Wedding rings for web#1#Saya sedang sentimen. Ya, sentimen sama apa yang disebut pernikahan. Bukan karena sentimen pada beberapa orang yang dengan gampangnya menjanjikan nikah kepada perempuan yang disukainya, atau karena nikmat menikah yang belum sampai pada saya, atau bahkan berita artis-artis yang gampang nikah-cerai. Tapi karena saya ditinggal nikah.

Bulan Juni kemarin saya dapat dua undangan nikah. Bulan Juli besok kabarnya ada dua, akan tiga. Mulai dari teman sekos yang relatif lebih muda namun dia berani nikah bulan kemarin. Lalu kawan dekat saya di SMP, SMA, dan kuliah, hampir semuanya menikah dalam rentang bulan Mei-Juli ini. Hhh…

Saya iri sama mereka. Menikah itu keputusan besar, lho. Sebuah keputusan yang tidak semua orang bisa melakukan. Termasuk saya. Pernah saya dikomentari, “Kok kesannya ngga pingin segera nikah gitu?” Pingin sih pingin, tapi… tidak ada tapi. Saya pun tidak bisa menemukan alasan kenapa saya sendiri terkesan menunda nikah. Soal orang tua saya yang menginginkan saya lulus dulu baru nikah, ah, bisa dilobi. Soal penghasilan, ah, bisa dicari. Toh, kalau proses saya benar, menikah bisa membuka pintu rejeki, seperti yang dijanjikanNya. Soal calon mertua yang cerewet bila saya belum punya penghasilan tetap dan belum lulus kuliah, ah, bisa dijawab dengan, “Meski saya belum berpenghasilan tetap, saya tetap berpenghasilan.” dan sebagainya. Soal hal-hal teknis non-teknis bisa diatur dan dilobi lah.

Ternyata yang paling sulit bagi saya, adalah melobi yang bersangkutan. Ckck… Tidak mungkin saya melobi calon mertua kalau dia sendiri belum siap. Percuma saya mengumbar slip gaji dan penghasilan bulanan kalau orang tua belum saya kenalkan kepada sang calon isteri. Sama saja bohong kalau saya berusaha mempertemukan dua keluarga jika kami sendiri tak tahu kapan siap menikah.

Sebenarnya bukan soal siap tidak siap. Tapi merasa penting atau tidak untuk bersegera menikah. Jika saya merasa bahwa menikah itu tidak penting saat ini, maka saya tidak akan bersegera untuk menikah. Jika saya berpikir bahwa mnikah bukanlah sesuatu yang prioritas untuk saat ini, maka saya tidak akan pernah merasa siap sampai kapan pun. Bukan karena usia saya yang –kata tetangga saya–masih terlalu muda *narsis lu, fid*. Bukan pula saya yang masih merasa miskin dan tak punya apa-apa. Justru Allah pasti memudahkan rejeki saya jika saya menikah untuk โ€™menghasilkanโ€™ generasi penerus yang terus menegakkan kalimatNya.

Jadi, apakah saya siap? Emm… aduuh… pertanyaan ini pun tidak bisa saya jawab. Saya tidak pula mau disebut tidak siap. Kalau orang bertanya, apakah saya tidak siap? Oh, tentu tidak, insya Allah saya siap. Jika orang bertanya, apakah saya siap? Emm… *sigh*

Siap tidak siap, saya merasa bahwa menikah itu penting, dan urusan pernikahan bukanlah suatu urusan yang bisa ditunda. Kalau soal kebelet buang air besar, bisa saya tunda. Soal kebelet nikah, tidak bisa saya tunda. *kok nikah dibandingkan dengan BAB/BAK, fid??* Godaan seorang bujang tuh besar, lho. Terlampau besar. Baik itu godaan terhadap lawan jenis, maupun godaan terhadap harta, bahkan karir. Itulah kenapa seorang yang menikah dikatakan menyempurnakan separuh agama. Karena punya rem berupa keluarga. Dan idealnya, rem ini dipakai, lho, bukan dipajang di status KTP aja!

Saya bisa mengatakan kalau orang tua saya menebarkan godaan karir pada saya. Menyuruh saya lulus, meski dalam beberapa hal, logika tersebut benar. Jika kelulusan dijadikan alasan untuk menunda nikah, itu yang saya tidak setuju.

Saya menunda nikah karena belum melihat seseorang yang bisa melihat bahwa menikah adalah urusan yang disegerakan. Menikah bukanlah tujuan, menikah adalah sarana. Disana dianugerahkanNya kenikmatan yang sangat banyak, dihalalkanNya apa-apa yang sebelumnya haram diantara keduanya, dan yang lebih penting, ada unsur pendidikan untuk mencetak generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumya. Sehingga dari sini, memperbaiki suatu negara bisa dimulai dari memperbaiki diri sendiri dan keluarga.

Ketika saya bisa melihat ada yang bisa melihat bahwa segera menikah itu penting, maka saya bisa mengatakan bahwa: Saya siap menikahinya. Karena menikah adalah sarana untuk mendapatkan ridhoNya, untuk berinvestasi pahala lewat anak-anak yang saleh, dan untuk memperbaiki bangsa ini.

Semoga Allah memudahkan langkah kita. ๐Ÿ™‚

“Semoga Allah menghimpunkan yang terserak dari keduanya
memberkati mereka berdua
kiranya Allah meningkatkan derajat keturunan mereka
menjadi pembuka rahmat, sumber ilmu dan hikmah
serta pemberi rasa aman bagi umat”
(Doa Nabi Muhammad SAW pada hari pernihakan Puterinya Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)

Advertisements