Postingan yang terlambat, semoga tidak terlalu terlambat untuk berbagi makna.
Selamat Hari Kartini 21 April 2009, dan Selamat Hari Lahir bunda saya 24 April 2009… 😉

DSC_0534

Saya segera mencium tangannya. Kalau bisa tidak akan saya lepas tangan itu, tidak akan saya lepas. Supaya jelas terasa bahwa kulitnya makin mengendur, tidak kencang lagi, dan keriput-keriput itu berjalan silang menyilang di keseluruhan punggung tangannya. Keriput adalah penanda, bahwa nantinya saya juga seperti ini, keriput, kulit serasa dekat sekali dengan tulang, penanda bahwa waktu kami tak lama berada di dunia. Karena bagaimana pun, bunda lah yang secara langsung mendidik saya hingga sampai seperti sekarang ini.

ra-kartiniTimbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan dahulu. Setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang emansipasi semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya. Sekarang dengan mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan di bawah bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yang malah ditentang oleh Kartini.

 

Apalah dikata, embun mata saya ikut membasahi pipi bunda, kanan dan kiri. Bunda tersenyum kecut. Mungkin menyadari bahwa pikiran saya sedang kacau, meracau, melayang-layang membayangkan bahwa tak lama lagi kami tak bisa bertemu. Selamanya. Hanya doa yang mempertautkan kami, dan bunda tidak segan untuk melafalkan doanya meski dalam bahasa pertiwi. Sejak kecil bunda tidak pernah belajar mengaji. Tidak pernah sekalipun orang tuanya memaksanya belajar mengaji. Sangat wajar bila beliau menyuruh saya untuk membiasakan membaca Alquran pagi dan sore, agar bibir saya terbiasa melafalkan nama Allah. Supaya saya termasuk golongan yang mampu menjadi investasi pahala bagi beliau, yakni anak saleh yang senantiasa memanjatkan doa untuknya.

“Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Alquran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku berbahasa Inggris, aku harus menghafal kata demi kata, tetapi tidak satu pun kata yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak mengerti sedikit pun. Aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran , belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan bahasa asing yang aku tidak mengerti apa artinya, dan jangan-jangan ustadz-ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya nanti aku akan mempelajari apa saja.  Aku berdosa. Kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti artinya."

Kini setiap sore, lamat-lamat terdengar lantunan bunda yang sedang mengaji. Semenjak setengah tahun sebelum berangkat haji, bunda berinisiatif mengundang guru ngaji datang ke rumah. Hampir setiap sore pula bunda belajar melafalkan ayat Alquran dengan benar. Rumah kami terletak di ujung belokan, jadi setiap orang yang melintas depan rumah kami pasti bisa mendengar bacaan bunda. Meski terbata-bata, tidak pernah bunda membaca kurang dari dua makhraj. Selalu lebih. Tidak pernah bunda menghabiskan kurang dari dua jam untuk membacanya! Sungguh, jika seseorang sudah mencintai apa yang dia kerjakan, maka pekerjaan itu makin terasa ringan. Dan sungguh, mencintai untuk membaca Alquran adalah sebuah pekerjaan yang sangat baik di sisi Allah.

Sampai pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama Raden Ayu yang lain dari balik hijab (tabir). Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat, ulama besar yang sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai Saleh Darat. “Kyai perkenankan saya menanyakan sesuatu. Bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya? Tertegun sang Kyai mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis. Kyai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yang diajukan Kartini karena sebelumnya pernah terlintas dalam pikirannya. (Dialog ini dicatat oleh Ny. Fadillah Bc. Hk Cucu Kyai Saleh Darat). Tergugahlah sang Kyai untuk menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kyai Saleh Darat memberikan kepadanya terjemahan Alquran juz pertama. Mulailah Kartini mempelajari Alquran. Tapi sayang sebelum terjemahan itu rampung, Kyai Saleh Darat berpulang ke rahmatullah.

