbentuk, penghasilan akan dengan sendirinya kita dapatkan.

Secara gamblang, di buku Kiyosaki ditekankan bahwa sesegera mungkin kita perlu membangun aset. Tak selamanya diri kita ini sanggup bekerja. Ada kalanya sakit, atau harus menemani sang ibu yang lunglai di rumah, atau menjenguk sanak famili yang terbaring lemah di rumah sakit. *Sangat tidak lucu jika kita “tidak secara utuh” hadir untuk mereka karena alasan pekerjaan!* Karenanya, saat aset mulai terbentuk, saat itulah kita benar-benar menjadi seorang yang kaya. Atau yang populer disebut sebagai financial freedom, saat uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang.

Lalu, apa sih definisi ‘kekayaan’ itu? Sebenarnya bukan diukur dari banyak sedikitnya harta, namun ukuran kekayaan adalah seberapa lama kita dan generasi kita sesudahnya sanggup bertahan hidup dengan apa yang kita miliki. Menurut teman saya, Trisno *kayaknya dia juga tahu dari orang lain deh* bahwa seseorang dikatakan telah mati apabila telah habis namanya dikenang. Sudah tidak ada lagi orang yang mengenangnya, bukan karena telah lepas nyawa dari raganya.

Karenanya, kekayaan bukan sekedar dihitung melalui harta, melainkan sebagaimana yang dikatakan Rasul saw, kekayaan adalah ilmu yang bermanfaat, sadaqah, dan doa seorang anak yang salih kepada orang tuanya. Itulah amal jariyah. Namun pertanyaannya, jika hingga sekarang ini kita masih meributkan soal uang dan penghasilan, kecil kemungkinan bisa all out dalam berinvestasi lewat amal jariyah. Lihat saja orang-orang yang bekerja dari siang hingga malam, sampai-sampai keluarganya hanya kebagian waktu sisa. Ya, sisa. Sisa capek, bete, dan seterusnya.

my potency cover Teori Kiyosaki tentang Cashflow Quadrant tadi, dibantah oleh Endra K. Prihadhi. Dalam bukunya My Potency, disebutkan bahwa menjadi kaya tidak selalu harus berpindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan, sehingga kita benar-benar mencapai kebebasan finansial tadi. Menurutnya, tidak masalah apakah kita berada di kuadran kiri atau kanan, yang penting kita enjoy dalam menjalani pekerjaan kita. Safir Senduk sendiri membantah teori Kiyosaki ini, terutama lewat bukunya Siapa Bilang Jadi Karyawan Ngga Bisa Kaya. Tidak harus berpindah ke kuadran kanan, asalkan bisa mengatur pengeluaran seperlunya, kita pun bisa menjadi kaya meski sebagai orang yang gajian.

Kembali ke definisi kekayaan tadi. Yang perlu saya tekankan, kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Bagi saya, terlalu sempit jika pembahasan tentang menjadi kaya melulu diarahkan untuk diri sendiri. Pun, sangat sempit juga jika kekayaan dihitung dalam ukuran harta. Maka, kekayaan yang dimaksud di sini adalah baik soal harta maupun hati. Memperkaya harta dan hati bisa berjalan simultan, artinya ambisi kita untuk menjadi kaya bukanlah untuk diri kita sendiri, namun juga untuk orang lain, orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang kita cintai.

Maka inilah kombinasi pribadi yang sangat tepat. Kaya harta juga hati. Bahkan, sembilan dari sepuluh Assabiqunal Awwalun (sepuluh orang yang dijamin masuk surga karena lebih dulu memeluk Islam), adalah pebisnis handal. Sebut saja Abu Bakar As-Shidiq. Beliau rela menyumbang seratus persen hartanya termasuk sekian puluh untanya untuk kejayaan Islam. Selepasnya, bukan hal yang sulit baginya untuk membangun bisnisnya kembali. Ketika bisnisnya mencapai puncak, kembali dibelanjakannya di jalan Allah. Atau Abdurrahman bin Auf. Saat musim hijrah, telah dia tinggalkan semua hartanya yang meruah di Makkah. Ketika sampai di Madinah, dia tidak minta apa-apa kecuali ditunjukkan jalan menuju pasar. Tidak lebih dari satu bulan, dia telah menjadi saudagar terpandang di Madinah.

Banyak orang yang saya jumpai telah terjebak di ritualisme agama semata. Mendalami agama seolah-olah menjauhkan mereka dari hiruk-pikuk dunia. Padahal, dengan mengubah sedikit sudut pandang, yakni menganggap dunia sebagai pijakan dan lahan mencari bekal untuk di akhirat, maka mereka tak akan segan berusaha menjadi kaya untuk memperkaya orang lain. Inilah sebuah bisnis yang bernilai akhirat. Rasul saw pun mengatakan, “Bekerjalah seolah-olah kau hidup selamanya, Beribadahlah seolah-olah kau esok akan mati.”

Mungkin saya punya tag line yang bagus untuk hal ini,

“Jika kau ingin kaya untuk diri sendiri, maka cukuplah perbaiki moral dan spiritualmu. Jika ingin kaya untuk diri sendiri dan orang lain, perbaiki moral, spiritual, dan finansialmu, maka kau sanggup membawa perbaikan yang nyata untuk orang-orang di sekitarmu.”

Dengan demikian, yang perlu kita lakukan hanyalah memilih kendaraan bisnis yang tepat dan efektif. Yang mampu membuat kita kaya baik harta maupun hati. Yang kemudian mampu mengajak diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi menjadi kaya.

Kendaraan bisnis seperti apa itu? Insya Allah saya sudah menemukannya, dan sudah memilihnya dengan mantap. Semoga istiqamah, dan saya harap setiap orang yang membaca tulisan ini terinspirasi untuk mencari dan menemukan kendaraan yang sejenis. Jika ingin lebih lanjut berdiskusi, kopi darat, yuuk… Huehuehue 😀

Wallahu alam bishawab. 😉

… .

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Advertisements