biji kopi pilihan, samarkan bau diare

“Dia suka kopi…” ujarnya kali waktu, saat saya sedang follow up kondisi anaknya. “Kopi kental, gula banyak-banyak.” Saya membalas senyumnya. Sambil menaburkan kopi, sang ibu memijit-mijit kaki anaknya. “Bosnya sering mentraktir dia, Mas. Sampai subuh baru pulang ke rumah, dianter sama bosnya. Paginya kerja lagi sampai sore. Begitu terus hampir tiap hari.” Seluruh pinggang anaknya tertutup kopi. Mau bagaimana lagi, baunya begitu amis semerbak ke seluruh bangsal ini. Di sini memang sudah cukup lazim mengunakan kopi untuk menyamarkan bau amis diare pasien.

Dia baru datang kemarin sore. Diare yang diderita anaknya sudah sejak sebulan yang lalu. Diare terus menerus, sehari bisa tiga-empat kali. Diawali dengan rasa mulas, terasa kaku di perut, dan ada riwayat demam yang tidak terlalu tinggi (sumer-sumer) dan kumat-kumatan. Sebenarnya dikatakan diare jika mencret lebih dari sepuluh kali dalam sehari. Namun seringkali tidak sampai menunggu sepuluh kali, jika volumenya banyak, maka bisa saja muncul tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi inilah yang berbahaya. Haus, adalah tanda awal dehidrasi. Jika terdapat mata cowong, produksi kencing sudah menurun, dan kulit di dahi jika dicubit lama kembali, maka sudah masuk stadium waspada. Tak lama lagi biasanya orang itu akan jatuh dalam fase penurunan kesadaran, yakni mengigau, dan suka tidak nyambung jika diajak bicara, bahkan pingsan.

Matanya cekung, bibirnya pucat dan kering. Seluruh tubuhnya sangat kurus, seolah hanya berbalut kulit, kurus kering. Kecurigaan akan wasting syndrome muncul. Demam, meski tidak telalu tinggi, harus dicurigai sebagai tanda-tanda infeksi. Perut kaku, ditambah lagi bau amis pada mencretnya, khas karena infeksi bakteri Amoeba. Perut kaku juga bisa karena diare berkepanjangan. Namun, gabungan dari itu semua: wasting syndrome, demam, dan diare yang kumat-kumatan selama lebih dari satu bulan, adalah kecurigaan umum pada tanda-tanda HIV/AIDS.

Pikiran saya melambung. Gawat, nih. Sampai sekarang saya masih begitu paranoidnya sama pasien HIV/AIDS. Padahal sejawat saya seringkali mengingatkan, tidak ada gunanya panik sendiri. Karena mengurangi obyektivitas kita dalam membantu mereka. Lebih baik taati saja pedoman keselamatan umum-universal precaution, itu sudah sangat cukup. Sarung tangan karet-handschoen, sudah terpasang di kedua tangan saya. Masker… emm, tidak ada. Sebenarnya hal ini menyalahi standard pelayanan, hanya saja saya meniru semua senior yang jarang sekali memakai masker, supaya ‘tidak ada batas’ dengan pasien HIV/AIDS. Lagipula ini bukan bangsal perawatan intensif tempat kami merawat pasien HIV/AIDS, tapi ini bangsal penyakit tropik laki. Jadi belum tentu yang saya hadapi adalah pasien HIV/AIDS.

Saya cari tatonya. Dibantu sang ibu, saya membuka baju yang dia pakai, mencari adakah tato di dadanya, lengan, punggung, dimanapun. Tidak ada. Bekas tindik juga tidak ada. Bekas jarum suntik di kedua lengan, di pelipis, atau mungkin sayatan tipis yang berulang-ulang di pembuluh balik leher, juga tidak ada. Kemungkinan tertularnya tinggal satu, seks bebas.

Tentu saja ibunya tidak tahu menahu tentang kehidupan seks anaknya. Sambil menulis status pasien, saya menyimak beliau bercerita bagaimana perilaku anaknya. Lulus SMP langsung kerja. Dia termasuk karyawan yang cukup rajin di bengkel motor tempat dia bekerja. Si bos seringkali mempekerjakannya lebih daripada karyawan yang lain, karena memang dia punya kemampuan di atas rata-rata dibanding teman-temannya. “Tapi trus keluar, katanya ngga betah,” sambung ibunya. Padahal baru tiga bulan kerja, dan bosnya seringkali mentraktirnya makan, dibelikan rokok, dan diajak jalan-jalan. “Adiknya sering diberi uang saku ke sekolah,” sang ibu bercerita dengan bangga. “Sekarang, sudah tujuh tahun nganggur di rumah, bantu bengkel kecil-kecilan milik pamannya.”

