img9

Mungkin kita bukan berada di Turki, sebuah negara bekas pusat kekhalifahan yang memiliki seribu masjid. Kita juga tidak berada di Kazakhtan, dimana pada abad 15 dibangunlah seribu masjid untuk melayani umat di sana. Bukan pula kita berada di Iran, yang mengklaim memiliki 72.000 masjid untuk melayani penganut agama ini dengan berbagai macam mazhab dan aliran. Tapi kita berada di Indonesia, negara berjuluk zamrud khatulistiwa dengan jumlah muslim terbanyak di dunia.

Seorang kawan bercerita setelah seharian penuh menempuh perjalanan ke Malang. Kelelahan, dia berhenti di sebuah musala kecil tak terurus. Tempat wudhunya tak terurus, karpetnya berdebu tak terurus, dan hampir ia putus asa karena kamar kecilnya kering kerontang. Beruntung kran di sana menyala. Istinja’, lalu dia teruskan mengambil wudhu.

Dia pernah mengalami kondisi lebih buruk daripada ini: menjadi relawan di Padang, dan ia sengajakan salat di masjid yang setengah roboh. Sungguh nikmat dan haru, katanya. Allah belum mencabut napasnya dan menghentikan umurnya, namun masih diberiNya kesempatan merasakan sebuah kiamat kecil dengan mata kepalanya sendiri.

Tapi itu daerah bencana, bukan daerah aman seperti di sudut Paris van East Java ini. Tempatnya tenang, nyaman, damai. Meski tak sedingin waktu masa-masa TKnya dulu, di tempat ini tak ada halangan bagi siapapun untuk menjalankan salat, berpuasa, dan melaksanakan semua tuntunan agamaNya. Tapi kenapa ada satu musala yang tampak ditinggalkan?

Dia menoleh kesana kemari. Penduduknya tak berkecukupan untuk bersedekah demi masjid? Mungkin saja. Tak punya waktu mengurusi masjid karena cukup banyak tuntutan cari makan dan mengurus anak? Mungkin juga. Tak ingin berprasangka lebih jauh, dia putuskan saja bersedekah. Dia buka dompet, nyatanya hanya dua lembar uang seratus ribuan di dalamnya. Ya sudah, dia selipkan salah satunya ke dalam kotak infaq. Entah berapa lama lagi kotak infaq ini dibuka. Kalau beruntung, mungkin sampai empat kali jumatan kotak ini akan dibuka. Kalau tidak beruntung, mungkin dua kali hari raya baru dibuka.

Hatinya gundah ketika menyaksikan Matos, dan tentunya, mall-mall sejenis di kota asalnya, Surabaya. Begitu megah, gemerlap, dan berwarna! Tapi lihat tempat salatnya. Ada sebuah ruangan kecil di bawah tangga, kalau tidak di dekat gudang, atau kalau beruntung di dekat toilet parkiran, dibentangkan karpet yang dibordir gambar masjid, lalu di pintu masuknya digantungkan tulisan “musala”. Tiap selesai wudhu kadang Anda harus memaklumi diri sendiri jika bersentuhan dengan lawan jenis yang keluar setelah selesai salat.

Inikah cerminan negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia?

Sebagai perbandingan, berikut beberapa foto yang berhasil ditangkap oleh teman saya di belahan bumi pada tiga puluhan lintang utara.

changi airport prayers room copy

Seharusnya ada banyak bentuk dan macam masjid dan musala yang sudah bagus. Beberapa kesaksian teman, salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta tempat salatnya sudah sangat memadai. Sayangnya tidak ada arsip fotonya di sini.

Sungguh indah bila negeri yang memiliki jumlah muslim terbesar di dunia ini memberikan perhatiannya terhadap masjid. Masjid, musala, langgar, atau semacamnya bukanlah tempat ritual semata. Justru di sanalah pusat pendidikan, pusat tarbiyatur-ruh wal-jasad, pembinaan mental dan fisik seorang muslim. Kawan tadi berkata, seorang muslim ibarat ponsel, maka masjid adalah chargernya.

Semoga kita termasuk hamba yang hatinya terpaut pada masjid, yang selalu muncul getaran hebat untuk menyejahterakan masjid, meramaikannya, dan melestarikan tarbiyah seperti yang Rasul kita lakukan. Hamba yang apabila melintasi masjid, ingin rasanya menunaikan salat meskipun hanya sunnah dua rakaat. Karena Allah menjanjikan surga untuk kita.

… .

“Ada tujuh golongan hambaku yang dijamin Allah masuk surga. Yakni pemimpin yang adil; dua orang yang saling mencinta karena Allah, bertemu karena Allah, dan berpisah karena Allah; seorang hamba yang menolak dirayu oleh lawan jenisnya seraya berkata, “Tidak, saya takut kepada Allah”; seorang hamba yang menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui yang disedekahkan oleh tangan kanannya; seorang hamba yang berzikir kepada Allah secara sembunyi-sembunyi, dan air matanya berlinang karena takut kepadaNya; dan hambaku yang hatinya terikat pada masjid.”

… .

(Daripada berpikir untuk ngebom, lebih baik tenaga, waktu, dan materinya diamal-jariyahkan untuk masjid. Setuju, Kawan?)

Advertisements