Puskesmas Idaman Puskesmas MojoagungYa, ya. Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Diukur dengan odometer di Jazz teman saya keluaran tahun 2002, dari titik kami berangkat di kampus sampai Puskesmas Mojoagung, kurang lebih 68.1 kilometer. Itu sudah termasuk putar balik yang memakan 1-2 kilo saat kami kebablasan, dan cari putar balik ke puskesmas…duh, minta ampun sulitnya. Belum lagi bis-bis dan truk-truk yang melaju kencang-kencang seenak udelnya. *bis punya udel?*

Menurut cerita rekan-rekan yang sudah lebih dulu ke sana, Puskesmas Mojoagung itu sudah maju. Dan kami tidak mengira bakal semaju ini. Pelayanan di sana sudah disiapkan untuk fingerprint-proof. Baik perawat maupun dokternya, dengan satu sentuh jari mengisi presensi, sekaligus layar monitor menampilkan profil dokter atau perawat yang langsung terhubung dengan arsip pasiennya. Komputer akan menunjukkan status pasiennya pada saat itu. Kemudian dokter melakukan visite untuk melihat kondisi pasien yang sebenarnya.

Puskesmas ini sudah cukup beradaptasi dengan kondisinya di pinggir jalan raya. Tentunya, unit gawat daruratnya dilengkapi peralatan pertolongan pertama untuk korban kecelakaan lalu lintas. Bukan cuma ambulatoir bag, peralatan bebat bidai, dan intubasi jalan napas. Juga ada elektrokardiograf, suction, dan obat-obatan emergensi kalau-kalau korbannya mengalami henti napas atau henti jantung. Minimal kami bisa melakukan stabilisasi tahap peratama saat pasien perlu segera dirujuk.

Kami pun tak pernah mengira kalau pelayanan puskesmas ini begitu lengkap. Kesehatan ibu dan anak? Ada. Kesehatan bayi dan orang tua? Ada. Poli umum dan gigi? Ada. Poli akupuntur dan pengobatan tradisional komplementer? Ada. Rawat inap untuk ibu-ibu negeri ini yang baru saja melahirkan generasi penerus? Ada. Bahkan sekarang ini pelayanan ibu hamil, menyusui, kesejahteraan anak, dan konsultasi gizi sepertinya menjadi prioritas utama, seperti yang dikatakan pembimbing kami di Dinkes Jombang.

Siapa yang menyangka kalau sebuah bangunan yang disebut โ€™puskesmasโ€™ itu sudah ada jaringan internetnya? Wow! Inilah yang bikin kami excited. Jadi kami seharusnya tak perlu terlalu susah untuk mencari tambahan bahan jikalau sudah mulai masa penelitian nanti. Setidaknya itu yang direncanakan Dinkes Jombang untuk mereka. Online service semacam ini masih kontroversi. Karena pengarsipan rekam medik tetap harus ada yang tertulis, supaya pertanggungjawabannya jelas, dan tidak mudah dipecundangi oleh komputerisasi yang makin gampang aja di jaman sekarang.

Sip, kesan pertama yang bagus. Saya lebih suka menggambarkan keadaan disini seperti ini: roti tawar dan daun bayam dicampur dalam satu wadah, dicacah dengan pisau kecil-kecil, ditumbuk setengah halus, lalu ditebar begitu saja di atas nampan, dan dijemur panas-panas. Bisa membayangkan?

Remahan warna hijau, coklat, dan kuning kemerah-merahan itu tersebar, tidak berkelompok-kelompok, campur jadi satu. Seperti salad, tapi ini adalah gambaran sebuah kota. Eh, kecamatan, dink. Ibarat karpet warna hijau dibentangkan, lalu di sana-sini bermunculan bangunan kotak-kotak dari semen, kokoh dan permanen, sedikit renggang satu sama lain, lalu di sela-selanya disisipi bedeng-bedeng. Bambu dan triplek, kayu-kayu penyangga di tegakkan untuk sandaran papan yang kemudian ditulisi: jual jagung bakar, sedia soto ayam, tambal ban cubles, pangkalan ojek semua senang, nasi goreng cak kus, ayam-bebek-burung dara goreng pak man, soto dhok, bakso rudal sampai bakso nuklir pun ada.

Semen-semen kokoh tadi dihubungkan dengan jalan raya utama yang dulunya berlubang di mana-mana lalu ditambal dengan pasir panas, kerikil yang lebih banyak dari biasanya, dan direkatkan dengan aspal yang meleleh, sehingga bergelombang tidak karuan. Otomatis kami harus ekstra hati-hati saat mulai masuk perbatasan Mojokerto-Jombang. Selain jalan yang bergelombang itu, udel bis dan truk yang seringkali geli membuat mereka megal-megol seenaknya saat melaju, kehati-hatian kami lebih karena kami belum begitu mengenal daerah ini.

Tempat ini tidak bisa dikatakan tandus, toh ladang jagung ada di mana-mana. Tanah lapang yang diselipi pepohonan pun ada di antara bangunan-bangunan. Gundukan-gundukan tanah di dekat trotoar ditumbuhi bunga kelas Asteraceae liar kuning dan merah muda, dari genus Solidago yang tampak segar, menggoda lebah lokal Apis cerana berputar-putar di atasnya. Tapi rasanya begitu kering, sumuk, terang benderang bukan main, silau berkilat-kilat, panas menjilat-jilat. Matahari terlalu dekat, mungkin Jombang satu-satunya tempat di Jawa Timur yang terletak di punctum proximum garis edar bumi terhadap matahari (halah, ngga mungkin).

Hei, pernah merasakan kehilangan sesuatu yang penting, semacam henpon, dompet, atau cincin kawin, lalu menemukannya? *saya pun belum pernah kehilangan cincin kawin, lha wong belum pernah punya..* Seperti itulah yang dirasakan teman saya, Zaki, saat kami sampai di depan puskesmas. Perasaan leganya lebih karena dia telah menyetir selama dua-tiga jam perjalanan, melewatkan buka puasa di jalan, ditambah lagi omelan kami yang memprotes tindakan dia dan truk tadi saling salip-menyalip, balas-membalas seenak udel mereka. Jadi menemukan puskesmas seperti menemukan cincin kawin yang terselip dalam dompet, lalu dompet itu hilang, sementara dompet itu tidak bisa dimiskol pake henpon *halah halah*. Dia lega, tapi saya tidak.

Setumpuk tugas sudah membayang di depan kami. Saya tidak bisa berhenti berpikir, bahwa semua fasilitas yang demikian lengkap di puskesmas ini, membuat kami tidak punya alasan untuk memberi pelayanan yang setengah-setengah-dan-mengandalkan-formulir-merujuk-ke-RS-yang-lebih-maju-di-Jombang.

Saya bernapas dalam-dalam, menghirup semua udara malam yang bisa saya hirup, menyimpannya sebanyak dan sekuat yang saya bisa, sambil berharap hari-hari yang kami lalui di sini lebih terasa dingin dan menyejukkan seperti malam ini.

Hmm… Semoga cinta saya tumbuh di sini. Iโ€™m in love! Yeah, Mojoagung, I want it that way. Bismillah… .

๐Ÿ™‚

tim community medicine

Advertisements