Sudah menjadi rutinitas bunda bangun pukul tiga pagi, bersih diri, wudhu, lalu memasak air. Sembari menunggu air itu masak, bunda salat malam. Ketika subuh menjelang, bergegas bunda berangkat ke masjid, sambil menggores telapak kaki saya yang geli agar terbangun. Pagi mulai datang, bunda sudah menyiapkan bak mandi adik yang sudah dihangatkan tadi. Lalu menggoreng telur, menyuruh saya sarapan, dan memandikan adik. Setelah semua anak-anaknya siap, saya berangkat ke sekolah, dan adik dititipkan di dharma wanita dekat kantor bunda. Ya, bunda saya bekerja. Beliau adalah wanita karir. Sudah menjadi prinsipnya bahwa seorang wanita harus bekerja, bukan untuk bersaing dengan suaminya, namun untuk menjadikan sempurna fungsinya di masyarakat. Karena seorang wanita adalah sumber bagi kerapian di alam semesta. Jika mereka bermasalah, tentu alam semesta ini bermasalah pula. Sehingga, bagi bunda, bekerja bukan sekedar membantu perekonomian keluarga, namun mendidik kami, anak-anak beliau, untuk beroptimal diri dalam hidup. Secara rutin, selama dua tahun menggaji tempat penitipan itu, bunda mengunjungi adik tiap pukul sembilan pagi. Menemaninya bermain sejenak, kembali ke kantornya, lalu ke penitipan lagi pukul 12 untuk menidurkan adik. Pukul tiga sore, kami berada sudah di rumah.

Kartini: “Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya.” Berapa banyak dewasa ini jabatan dan kedudukan penting yang pada mulanya dipegang oleh kaum pria kini dipegang oleh kaum wanita? Berapa banyak pula jumlah pekerjaan yang dimasuki oleh kaum wanita sehingga banyak kaum pria yang harus kehilangan pekerjaannya? Seorang wanita sekalipun tidak bekerja maka ia tidak akan kehilangan nafkahnya, karena ia hidup dari tanggungan hidup suaminya. Tapi apa artinya jika seorang pria kehilangan pekerjaannya? Maka mulut yang ada dibelakangnya, yaitu mulut istri dan anak-anaknya akan tetap menganga menanti kehadirannya, mengharapkan sesuatu yang dibawanya. Apa jadinya negeri ini jika kaum prianya menganggur? Kalau bukan petaka, tentu paling tidak negeri ini menjadi "Lembah Amazone". Padahal wanita lebih diperlukan sebagai "sekolah" bagi anak-anaknya. Bukan sebagai kuda beban atau ayam-ayam pengais yang tertatih-tatih dan tersuruk-suruk menanggalkan pribadinya yang asli. Kendati mencita-citakan pendidikan tinggi bagi wanita negerinya, Kartini tidak pernah mengimpikan wanita-wanita sesudah generasinya menjadi bebas tanpa kendali atau merebut hak lelaki hingga mengingkari fitrahnya.

Bagi bunda, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Usia bukanlah halangan bagi seseorang untuk menimba ilmu. Meski dalam satu keluarga bacaan Alquran beliau yang paling terbata-bata, justru bunda lah yang pualing tinggi frekuensi mengajinya. Tidak pernah lepas dari magrib. Sesudah ashar menjelang magrib. Selepas subuh… Meskipun datang bulan, beliau tetap berusaha membacanya. Caranya, dengan sebelumnya menuliskan beberapa surat pendek yang ingin beliau hafal di selembar kertas, lalu ditempelkannya di tembok depan meja setrika, di muka kompor, dan di depan mesin jahit. Otomatis, kapan pun di mana pun, bunda masih bisa mengaji. Bagi bunda, tidak ada kata berhenti untuk melafalkan ayat-ayat suci itu.

“Sudah lewat masanya, tadinya saya mengira bhw masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yg paling baik tiada taranya, maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna..?? Dapatkah Ibu menyangkal bhw di balik hal yg indah dlm masyarakat Ibu terdapat banyak hal yg sama sekali tdk patut dinamakan peradaban??” (kepada Ny Abendanon, 27 October 1902)
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kpd rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi… bagi orang Islam, melepaskan kepercayaannya sendiri dan memeluk agama lain merupakan dosa yg sebesar-besarnya… pendek kata, boleh melakukan zending, tetapi janganlah mengkristenkan orang lain. Mungkinkah itu dilakukan?” (kepada E.C Abendanon, 31 january 1903)

Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukaan kata-kata yg amat menyentuh nuraninya; “Orang-orang yg beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (minadz dzulumaati ilaan nuur, “door duisternis toot licht” yang secara bebas diterjemahkan Armijn Pane sebagai: Habis Gelap Terbitlah Terang.) “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

… .

Sebuah kehormatan yang sangat besar bagi saya
bila apa yang saya tulis ini bisa menginspirasi semua
yang diempukan di dunia ini (yang diempukan = perempuan),
untuk maju dan berkembang. Sungguh, rumah ini
tak akan bercahaya jika perempuannya tidak berdaya.
Karena kalianlah perhiasan terbaik dari yang terbaik. 🙂

sumber tentang surat-surat kartini bisa didapat di:
sini, sini, dan sini. juga di sini.

Advertisements