“Pamannya tinggal di mana, Bu?”

“Di kota sebelah, di pondok pesantren, Mas. Memang permintaan dia sendiri ingin ikut pamannya di pesantren. Katanya mau menebus dosa.”

“Ibu menyadari ada sesuatu yang berubah darinya, akhir-akhir ini, terutama sebelum dia mencret?”

“Emm… apa, ya? Dia sering pilek. Dulu waktu masih kerja di bengkel, Mas. Sampai menggigil, keringetnya keluar banyak sampai basah kuyup. Kalau sudah begitu, dia bisa teriak-teriak sendiri di kamar.”

“Teriak-teriak, Bu?”

“Iya, saya ngga berani masuk. Lagipula pintunya dikunci. Dia membentak-bentak saya agar tidak masuk ke kamarnya. Tapi sejak ikut pamannya sudah ngga lagi. Tapi ya gitu, satu bulan ini mencret di sana.”

Saya diam, memandang ibunya lekat-lekat. Ada sesuatu yang ingin dikatakan sang ibu, hanya saja beliau ragu. Pada titik ini, saya bisa saja mendapatkan keterangan luar biasa yang bisa mengubah diagnosis pasien samasekali berbeda dengan sebelumnya. Ini yang seringkali disebut critical approach, saat pasien atau keluarganya tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Bisa jadi sesuatu itu memang meragukan dirinya antara penting-tidak penting, atau memang tabu untuk diceritakan. Bagaimanapun, saya berada di luar sistem pasien dan keluarganya, sehingga sedikit saja sikap saya tampak menginterograsi, maka hilang lah kesempatan emas itu.

Sang ibu harus diberi ruang untuk berpikir, merasa, sekaligus memberinya keleluasaan untuk menerima kenyataan. Saya tidak boleh tampak menggertak, namun tidak juga boleh bersikap terlalu longgar. Sebisa mungkin posisi duduk saya ini tetap seperti semula; karena jika saya mencondongkan badan ke depan, itu artinya menggertak, kalau bersandar, berarti terlalu longgar. Pada critical approach semacam ini, biasanya dokter muda seperti kami ini tidak sabaran. Terus saja mencecar ibu dengan pertanyaan-pertanyaan. Waktu kami terbatas, sementara status pasien harus segera dilengkapi untuk menegakkan diagnosis dan terapi. Karena terburu-buru, hilang lah kesempatan emas itu.

Sang ibu melihat ke bawah. Saya ragu apakah beliau sedang mengakses korteks memori perasaannya, yang berarti malu untuk bercerita. Sehingga perlu waktu mengumpulkan keberanian untuk bercerita kembali. “Ada yang mau ditanyakan, Bu?,” semoga pertanyaan ini memperlebar ruang untuk sang ibu.

“Apa ada hubungannya dengan pileknya ya, Mas?,” matanya mulai berkaca-kaca.

Saya tersenyum. “Mungkin ada, tapi masih dicari lagi, Bu. Yang jelas ibu tenang dulu, karena anaknya sudah dapat cairan tambahan dari infus. Itu sudah disetel kecepatannya, Bu. Mungkin sejam lagi habis. Kalau habis, ibu stop dulu, lalu cari saya atau perawatnya, ya.”

Withdrawal syndrome. Ya, sindrom lepas obat. Gejala yang diceritakan ibunya itu mirip seperti yang terjadi pada para junkies jika mereka sedang butuh ‘ngobat’. Pilek-rhinorea dan keringet keluar banyak-hiperhidrosis. Mengunci diri dalam kamar bisa karena fotofobia, cenderung tidak nyaman di cahaya siang hari, karena pupil matanya relatif membesar sebagai reaksi rebound obat-obatan sehingga terjadi efek simpatomimetik. Teriak-teriak, mungkin karena dia menahan sakit pada seluruh otot-mialgia dan persendiannya-atralgia.

