Haduuh… Lama sekali ngga update, nih. Maap banget jadi jarang menyapa kawan-kawan blogger. Saya sudah bertekad, setelah menyelesaikan semua laporan penugasan saya satu bulan kemarin, akan saya posting semua tulisan tentang apa saja yang kami lakukan di Jombang. Beberapa foto berikut menceritakan tentang apa saja yang kami lakukan selama di Jombang tentang penanggulangan dan pencegahan gizi buruk dan gizi kurang di sana.

… .

Kalau Anda diminta memandirikan suatu desa sedangkan hanya diberikan waktu selama satu-dua minggu saja, apa yang kira-kira Anda lakukan?


image001
Baru datang njegreg, ngga tau harus ngapain...

Dari diskusi ke sana kemari, kami putuskan mengambil tema tentang gizi buruk. Dalam waktu kurang lebih dua minggu, harus terkumpul data untuk memutuskan tindakan penanganan selanjutnya. Kami hanya menyoroti tentang perilaku ibu terhadap pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MP-ASI), supaya intervensinya lebih mudah. Populasi penelitian kami ambil dari dusun Kedung Lumpang, besar sampel adalah 50% dari 34 ibu yang memiliki bayi usia 5-24 bulan.

image003
Diskusi dengan pembimbing yang jauh-jauh datang dari Surabaya. Akhirnya disetujui tema penelitian kami: gizi buruk! Yay! *ini teriakan aga-jijay-gimanaa-gituh*
image005
Brainstorming dengan kepala Puskesmas dr. Sriwulani Sumargo, Sp.Rad, M.Kes tentang profil dusun Kedung Lumpang dan contoh upaya puskesmas untuk gizi buruk di tempat lain.

Kami harus segera terjun ke lapangan untuk mencari data dengan membagi kuesioner untuk ibu-ibu di sana. Padahal kuesioner ini setengah jadi, lho. Kami harus melengkapinya dengan wawancara supaya data yang didapatkan lebih valid. Anda bisa bayangkan betapa tidak efisiennya kami saat ini. Hiks hiks…

DSC_2863.JPG
Shofi, head projector penelitian kami, in action. Sampai harus repot wawancara buat memastikan kuesionernya diisi dengan benar.
image009
ki-ka: Suriani, Dian, Shofi, bersama ibu bidan Kedung Lumpang Bu Umi, mencari rumah calon responden. U know, rumah penduduk di sana tidak bernomor! Hanya, "Itu, yang ada pohon mangga di depannya" atau, "Itu, yang pohon mangga gadungnya sedang berbuah," atau, "Itu, yang mangga goleknya sedang berbunga" Duh!
DSC_2874.JPG
Saat yang lainnya sibuk wawancara, orang satu ini dengan-tidak-tahu-dirinya memberikan wawancara plus-plus. Pake pijit-pijit anak orang pula.. *tapi dia yang paling banyak didatengin ibu-ibu buat konsultasi kuesioner, lhoo.. dasar bakat provokator*

Alhamdulillah tidak ada balita yang menderita gizi buruk maupun gizi kurang di sana. Hanya saja, perilaku ibu dalam memberikan ASI dan MP-ASI masih jauh dari yang diharapkan. Karenanya fokus kegiatan kami selanjutnya adalah melakukan intervensi terhadap perilaku ibu dalam memberikan ASI dan MP-ASI.

Setelah data terkumpul dan diolah, kami diskusikan bersama ibu bidan dan kader posyandu di dusun Kedung Lumpang. Bersyukur, alternatif solusi yang muncul justru berasal dari ide ibu-ibu kader sendiri. Sebagai tindak lanjut pencegahan gizi buruk di sana, akan dibentuk sebuah organisasi kader gizi yang beranggotakan para kader posyandu.

DSC_3673
Brainstorming dengan ibu-ibu untuk mencari akar permasalahan.

Solusi yang diambil ada dua macam, jangka pendek dan jangka panjang. Solusi jangka pendek disetujui untuk memberikan penyuluhan oleh kami dan demonstrasi pembuatan resep MODISCO (Modified Diet )sederhana sebagai makanan pendamping ASI oleh staf gizi Puskesmas Mojoagung. Solusi jangka panjang yakni melaksanakan program mandiri membudidayakan ayam sehat yang diawali oleh para ibu kader. Ayam-ayam tersebut nantinya dioptimalkan sebagai bahan MODISCO, juga diperjualbelikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Diharapkan daya beli masyarakat meningkat, sehingga pemenuhan kebutuhan gizinya juga meningkat.

Khusus untuk solusi jangka panjang, ditetapkan melalui Program Ayam Sehat Balita Bergizi (PASTI). Semua pihak harus terlibat dalam pelaksanannya. Sebagai inisiasi, ibu-ibu kader yang notabene masih baru dalam hal pembuatan rencana program dan proposal kegiatan harus mendapatkan pendampingan.

