kevin-daniel-howling-wolves

Asas praduga tak bersalah ternyata tidak berlaku di masyarakat.

Dunia semakin gila. Entah bagaimana yang terjadi di luar sana, yang jelas ini betul-betul terjadi di negara kita. Apakah skenarionya berhasil?

Saya termasuk orang yang jarang melihat tipi. Selain di kosan tidak ada tipi untuk berita-berita, berangkat pagi pulang petang sering membuat saya tidak menempatkan menonton berita sebagai prioritas utama. Namun sekalinya melihat berita di tipi, yang diberitakan selalu saja teroris. Penggerebekan, penangkapan, dan penculikan orang-orang yang dicurigai sebagai kaki tangan teroris.

Sayangnya, berita itu seringkali memuat opini berikut:
1. “Dia adalah guru mengaji. Dia sering mengumpulkan anak-anak seusia sekolah dasar di kampung untuk diajari mengaji. Dia juga sering mengadakan pengajian yang melibatkan pemuda-pemuda di kampungnya setiap seminggu sekali. Menurut warga, beberapa orang bergamis sering mengunjungi kontrakannya yang termasuk tertutup bagi tetangga di sekitarnya.”

2. “Lima warga negara Filipina diciduk di sebuah musala karena dicurigai sebagai kaki tangan teroris. Menurut laporan warga, kelima orang itu sering mengadakan pengajian di musala ini. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, bahasa Arab, dan sesekali bahasa yang tidak dimengerti warga. Mereka sendiri menyebut musala ini sebagai markas mereka.”

3. “Bagaimana pendapat Bapak tentang penggerebekan Noordin M. Top ini, apakah kita sudah bisa bernapas lega?” “Saya patut mengucapkan selamat dan terimakasih kepada para polisi dan petugas yang telah bekerja keras, tapi kita belum bisa bernapas lega.” “Kenapa, Pak?” “Ya, bisa kita lihat di sekitar kita orang-orang yang bergaris keras itu bagaimana.” “Apakah mereka mengganggu, Pak?” “Ya, tidak. Tapi kan kita perlu hati-hati.”

…dan seterusnya lah…

Inilah yang saya khawatirkan pasca peristiwa ledakan itu. Bahkan sudut pandang warga pun sudah terpola bahwa mereka yang berpakaian gamis, sering mengadakan pengajian, punya tanda sujud di dahinya, berjenggot… adalah mereka yang patut dicurigai. Saya tidak ingin mengatakan masyarakat kita bodoh dan membeo, tapi memang skenario sederhana itu sanggup mempola mereka, sehingga punya semacam alarm untuk mengucilkan orang-orang dengan ciri tertentu. Rupanya di masyarakat mudah sekali berkembang presumption of guilt. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh para pembuat skenario itu.

Skenarionya berhasil? Benarkah?

Saya pun tidak punya pengetahuan apa-apa, apakah itu betul skenario atau bukan. Yang jelas itulah yang terjadi di negara kita.

Advertisements