Pertanyaannya sekarang, jika memang dia mengalami sindroma lepas obat, bagaimana caranya? Jarum suntik atau diminum-oral? Kalau jarum suntik, dimana kira-kira tempat suntikannya? Kalau oral, habis lah saya. Wawancaranya harus dipertajam lagi, sementara saya tidak punya waktu sebanyak itu.

Saya meninggalkan sang ibu di meja dokter dan meminta beliau menunggu, sementara saya kembali menemui anaknya. Semoga sang ibu bisa mengumpulkan keberanian untuk bercerita lebih jauh lagi. Busyet, bau sekali di sini. Kopinya sudah tidak mempan. “Mencret lagi, Mas?”

“Iya, Dok.” Dia menoleh. Saya cubit dahinya. Lama kulitnya tak kembali. Dehidrasinya masih berat. Saya menghitung kembali tetesan infusnya, sambil mendengarkan nafasnya lewat stetoskop. Tidak ada suara serak dari paru-parunya. “Sesak, Mas?” Dia menggeleng. Infus yang terlalu cepat bisa membahayakan pasien, alih-alih kebutuhan cairannya terpenuhi, air bisa menggenang di paru-parunya.

Sialan. Dia tidak ditempatkan di bed khusus pasien diare. Bangsal ini sudah overload, sehingga bed khusus diare tidak dia dapatkan. Bed khusus diare adalah bed yang berlubang tepat di belakang pantat pasien. Lubang itu terhubung dengan saluran ke arah lantai, langsung menuju ember yang mudah dibersihkan di sana. Pasien-pasien dengan diare seperti ini tidak perlu susah pergi ke kamar kecil hanya untuk buang air. Ini yang dengan seenaknya kami sebut one-stop docking.

Dia hanya berbalut pampers, pantas saja bau mencretnya ke mana-mana. Saat seperti ini membuat saya menyesal kenapa tadi tidak pakai masker. “Permisi ya, Mas.” Saya melihat ke lipatan pahanya, mencari-cari apakah ada bekas jarum suntik di sana. Tonjolan-tonjolan pemburuh darah balik di belakang lutut, di sekitar mata dan punggung kaki, tidak ada. Dari beberapa pasien sebelumnya, bukanlah bekas jarum suntik yang kami temukan, tetapi sayatan-sayatan tipis. Saya hampir putus asa, tidak ada bekas jarum suntik maupun sayatan di pasien ini.

“Mas, maap sebelumnya,” saya menyentuh bahunya, menatap ke dalam matanya. Saya coba dapatkan empati untuknya. “Pernah njajan?” Dia diam saja.

“Mas,” bahu saya ditepuk dari belakang. “Anak saya idiot,” kata ibunya berbisik sambil menahan tangis.

“Maksudnya, Bu?,” saya mengajak sang ibu kembali ke meja dokter.

“Anak saya itu sekolah SLB, sampai usia SMP. Dia ngga bisa apa-apa, tapi pinter reparasi mesin motor. Makanya bosnya suka sama dia.”

Sedetik, dua detik. Lima detik. Dua belas detik sang ibu tidak melanjutkan kalimatnya, “Ngga betah kerja bengkel kenapa, Bu?”

“Ngga tahu, saya. Padahal bosnya baik.”

“Maap, apa anaknya pernah kenal sama seseorang lalu berhubungan badan, Bu?”

Sang ibu menggeleng.

“Mungkin pernah pakai obat-obatan, narkoba suntik misalnya?”

“Anak saya idiot, Mas.”

Saya dengan sukses membentur deadlock.

***

“Kamu dapet apa?”

“Pasienmu yang kamu terima malam kemarin. Kecurigaan HIV/AIDS.”

“Ngawur. Kok bisa?”

“Riwayat demam tanpa sebab-fever of unknown origin (FUO) dan diare kronik selama satu bulan. Juga wasting syndrome.”

“Pasangan koitus yang dicurigai-coitus suspectus?”

“Tidak didapatkan riwayat seks, kehidupan seks tidak tergali. Riwayat pemakaian narkoba jarum suntik-intravenous drug user (IDU) juga tidak didapatkan. Tujuh tahun yang lalu, saat masih kerja di bengkel, ada kecurigaan withdrawal syndrome. Sekarang pemeriksaan fisik bersih, tidak ada tato, tindik, bekas jarum suntik maupun sayatan. Lha, kamu yang menerima pasien ini waktu di IRD (Instalasi Rawat Darurat) bagaimana?”

