Echoes_of_Summer_by_P0RG_editAda pertemuan, ada perpisahan. Siapa pun di dunia ini, suatu saat akan mengalami perpisahan dengan siapapun-apapun yang dia harapkan bertemu. Baik itu disengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, suka atau tak suka, perpisahan itu akan selalu membuntuti setiap pertemuan. Siapa yang berharap bertemu, hendaknya dia siap berpisah. Begitulah hidup, segala sesuatunya diciptakanNya berpasang-pasangan.

Saya bukan orang yang lemah. Lebih tepatnya, saya bukan orang yang dengan gampangnya menunjukkan bahwa saya lemah. Dalam hati boleh merasakan perasaan yang sedih, duka, gundah gulana, namun luarnya harus tetap tegar dan kokoh. Sampai perut ini terasa teraduk-aduk pun, napas saya harus teratur, dada dibusungkan, punggung ditegakkan, suara harus tetap meyakinkan, dan pandangan mata harus lurus ke depan.

Bodoh, ya?

Tidak bisa saya pungkiri, saya ini termasuk orang yang telat-sadar. Maksudnya, baru nyadar sesuatu itu penting dalam genggaman setelah sesuatu itu mulai pergi. Perlahan tapi pasti, perasaan aneh mulai menyelimuti hati saya. Kalau sudah begitu, buru-buru saya mencari-cari alasan kenapa sesuatu itu harus pergi. Kalau saya tidak bisa mencegah kepergiannya, maka saya cukup menggunakan alasan yang saya buat-buat itu untuk menenangkan hati. Dan perasaan aneh itu perlahan-lahan pudar, karenanya saya bisa membusungkan dada seperti tadi.

Saya bukan tipe orang yang suka mendramatisir perpisahan: harus meneteskan air-mata-sebanyak-dua-galon, menghabiskan bermalam-malam untuk menunggui dia kembali, meratap-ratap di dinding kamar sambil melempari cicak dengan sumpah serapah (Kenapa cicak? Karena kamar saya banyak nyamuk :P). Kucing yang lewat pun jadi korban tendangan-tanpa-alasan. Ya, ya… maksud saya, mendramatisir perpisahan itu, lebay saat berpisah.

Siapa sih yang tidak sedih? Siapa sih yang tidak merasa kehilangan? Justru aneh bin ajaib kalau seseorang tidak merasa kehilangan. Itu artinya dia tidak betul-betul memiliki. Lain kata, dia tidak betul-betul mencintai. Bahkan, dia tidak menyadari keberadaannya di sana.

Now what? Trus sekarang ngapain? Perpisahan tidak bisa dicegah, hari-hari tidak bisa ditunda, jam pasir sudah dibalik (kok jam pasir sih, Fid? Ya dibalik lagi, po’o..). Kita bukan Hiro Nakamura dalam serial Heroes yang dapat mundur ke masa tertentu. Saya dan kamu, siapapun, tidak dapat kembali lagi ke waktu-waktu di saat kita bersama, di waktu yang kita mau. Takdir sudah dalam suratan, dan surat itu sudah dikirim ke alamat garis hidupmu.

Now what? Life is going on. Everything’s moving forward. There’s no taking back. Saya menatap langit dan berujar, "Ya Allah, sekarang enaknya ngapain?" Tiba-tiba awan di langit bergerak, satu demi satu bersinggungan, berderak-derak, dan membentuk tulisan, "Keep movin forward, Bro…" *nah, lebay juga akhirnya, kan?*

Ya, ya. Moving forward. Itu yang saya lakukan. Emm, itu yang harus saya lakukan.

Fase akut itu pasti ada, saat hati masih berkecamuk, masih bergemuruh dengan rasa sedih tadi, masih ngga karu-karuan. Dan tidak ada alasan bagi saya untuk jatuh dalam fase kronis, dimana perasaan sedih itu masih bercokol, hati yang senantiasa gundah gulana, yang bermanifestasi serupa amarah-tak-terkendali, ya akhirnya itu tadi, kucing lewat kena tendangan-tanpa-alasan. Xixixi…

Saya cukup menyibukkan diri, ngurusin ini itu, pergi ke sana pergi ke sini, semuanya harus punya manfaat buat saya dan orang-orang di sekitar saya. Untungnya profesi sekarang menuntut saya lebih prima dalam melayani banyak orang! Hahaha… jadi saya menatap langit lagi dan berujar, "Ya Allah, bisa tidak saya berbagi pahala buat dia yang ada di sana?" Saya berharap jawaban itu adalah ’ya’. Kalaupun tidak, saya bisa bilang, "Nah, Ya Allah, pahala saya sudah banyak, belum? Kalau boleh, saya minta doa saya dikabulkan, ya: Bikin dia yang ada di sana terinspirasi melakukan hal-hal bermanfaat buat dia dan sekitarnya juga, ya."

Sehingga perasaan aneh itu bisa memudar dengan bantuanNya. Yang paling hebat, rasa kangen yang berkecamuk itu tergantikan, dan muncul kembali sebagai perasaan yang positif.

… .

Sebuah catatan ketika saya bersama enam rekan yang lain, mulai hari ini, ditugaskan di Puskesmas Mojoagung, Jombang,
Selama tiga-empat minggu ke depan kami bekerja sebagai dokter puskesmas. Apakah saya berlebaran di sana? Dunno.
๐Ÿ™‚

Advertisements