DSC_3643
Setelah Dian mempresentasikan hasil survey, kami brainstorming, lalu diskusi dengan ibu-ibu untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada. *tetep: jajanannya menggoda sekaliii*

Inilah yang menjadi kendala. Kami belum bisa menjanjikan bahwa nantinya akan ada dukungan baik dari pihak Puskesmas Mojoagung, perangkat desa, maupun fakultas kami. Usulan PASTI muncul ketika hari itu juga, praktis kami hanya berbagi tentang bagaimana urutan membuat rencana program. Kami berencana, untuk hasil yang optimal, pada hari penyuluhan nanti akan kami berikan contoh proposal kegiatan yang bisa digunakan untuk mengajukan sebuah rencana program.

Kami terinspirasi dari program Pisang Sehat yang pernah dicetuskan tim dokter muda sebelumnya di tempat lain. Yakni tiap keluarga menanam satu saja batang pohon pisang. Kenapa pisang? Ya, karena penduduk di sana sudah terbiasa. Pisang yang dihasilkan bisa diolah menjadi makanan tambahan untuk balita. Sementara itu, karena yang mengembangkan adalah Karang Tarunanya, maka mereka berhak mengambil satu saja daun pisang untuk dijual. Hasilnya digunakan untuk mendanai program Pisang Sehat. Tak dinyana, daun pisang yang dikumpulkan mencapai satu truk!

Bersyukur, setelah berbincang lebih dalam dengan Bu Mein dan Bu Farida, staf gizi Puskesmas Mojoagung, PASTI akan dimasukkan sebagai salah satu program Puskesmas Mojoagung untuk mencegah gizi buruk dan gizi kurang. Dari sini puskesmas mengambil peran aktifnya untuk memberdayakan masyarakat.

Senyampang seseorang yang sedang gila karena rindu, maka keputusan mengintegrasikan program PASTI menjadi salah satu program puskesmas, adalah pelepas dahaga kami atas kerinduan itu.

Pada hari yang telah ditentukan, kami bersama Perkumpulan Kader Gizi mengudang semua warga untuk berkumpul di rumah bu bidan.

DSC_4107
Pemaparan PASTI kepada ibu-ibu peserta penyuluhan.

Di akhir penyuluhan, kami mencobakan resep MODISCO yang dibuat oleh ibu kader gizi bersama Bu Mein selaku staf gizi puskesmas. Kami juga memberi beberapa rangkuman resep untuk dipelajari dan digetoktularkan ibu-ibu kader kepada warganya.

image019
Nyam! Modisco buat semua! *sumpah saya ikutan pengen waktu itu*
DSC_4161
Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara Pak Kades, Bu Mein, Dokter Muda, dan Kader Gizi.

Pada saat Pak Kades datang, penyuluhan kami pending di tengah untuk secara simbolis meresmikan PASTI. Peresmian ini diawali dengan sambutan kedua pihak dari tim dokter muda dan dari pihak desa. Dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding). Kami menyiapkan seekor ayam betina yang sengaja dibeli dari kantong kami sendiri sebagai simbolis dimulainya program ini. Ayam ini, yang kami beri nama “Chicko”, diserahterimakan Pak Kades kepada perwakilan ibu kader disaksikan tim dokter muda dan ibu-ibu warga. Dengan demikian PASTI dinyatakan dimulai.

image023
Nota Kesepahaman PASTI.

Kami titipkan contoh proposal PASTI kepada ibu akder gizi untuk dipelajari. Kami juga menyampaikan copy proposal kepada puskesmas, sehingga bisa direncanakan lebih lanjut bagaimana pelaksanaan dan pengawasannya di lapangan.

Tak hentinya kami bersyukur karena ibu-ibu kader menyanggupi untuk menginisiasi pemberdayaan ayam sehat untuk MODISCO atau PMT. Dari pihak puskesmas pun menyanggupi untuk menindaklanjuti proposal kegiatan yang diajukan sebagai salah satu program puskesmas. Yang luar biasa, kepala Puskesmas Mojoagung bersedia menjadikan PASTI sebagai salah satu program unggulan Jombang, yakni BERTABUR BINTANG, “Bersama Tanggulangi Gizi Buruk dengan Bayi Sehat yang Rutin Timbang” (singkatannya saya lupaa…).

DSC_4179
Serah terima Chicko, secara simbolis PASTI dimulai.

Sungguh kami berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari dr. Lani selaku Kepala Puskesmas, Bu Farida dan Bu Mein selaku Staf Gizi Puskesmas, Bu Umi selaku ibu bidan dusun Kedung Lumpang, ibu-ibu kader posyandu sekaligus kader gizi, dan semua warga Kedung Lumpang.

Semoga warga dusun Kedung Lumpang menjadi teladan bagi warga dusun yang lain, sehingga cakupan pemberdayaan masyarakat melalui program ini semakin luas. Semakin luas cakupannya, makin berat juga timbangan amal kita di sebelah kanan. Sehingga kita semua bisa bertemu kembali di surgaNya. Amiin.

***

Photos by: Zaki Nugraha , Z’ Photography

Dokter Muda bersama Kader Gizi dan bu Bidan tercintah
Selesai penyuluhan. (Ki-ka, atas: Aldrich K. Liemarto, Bu Umi, Bu Muchlisoh, Bu Jayanti, Suriani binti Sabdin. Tengah: Hafid Algristian, Shofi Rahmawati, Widhoretno Wirasari, Zaki Nugraha. Bawah: google five partners in crime bersama ibu asuh mereka, Dian Paramita.Hihi... Lots of fun there!)

Advertisements