“Pasien ini baru pertama kali datang. Sama, tidak ada faktor resiko HIV/AIDS yang mendukung. Rapid test negatif. Apa harus menunggu sepuluh tahun dulu baru bisa positif?”

“Mungkin saja. Teorinya memang seperti itu. Tapi tergantung daya tahan tubuh pasiennya juga. Hari ini direncanakan tes tiga metode.”

“Riwayat sosial, menurut ibunya dia berkebutuhan khusus.”

“Iya, SLB sampai usia SMP. Tapi pinter reparasi mesin motor. Indigo? Tujuh tahun lalu bekerja di bengkel, bosnya suka sama dia. Tapi kerja tiga bulan saja lalu keluar karena tidak betah.”

Mendadak udara di bangsal ini menjadi dingin. Kami duduk bersebelahan sama-sama diam. Pandangan kami mengarah ke bed si pasien di balik kaca yang membatasi meja dokter dengan bangsal. Perlahan-lahan, bayangan kami yang memantul semakin jelas di kaca. Telapak tangan kami berkeringat gugup, udara dingin yang kami hirup menyebar ke seluruh sendi. Pupil kami melebar, tidak lagi memandang pasien, karena kami bisa melihat bayangan masing-masing di kaca. Kami melongo, lalu saling memandang.

Coitus suspectus?”

“Iya. Bandar juga, ya? Mungkin saja.”

“Di mana dia tinggal?”

“Hm… di sini di slum area. Tempat pamannya di kota sebelah, kurang tau juga kayak gimana.”

Kegirangan, kami berlari kembali menemui ibu pasien, lalu mohon ijin untuk mengajak beliau berbincang di meja dokter. “Apa kabar, Bu?”

“Baik, Mas.”

“Bagaimana tidurnya semalam?”

“Ngga bisa tidur, Mas. Sungkan sama tetangga kanan-kirinya. Anak saya mencret terus.”

Kami tersenyum, lalu mohon ijin kepada sang ibu untuk memeriksa anaknya lebih lanjut. Kami memastikan tak ada satupun dari penjelasan kami yang terlewat. Sang ibu pun menyetujui.

Segera kami memindah pasien pada ruang pemeriksaan khusus. Ini sebenarnya hanya ruang kosong yang dimanfaatkan untuk pemeriksaan laboratorium dasar yang dilakukan secara manual. Lebih tepatnya, tempat kami para dokter muda ujian akhir putaran. Kami menyertakan sang ibu untuk menemani pemeriksaan. Kami mohon ijin kepada pasien, berusaha menjelaskan maksud pemeriksaan ini, sementara sang ibu menenangkannya. Bertiga kami susah payah melepas pampers pasien. Mulai tidak nyaman, pasien mengerang, lalu menendang-nendangkan kakinya. Kami mundur.

Seperti meninabobokkan bayi, sang ibu mengelus-elus kepala anaknya supaya tenang. Dia terus meronta-ronta. Untungnya ruang ujian ini begitu tertutup, sehingga kami tidak perlu sungkan pada pasien lainnya.

“Mas, pegangi saja, Mas,” tidak tega, sang ibu berkaca-kaca menatap kami.

Sementara sang ibu memegang kakinya dan teman saya mengunci tangannya, saya mencoba melepas pampers yang penuh kopi ini. Kopi terbang ke mana-mana, menempel pada jas putih saya. Sambil susah payah, akhirnya pampers itu lepas juga. Begitu pampers terlepas, si pasien berteriak panjang, melolong nyaring, seolah kesakitan seperti sesuatu yang telah melekat lama, ditarik lepas begitu saja menjauh dari tubuhnya. Suaranya membentur-bentur dinding ruang sempit ini, menjalar ke atas dan menabrak atap yang tinggi, lalu turun kepada kami seperti hujan gema.

Kami menemukan sayatan tipis pada punggung penisnya, dan dubur berbentuk kembang kol yang telah lama mengering. Di hadapan kami berbaring seorang drug user dan korban sexual abuse.

Sang ibu menangis menjauh dari bed anaknya, membuat tabir antara dirinya dan kenyataan di depannya, seperti yang dilakukannya sejak tujuh tahun lalu.

Kopi tak lagi mampu menyamarkan bau diare yang begitu amis.

***

NB: cerita di atas hanyalah fiktif belaka, dimaksudkan untuk menyampaikan ilmu sehingga mudah dicerna.
gambar diambil dari euringus.com

Advertisements