cute eyesDalam sepersekian detik, mata setiap orang terhubung dengan hatinya. Apa pun yang dilihatnya diubahnya menjadi sinyal-sinyal, disampaikannya ke hati, untuk diberi makna atas apa yang dia mengerti. Demikian sebaliknya; prasangka apapun yang dirasa dalam hati, suka, duka, gembira, gundah gulana, dikembalikannya sebagai sinyal-sinyal lembut, sehingga menggerakkan jalinan otot wajah dalam kombinasi yang kompleks, dalam ritme yang teratur. Perubahan sedikit saja pada suasana hati, mampu mengubah kompleksitas susunan otot wajah yang demikian halus, menghasilkan sebuah ekspresi yang bisa dipelajari. Inilah bukti keberadaan hidup. Inilah yang memberikan warna dalam kehidupan: mata hati.

Saya pernah mencoba sekali bermain-main dengan mata. Saya memintanya duduk dihadapan saya, lalu saya bercerita panjang lebar tentang kampus dan perkuliahan. Pada saat yang tepat, saya utarakan bahwa saya menaruh rasa padanya. Tanpa puisi, tanpa lagu, tanpa bahasa romantis apapun. Apalagi rayuan cengeng. Semuanya dikemas dalam suasana yang kaku, seperti angin yang berdenting saat menabrak kaca jendela. Bergeming.

Dan jawabannya tak diduga: dia menatap saya balik, tidak surprised, tidak ada rasa heran, dan tak ada dramatisasi rasa kaget sampai menahan napas beberapa hitungan. Yang ada hanya senyum simpul. “Kamu seperti open book, Mas,” katanya.

Saya berulangkali menghitung gerakan-gerakan tipis bola matanya. Tidak bergerak sama sekali. Tapi pasti ada, rasa kaget dan surprised itu pasti ada. Kalau tidak ada, berarti saya lah yang kalah. Membocorkan begitu saja semua rahasia hati, sampai bisa terbaca keluar. Dia menatap saya balik, tegas sekali pandangan matanya. Cih, justru saya yang dibaca!

Kesimpulan saya begitu sederhana: begitu rasa itu membuncah, ditutupi bagaimanapun akan menyeruak keluar. Rasa apapun. Menutupinya ibarat kita kalah sebelum berperang. Saya dan Anda tidak akan bisa menutupinya, yang ada hanya berlatih mengaturnya keluar, agar tidak tampak bodoh saat rasa itu meledak-ledak. Karena hati dan mata kita selalu terhubung dalam sepersekian detik.

Saya suka sekali membaca seseorang dari matanya, dan saya terlampau gemar menatap mata seseorang. Bukan apa-apa, semacam kebiasaan untuk melihat thin slicing–sebuah cuplikan tipis, seperti yang dikatakan Malcolm Galdwell dalam “Blink”–seberapa besar kesungguhan seseorang saat berkata-kata, seberapa dalam pemahamannya atas apa yang dikatakannya, dan seberapa dalam dia menaruh perhatian atas perkataannya. *Namun kebiasaan ini mendadak berkurang (meski masih ada) ketika teman saya mengingatkan untuk ghadul bashar–menjaga pandangan!*

Setiap orang seperti open book, hanya berbeda-beda soal bahasa pengantarnya. Beberapa orang memiliki bahasa pengantar yang terlalu bertele-tele sehingga kepribadian sebenarnya susah untuk diakses, beberapa orang justru bahkan tidak memilikinya sama sekali, sehingga langsung pada diri yang sebenarnya!

Yang penting, membaca mata seseorang adalah untuk memahami dirinya sebagai sesosok yang utuh, tidak parsial, tidak terpecah-pecah. Meski ada beberapa bagian yang tidak disukai, dia tetaplah manusia yang punya banyak sisi dan potensi. Memahami seseorang membutuhkan dua hal: kesediaan untuk memahami, dan selanjutnya, kesediaan untuk melayani. Memahami saja tanpa melayani tidak lah cukup, malah kita yang membaca mata dengan sebelah mata. Seperti yang dikatakan Mario Teguh, bagaimana cara terbaik untuk memahami seseorang? Adalah dengan mencintainya.

Dan saya belajar banyak soal membaca mata ini dari murid-murid dan pasien-pasien saya.

Tentu juga dari dia yang saya cintai.

Advertisements