“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Hari semakin sore, awan sudah bergelayut malas di atap langit. Awan itu seperti turun ke atmosfer terbawah karena beratnya, sehingga menjelang senja ini langit tampak lebih gelap daripada biasanya. Aroma basah memenuhi semua ruang di gang sempit kos-kosan kami, dan pekatnya uap air di udara sudah sangat cukup membuat kami yakin bahwa hujan akan segera turun.

Mungkin masih berkutat dengan rasa bersalahnya, kawan saya ini segera mengirim sms kepada ayahnya yang hanya berjarak dua-tiga meter di depannya, karena dia tahu bahwa danau di matanya akan tumpah ruah sekalipun dia berbasa-basi bilang terimakasih atau sekedar minta maaf kepada ayahnya.

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.” Singkat saja seperti itu. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada ayahnya seperti yang dia alami kemarin. Sudah cukup dia saja yang hampir kehilangan tangan kirinya, tapi untunglah cuma memar karena mendapat benturan keras di siku kiri… demikian nyeri jika digerakkan.

Dia tak dapat membayangkan jika menanggung nyeri lebih dari itu apabila sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya.

Hari akan hujan…

Sang ayah makin menjauh, masih canggung dengan stir motor yang oleng kesana kemari. Jika diluruskan dia berbelok ke kiri, jika di belokkan ke kanan dia lurus. Jika harus berbelok ke kanan, maka sang ayah terlebih dahulu memutar penuh pinggangnya yang pernah rematik itu sembilan puluh derajat.

Kawan saya tetap berjalan mengikuti dibelakang ayahandanya, dan hanya punggung itu yang dia lihat. Di punggung itulah terletak semua beban hidup dirinya, adiknya, ibunya—isteri dari ayahnya, dan seluruh warga di kampungnya. Bagaimana tidak. Berangkat pukul tujuh pagi, pulang pukul empat sore. Sampai di rumah mungkin masih ada pekerjaan kantor yang perlu diselesaikan. Atau ada surat bikin KTP, kartu keluarga, pendataan pemilih dari warga kampungnya yang butuh segera di-acc. Wajar, beliau bukan hanya kepala rumah tangga, juga mandor—atau apalah itu di tempat kerjanya, dan seorang kepala RT di kampungnya.

Sehingga, semenjak kawan saya berusia tujuh belas tahun, yakni usia yang kata orang so sweet seventeen, terasa getir baginya. Mereka punya sedikit waktu untuk bertemu dan bicara. Ibarat senar gitar, masing-masing harus memiliki jarak untuk mengerjakan tugas ayah dan anak sebagaimana mestinya. Jika senar itu bertemu, berimpitan, bersinggung, yang muncul kemudian adalah nada sumbang. Tidak ada pembicaraan yang menjadi debat pada akhirnya, untuk urusan remeh-temeh sekalipun (bahkan untuk memilih warna dasi!)

Hati-hati, Be…

‘Babe’ dalam kosakata orang Betawi dipakainya untuk memanggil sang ayah. Dia berharap dari hal sederhana ini bisa merekatkan kembali hubungan yang dulu pernah bermula manja. Dia sadar sang ayah tak pernah lagi memaksanya, termasuk untuk urusan menikah, karena dia tahu sang ayah sepenuhnya paham bahwa anaknya telah menginjak dewasa dan harus bertanggung jawab atas semua pilihan dalam hidupnya.

Namun itu berarti hubungan keduanya akan semakin merenggang. Ya, merenggang. Masing-masing harus mampu menyelesaikan urusannya, karena di masa-masa sekarang ini sang anak telah menapaki usia dewasa dan sang ayah sedang berada di puncak karirnya. Seorang laki-laki haruslah berpantang untuk mundur, karena di punggungnyalah semua tanggung jawab dibebankan.

Hanya punggung itu yang dia lihat ketika sang ayah mencapai bibir gang sempit ini. Langit mulai menyalakan guntur, gemuruh dimana-mana, dan akhirnya kawan saya angkat bicara. “Di jok ada jas hujan, Be…” Sang ayah hanya mengangguk.

Maka kawan saya harus puas menatapi punggung itu sampai tuntas, sebelum beliau benar-benar menstarter motornya dan beranjak pergi.

Di punggung itulah dulu dia pernah digendong, berlari-lari di halaman belakang rumah, dilempar-lempar bebas ke udara, sampai tangan kecilnya hampir mencakar langit!

Dia ingin mencakar langit lagi kali ini, mendekatkan telinga langit ke mulutnya seraya berbisik, sampaikan pesanku pada Tuhan untuk senantiasa melindungi ayahku. Beliau adalah calon penghuni surgaNya, dan akulah penjaminnya. Akulah jariyahnya.

Hari akan hujan…

Danau di mata kawan saya tak kunjung berkurang juga tak kunjung tumpah. Kepalanya tertunduk, tak kuasa menahan rasa bersalah yang mengiris-iris hatinya. Sekilas sebelum beranjak pulang wajah sang ayah tampak lelah, matanya penat, sisa-sisa berkubang dengan stressor saat di tempat kerja tadi. Maklum, begitu jam kerja selesai, sang ayah langsung meluncur kemari, ke kota sebelah.

Dan di antara kepenatan itu, sempat dia tangkap sekilat cahaya dalam mata ayahnya. Kemudian senyum tersembul dari dua sudut bibir beliau. Begitu singkat, tapi dia merasakan kesejukan luar biasa. Inilah yang kata ustad kampungnya disebut senyum bangga orang tua kepada anaknya. Baginya tak sulit memahami karena dia sedang menapaki tahap dewasa seperti ayahnya; bahwa rasa aman-nyaman seorang lelaki terdapat pada isterinya, dan rasa bangga terletak pada anak-anaknya. Dan dia telah mendapat senyum itu.

Hatinya menjerit ingin berteriak, agar dunia tahu bahwa dia mencintai ayahnya. Lebih tepatnya, dia baru saja mengerti bahwa dirinya mencintai laki-laki itu. Seburuk apapun prasangkanya terhadap ayahnya, dia baru sadar bahwa selama ini dia menyangkal bahwa bayang-bayang ayahnya selalu menjadi teladan baginya. Di lain pihak, begitu mudah kita merasa disakiti oleh seseorang yang kita cintai.

Kami berbalik ke dalam gang sempit ini, sambil beberapa gerimis mulai meluncur menyentuh tanah. Hanya gerimis. Tapi sudah cukup untuk menimbulkan nyeri di seluruh tubuhnya, lebih parah karena merasakan kekhawatiran yang terlalu berlebih.

Saya berjalan lebih dahulu daripadanya, meninggalkan dia agar punya banyak waktu untuk dirinya sendiri, mungkin menangis, berdoa, semoga belum terlambat mengungkapkan cinta kepada laki-laki dengan punggung luar biasa itu.

Hatinya bergemuruh, lebih keras daripada langit yang retak karena guntur.

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan…”

… .

Betapa banyak saya mendapati laki-laki luar biasa yang disebut sebagai ‘ayah’ itu.
Allahumaghfirlii, wa li waalidayya, warhamhuma, kama rabbayaanii saghiira.

Advertisements