bom marriottDari lubuk hati yang terdalam, kami menyampaikan duka sedalam-dalamnya kepada seluruh korban perang di muka bumi ini, baik di negara kami maupun di seluruh belahan bumi yang lain. Kami selalu berdoa supaya semua dosanya diampuni, diterima seluruh amal kebaikannya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Semoga keluarga dan sanak saudara yang ditinggalkan diberi ketabahan untuk mengenang mereka dalam doanya, dan dibekali semangat untuk mempromosikan bahwa perang sesama saudara hanyalah menambah luka di hadapanNya.

Saya hampir tidak percaya bom. Peristiwa terakhir di JW Marriott dan Ritz Carlton hanyalah menambah daftar panjang rasa ketidakpercayaan saya. Saya tahu pemboman itu terjadi, saya melihat rekamannya, membaca dan menyimak beritanya, membandingkan jumlah korban dengan peristiwa serupa di tempat lain, dan saya masih tetap tak percaya. Saya tidak percaya bahwa hal itu betul-betul terjadi.

Saya tidak respek samasekali untuk berita pengepungan dan penyergapan gembong teroris kemarin. Sementara keluarga saya menonton live beritanya di salah satu stasiun televisi, dalam hati saya masih bertanya-tanya, benarkah apa yang saya lihat? Apakah ini betul penyergapan? Atau sebuah skenario untuk menutup kasus? Saya tidak tahu.

Terus terang dari awal pun, bom bali dan bom-bom lainnya, saya menduga-duga. Apakah sebuah peristiwa yang sengaja dibikin untuk mengalihkan perhatian publik terhadap suatu masalah tertentu yang lebih menyangkut hajat hidup orang banyak, atau untuk menuduh sekelompok tertentu, atau hanya karena persaingan bisnis mengingat yang jadi sasaran adalah tempat-tempat yang cukup elit? Atau karena tag line negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, sehingga perlu mencari musuh bersama supaya semuanya bersatu? Jika demikian halnya, maka para pelakunya sudah terlampau biadab untuk mencemarkan semangat persatuan bangsa ini.

Betulkah peristiwa itu terjadi? Ataukah skenario?

Kalau iya, adalah sebuah skenario yang jahat. Jahat sekali.

Advertisements