kami sedang pose jelek :PIni cerita soal ibu. Ya, ibu saya, ibu kandung. Ibu yang dari rahimnya saya lahir. Yang darinya saya belajar soal bagaimana mencintai tanpa mengatai. Eh, maksudnya tanpa berkata-kata. Yup, ibu saya tidak pernah sekalipun bilang, Aku sayang kamu, Nak,  I luv u, Son… tidak, tidak. Tidak pernah. Sama sekali, lho! Ibu saya cukup memerintah, Ayo sini makan, daritadi kok lari-lari terus…! Atau, Heh, kamu tu kok jorok banget sih, mandi sana! Dan Kawan, coba bahasakan kata-kata tadi dalam bahasa Jawa. Ngga kebayang demikian kasarnya nada bicara ibu saya.

Namun yang mengagumkan, beliau mengatakan seperti itu dengan ekspresi sedih. Ya, sedih, bukan marah. Sedih, jika boleh saya mengatakannya demikian, karena kedua alisnya tidak bertemu di tengah. Tidak menghujam ke pangkal hidung layaknya orang yang terbakar amarah karena kelakuan anaknya yang begadul. Tapi kedua alis itu malah turun ke bawah, dengan pangkal tengah alis terangkat ke atas sehingga dahinya berkerut. Dengan sinar mata berkaca-kaca, dan jika boleh saya mengistilahkannya, seperti “omega sign” pada orang yang sedang menanggung beban demikian berat.

Ya, itulah ibu saya. Tidak pernah berkata-kata dalam mengungkapkan rasa sayangnya. Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? 🙂

Begini. Secara tiba-tiba, ibu menitipkan buanyaak sekali benda-benda perawatan muka. Ketika adik baru saja pulang kampung, dia menggerutu karena begitu banyak barang yang dititipkan untuk saya. Satu kresek penuh! Dan isinya segala macam benda perawatan muka! Ada sabun sulfur 3 biji, trus sabun ijo yang mirip jelly ituh, pembersih muka yang mengandung alkohol skaligus kapasnya, skin bleaching yang mengandung hidroquinon 2% dalam krim 15 gram, skin cream yang isinya nutrisi buat kulit, dan ngga tanggung-tanggung… facial foam dengan double micro scrub 100 gram! Hoo…

Esok paginya, ibu saya telepon. Ini pasti penjelasan tentang bagaimana menggunakan barang-barang tadi. Seperti biasa, jika ada kiriman dari ibu, esok pagi atau malam harinya beliau pasti telepon untuk memastikan saya bisa menggunakannya. “Itu kalo mandi kamu biarin dulu beberapa menit baru dibilas… krimnya buat malem sebelum tidur… kalo pulang dari rumah sakit pake facialnya… bla bla bla,” dan otomatis, saya hanya menjawab, Ya bunda, ya, ya… sambil senyum-plus-nggrundel sendiri.

Ini bukan sekali-dua kali, lho. Berkali-kali! Bahkan sebelum saya ngekos di Surabaya, malah lebih ketat lagi pengawasan ibu soal perawatan muka. Ck ck ck… saya seringkali mengeluh, kenapa anak lelaki sampai perlu pakai yang begituan? Ini semata-mata protes karena harga diri saja, karena saya tidak mau disebut cowok metroseks. *yang menurut saya dandy berlebihan* Meskipun demikian, saya diam-diam menggunakannya, paling tidak facial foam dan pembersih alkohol. Itu saja. Sabun sulfurnya sesekali saja, mungkin dua hari sekali. Sabun ijonya dulu masih sering saya pakai, terutama jika jerawat lagi banyak-banyaknya.

Kalau sekarang, menggunakan facial dan pembersih alkohol itu lebih karena kebiasaan saja. Yang lainnya tuh masih nganggur di pojokan. Apalagi skin bleaching yang mengandung hidroquinon ituh, betul-betul saya hindari.

Coba lihat wajah ibu saya di atas. Putih bersih, kan? Itu hasil perawatan yang beliau tekuni, lho! Ibu saya sudah genap 50 tahun 22 April nanti. Pada awalnya pun, atas saran *dan kritik plus sindiran* bapak saya, ibu jadi lebih sering merawat wajahnya. Tidak cukup wajah saja, ibu juga sering memakai pakaian yang bersih, dan yang saya amati ketika pulang kampung, ibu lebih sering memakai wewangian meski di rumah. Haha… bapak ibu cuma tinggal berdua, sih. Anak-anaknya semua sudah merantau ke kota sebelah. Jadi lebih sering saling menyenangkan satu sama lain. Berdandan supaya lebih betah di rumah. Mengikuti sunnah Rasul ya, bersolek untuk belahan jiwa masing-masing. Hihi…

Di akhir telepon, ibu menegaskan, “Kalau lagi ngebersihin muka, berdoa juga ya. Sambil menggosok-gosok muka, bilang ‘Ya Allah, bebaskanlah wajah ini dari api neraka’…” Nah, ini yang bikin saya terharu. Di setiap teleponnya soal perawatan muka, selalu saja ibu mengatakan hal ini. Berulang-ulang. Tidak sekali-dua kali, berkali-kali!

Dan bisa jadi, siapapun menantunya, yang pertama beliau kritisi pasti soal kulit wajah. Bukan hanya bersih, mungkin ibu saya juga bisa melihat kulit yang betul-betul cemerlang. Bukan hanya cantik, tapi juga berkah. Yang mana cantiknya hanya untuk orang-orang yang berhak.

Dan insya Allah itulah wajah yang terbebas dari api neraka.

Advertisements