curug gede, purwokerto, 21feb09 Dulu, teman saya pernah berkata, “Hidup itu menuju satu titik, yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk menuju satu titik itu.” (semoga saya tak salah ingat).

Ibarat sungai, kita adalah bahagian demi bahagian terkecil dari air sungai kehidupan. Bagaimanapun kita, semua menuju ke satu titik perhentian, yakni muara sungai, hilir, laut. Laut yang terhampar luas, tempat terakhir bagi molekul sungai, dimana kita akan mendapati perhitungan atas semua amalan kita di dunia, baik atau buruk, untuk surga atau neraka.

Kita adalah zarrah terkecil dari air sungai, bukan sebuah atom, melainkan sebuah molekul-molekul air, bukan semata-mata satu atom oksigen yang membawa dua atom hidrogen. Kita adalah sebuah kesatuan dari satu raga dan dua jiwa, yakni hati dan fitrah. Kita adalah sebuah kesatuan hidup, dan sebuah kesatuan hidup selalu memiliki kehendak bebas. Siapapun itu. Dimanapun, kapanpun. Kehendak bebas yang dibekali oleh Sang Maha Pencipta berupa cipta, rasa, dan karsa.

Untuk menuju satu titik itu, kita bisa menentukan apakah berada di tengah sungai, pinggir, di permukaan atau di kedalaman. Masing-masing punya kekuatan arus dan macam halangan yang berbeda-beda. Di pinggir yang dangkal, berbatu, kekuatan arus biasa saja. Di tengah demikian derasnya, bisa dipastikan siapapun yang berada di tengah akan sampai ke ridhoNya lebih cepat.

Layaknya air, siapapun di permukaan akan lebih mudah diuapkan oleh panas matahari, oleh angin, menjadi bentuk yang berbeda, serupa gas, meniadakan keberadaan raga dengan terlampau mengagungkan spiritualitas, kehilangan fitrahnya dengan merupakan dirinya sejenis dengan Pencipta. Di kedalaman yang pekat, dalam sinar yang remang-remang bahkan tidak ada, dunia demikian berbatu. Mungkin kau mendapati mutiara, bahkan harta terpendam, namun tak lain adalah kesenangan yang berlebihan, membutakan.

Bisa jadi, kita dilahirkan di lingkungan keluarga yang berada di pinggir, tengah, di permukaan atau di kedalaman. Di sinilah kehendak bebas memainkan perannya. Kita bisa memaknai sendiri, mencari makna, atau menerjemahkan makna-makna yang tersebar luas di dunia ini. Merangkai makna-makna itu menjadi satu untaian utuh, sebuah untaian jiwa-jiwa. Dari untaian itu, terdapat banyak sekali petunjuk tentang siapa diriNya, dimana keberadaaNya. Di sinilah peran sesungguhnya dari sebuah kehendak bebas, untuk mengarahkan hidup menuju keharibaanNya. Sekali lagi, karena hidup kita pada akhirnya akan menuju ke satu titik dalam lautNya.

Semoga kita tidak enggan berada di tengah yang mungkin berputar naik turun, tapi tak usahlah kita ke pinggir sungai. Kadang kita berada pada stamina spiritualitas yang mengagumkan, namun tak perlu sampai mengangkuhkan diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain. Demikian juga agar kita tak terlampau berada di kedalaman, sehingga tersesat, buta, kehilangan arah. Jika kita terlalu ke pinggir, maka banyak sekali jebakan-jebakan arus lain yang membawa kita entah ke sungai yang mana. Arah kita berbelok, dan sukar untuk kembali. Maka sebaiknyalah kita berada di tengah sungai, meski harus naik turun.

Demikianlah dinamika hidup. Seperti arus sungai, kadang melambat, kadang demikian cepat, dan berputar naik turun. Tak jarang yang berhadapan dengan begitu banyak bebatuan. Sakit, pasti. Dan tak ada pilihan kecuali tetap maju menuju ridhoNya.

… .

Advertisements