HI037Sirkumstansialiti. Berputar-putar. Pembicaraan yang tak berujung. Alias mbulet. Beda jauh dengan sirkumsisi, yang artinya bersunat, yang malah memperjelas bentuk glans dan menyingkirkan bagian yang berpotensi menimbulkan najis supaya tak berpenyakit di kemudian hari.

Tapi pembicaraan kami betul-betul berputar-putar, sirkumstansialiti, sehingga saya rasakan perlahan menimbulkan najis. Bagaimana bisa?

Ya. Kami membicarakan *jika boleh memperhalus sebutan memperdebatkan* lebih dulu mana antara keyakinan atau pengetahuan. Apakah seseorang harus meyakini dulu untuk kemudian menjadi tahu, atau mengetahui dulu kemudian mejadi yakin. Sebut saja si D, menyebutkan idiom Karl Marx bahwa agama adalah opium, adalah berawal karena Marx meyakini demikian halnya. Lain halnya si G, mengatakan bahwa semua ilmu sosial berawal karena tahu dan mengetahui apa yang terjadi di sosial kemasyarakatan. Si D bersikeras, siapapun yang mendalami ilmu sosial harus diawali dari meyakini, sementara si G menegaskan bahwa ilmu sosial pasti berawal dari pengetahuan akan fenomena sosial.

Dialektika! Saya berteriak dalam hati. Jengkel.

Ah. Saya makin lama makin sebal dengan pembicaraan itu. Ingin saya menengahi, namun tak ada latar belakang pengetahuan sosial yang cukup. Kedua teman kos saya itu, meski baru semester dua di fakultas sosial, dasar teori mereka akan filsafat sosial sangat-sangat lah cukup.

Saya kemudian masuk, dan bertanya, “Lebih dulu mana ayam atau telur?”

Diam sesaat.

Si D menjawab, “Ayam, Mas. Dalam kisah penciptaan disebutkan begitu, bukan telur yang lebih dulu.”
Kemudian Brama, yang nimbrung lebih dulu sebelum saya, menimpali, “Ya, ayam dulu, Mas. Allah menciptakan ayam dulu, bukan telur.”
“Pertanyaan saya bukan bercanda, lho,” saya menegaskan, “lebih dulu mana?”
“Ayam, Mas.” Si D menyahut.
“Kamu menjawabnya dengan keyakinan atau tahu bahwa ayam diciptakan dahulu?”
“Saya menjawab dengan keyakinan. Karena itulah yang saya yakini. Toh, agama juga termasuk ilmu sosial, ilmu yang diawali dari keyakinan dulu untuk mengetahui.”
“Kalau kamu tadi mengatakan apa?,” saya bertanya kepada si G.
“Mengetahui fenomena sosial dulu baru meyakini. Itulah sebenarnya ilmu sosial.”

“Begini, Kawan. Hidup itu terdiri dari tiga pilar utama,” saya mulai berkata-kata. Tentu dengan gaya saya yang khas; membusungkan dada untuk menyimpan cadangan udara lebih banyak supaya kalimat saya tak terpotong di tengah, intonasi suara yang mendayu-dayu namun tetap tegas pada penekanan kata-kata tertentu, dan satu lagi yang penting, pandangan mata yang lembut tapi tak kan lepas dari mangsa yang terkesima. *wakakakak…*

“Tiga pilar itu adalah iman atau kepercayaan, ilmu atau pengetahuan, dan amal atau tindakan nyata. Sekarang kita bisa memilih, mempertajam ilmu untuk lebih bisa merasakan dengan hati, sehingga keimanan kita lebih tebal dan kuat menancap. Atau meyakini sebuah fenomena yang tersirat dalam kitab suci untuk lebih bisa mendorong semangat mencari ilmu.” Saya berhenti sejenak, mengamati setiap mata sudah tertuju pada saya. Tak sedetikpun mereka berkedip, hanya suara napas yang bersaing dengan semilir angin, lamat-lamat.

“Sebagaimana zaman pertengahan dulu, ketika dunia Barat mabuk dengan gemilang duniawi, maka ilmuwan-ilmuwan muslim semakin menjamur di mana-mana seiring kemampuan mereka membuktikan fenomena dalam kitab suci. Seperti halnya membuktikan ayat ‘sesungguhnya langit, bumi, dan gunung beredar dalam garis edarnya’, atau terinspirasi dari ayat yang bermakna ‘Kami siksa mereka dengan api neraka hingga kulitnya mengelupas dan tidak merasakan sakit’, dan sebagainya.

“Demikian juga ilmuwan barat, tak sedikit dari mereka yang kemudian mampu meneliti fenomena sosial dan membuktikan sains di sekitarnya, dan belakangan masuk islam karena banyak sekali yang bersesuaian dengan kitab suci.

“Maka, seringkali kita melupakan yang ketiga, yakni amal. Tindakan nyata. Sudahkah dari meyakini yang melahirkan ilmu pengetahuan, atau mengetahui kemudian mempertebal iman, kita menunjukkan sebuah tindakan nyata di lapangan? Oh, belum tentu. Ternyata tak sedikit dari kita yang terjebak pada perbincangan dialektika ini. Energi habis tersita, waktu terkuras, kemudian lupa bertindak. Malahan dengan angkuhnya mengatakan bahwa pembahasan semacam ini termasuk tindakan nyata untuk mencerdaskan masyarakat. Ayolah Bung, dunia menanti kiprah kita. Sayangnya, seringkali kita terjebak.

“Jadi, jangan terjebak dalam sirkumstansialiti!” Saya mengakhiri perbincangan, lalu mengambil handuk dan bersiap mandi, meninggalkan mereka yang masih tercengang dengan kata-kata saya.

Wekekekek…

Wallahu alam bishawab .

Advertisements